Ayam yang Lebih Besar

‎Hari ini, aku makan ayam krispi yang lebih besar.
‎Tak seperti biasanya, siang tadi aku tidak 'njajan' apapun selagi menunggu Raka terapi. Hanya sebotol sinom dingin yang dinikmati berdua. Kami sama-sama mengantuk, sama-sama lelah. Bisa sampai di tempat terapi tanpa mata terpejam di atas motor saja sudah bersyukur. Sepertinya, bahu suamiku membiru karena kucubiti selama perjalanan.
‎Kepalaku pusing, perutku sakit. Jadi untuk menelan makanan saja rasanya enggan. Akhirnya kami memilih tempat paling pojok untuk sekedar meluruskan punggung dan memejamkan mata.
‎Suamiku cepat sekali tertidur. Namun aku tidak bisa memejamkan mata. Pusingnya mengganggu.
‎"yang, kurang lima menit lagi," bilangnya, berniat membangunkanku.
‎Aku menoleh seolah menegaskan kalau aku tidak tidur.
‎"Lumayan, ketliyep." Deretan giginya menunjukkan kalau ia cukup senang bisa terlelap sebentar. Meksipun sebenarnya suara ngoroknya terdengar cukup keras dari belakang kepalaku.
‎Aku hanya mengangguk, malas bersuara.
‎"Nanti tumbas apa?"
‎"Sakkerso, pun."
‎"Geprek ta? Soto?"
‎"Geprek, boleh. Tapi yang di samping sini." Aku menunjuk gang di Utara alun-alun.
‎"Oke. Beli dua nanti. Beli soto juga buat anak-anak."
‎Lega rasanya tak harus memikirkan harus masak apa sepulang nanti.
‎---***---
‎"Mas, aku yang besar, ya." Dua ayam krispi kupanaskan di wajan. Meskipun bagiannya sama, dada, tapi ukurannya berbeda. Semenjak menikah dengan mas, aku belajar untuk bilang 'ingin yang besar' jika aku ingin yang besar. Bukan sebaliknya. Bukan diam-diam mengalah.
‎"Bebas wis, yang."
‎Yeay!
‎Kucentong nasi yang baru matang dua kali. Ku ratakan di piring agar cepat dingin.
‎Kayak kebanyakan, ya. Pikirku. Jadi kukembalikan setengah centong ke magic com dan menyiapkan ponselku, menampilkan drama yang sedang ku tonton. Kuambil peyek udang dan terong sisa sarapan tadi pagi. Anak-anak dengan ayahnya, jadi aku bisa makan dengan tenang.
‎Sesuap, dua suap. Memang nikmat sekali rasanya makan ketika lapar itu. Hingga nasi tinggal setengah, suapanku melambat. Lambungku rasanya sudah menyisakan sedikit tempat untuk makanan yang kutelan selanjutnya. Namun sayang sekali jika tak dihabiskan. Nekat, kusobek sedikit demi sedikit ayam krispi yang masih sebesar bola bekel.
‎Selalu ada lauk yang tersisa tiap kali aku makan. Entah karena ingin menikmati yang enak di akhir, atau karena sudah terpatri doktrin, "kalau makan lauknya jangan banyak-banyak." Yang jelas, sering sekali aku merasa bersalah jika makan lauk tanpa nasi.
‎Hingga akhirnya, aku menyerah. Lambungku sudah terlampau penuh.  Rasanya makanan masih antri di kerongkongan. Jika kupaksakan, aku mungkin akan muntah. Dengan berat hati, aku tak menghabiskan makananku.
‎Seharusnya aku pilih yang satunya saja. Gumamku saat melihat ayam krispi bagian suamiku.
‎---***---
‎Dari ayam krispi sore ini, aku jadi belajar satu hal. Sesuatu yang lebih besar belum tentu berarti lebih baik, kalau ternyata tidak sesuai dengan kemampuan kita.
‎Mungkin begitu juga dengan banyak hal dalam hidup. Kita sering merasa harus mendapat lebih, lebih banyak rezeki, lebih tinggi jabatan, lebih besar pengaruh, lebih tinggi derajat. Padahal, barangkali setiap orang sudah punya porsinya masing-masing.
‎Yang menjadi masalah bukan ketika kita menginginkan lebih. Tetapi ketika keinginan itu membuat kita mengambil sesuatu yang bukan bagian kita, bahkan dengan cara-cara yang tidak semestinya.
‎Sebab pada akhirnya, yang terlalu banyak pun harus kita cerna. Dan kalau tidak mampu, ia hanya akan menjadi sesuatu yang membuat kita sesak.
‎Hari ini aku bahkan tidak sanggup menghabiskan ayam yang kupilih sendiri karena ingin yang lebih besar.
‎Mungkin memang begitulah manusia. Kadang baru tahu bahwa porsinya sudah cukup, setelah merasa terlalu kenyang.
Wallahua'lam.

Kredit cerita: empat hari yang lalu

Komentar

Postingan Populer