Untuk-Mu Allah


Karna mata itu tidak mencoba melihatmu
Biarkan saja pelangi bibirnya berguru angin lalu
Tinggalkan saja tutur pisaunya yang meratakan sembilu
Dan gerai saja ucapnya yang melawan serdadu asamu
Karna telinga itu tak mencoba mendengarmu
Redam saja letihmu dengan rangkaian senyummu
Usap saja jerihmu dengan senandung lagu
Dan lepas saja kesalmu dengan menutup matamu
Karna hati itu tak mencoba merasakanmu
Sapalah ia dengan mengetuk pintu harapanmu
Ajaklah ia mengintip semerbak jingga harapanmu
Dan berikan ia harapan merekah dengan simpul kasihmu
Karna ia belum tau,
Kamu tak harus berguru pada kelabu.
An071116
Ingatan itu memang masih ada
Kelebatan rasapun masih mengintip dibalik tirai kalbu
Hilang? Tidak. Ia hanya pernah tertutupi
Lambaian tanganmu pun masih tersambut
Ah, apakah kamu memanggilku?
Sejenak, rasa mengalahkan pantangan
Mungkin 'yang ingin kujaga' menampakkan cemburunya
Entahlah. Ia selalu tampak sedih saat perhatian ini teralihkan
Lembaran bisikankupun terkadang terabaikan
Empedu rasanya terkalahkan paitnya terlupakan
Perlu gelombang waktu yang besar untuk meredakan amarahnya
Ah, karna itulah aku berdiam di bawah temaram
Selangkah, dua langkah dan tiga langkah
Muara-Nya seakan membuka mataku
Untukku, untukmu, Dia sudah menyiapkan semuanya
karna itulah ikhlasku melepaskanmu
dan ikhlasku dilepas olehmu
percayakan Tuhan dengan janji dan rahasia-Nya
An230916
Si A: Lihatlah layang-layang itu
Ia tertepa angin kalut
Ia tertabrak merpati cemberut
Ia tertutup gelapnya kabut
Bahkan senyumnya carut marut
Bukankah seharusnya kau tawari ia es serut?
Biar hatinya tak lagi mengkerut
Si B : Lihatlah layang-layang itu
Angin menyapanya dalam sendu
Merpati menghampirinya tuk berguru
Kabutpun membandingkannya dengan harapanmu
Bahkan senyumnyapun tak pernah berlalu
Bukankah seharusnya kau dekatkan dirimu?
Biar hatimu tak membiru
Layang-layang: Lihatlah mereka yang melihatku
Tatap mereka beradu tak tentu
Bahkan bertanyapun tak berlaku
Padahal kebenaranku hanya aku yang tau
Terimakasih angin, karna menjaga imbangku
Terimakasih merpati, karna menawarkan senyum untukku
Terimakasih kabut, karna menghalangi tangisku
Dan terimakasih kamu yang memegang taliku, karna masih mempertahankanku
Caramu menjagaku, WOW banget! 😊
#hastag, kamu.😄
Aku terbangunkan desah angin
Belaian lembutnya bak sentuhan ibu
Terik surya menyapaku lagi
Namun sang merpati mengepakkan sayapnya pergi
Sedang aku masih terpatri di sini
Menatap kejamnya fatamorgana duniawi
Lihatlah bangunan angkuh itu!
Tingginya seakan melahap langit
Keberadaannya tlah menyita kuasaku
Ch, seakan ia lebih berharga dariku
Lihatlah antrian mobil bermerek itu!
Kilaunya hendak saingkan purnama
Suara klaksonnya bak terompet tahun baru
Kepulan asap knalpotnya kalahkan persahabatan atom oksida
Ah, seakan bumi tak akan runtuh saja karena mereka
Dan hanya akulah yang bisa menyelesaikannya
Lihatlah aku!
Aku yang berdiri tegap pertahankan singgahsanaku
Meski makanpun aku terseok
Meski langkahpun tak dapat menjangkau dahaga
Dan meski kepulan asap mengepung gerakku
Aku tetap bertahan
Umur tlah menggerogoti tubuhku
Tapi aku harus bertahan
Kutanggung tugasku karena pinta Tuhan
“nyalakan apinya, dan segera bakar mereka”
Suara manusia itu beriring dengan rasa panas tubuhku
Ranting-rantingku mulai menggeliat ketakutan
Daun-daunku berteriak pilu
Warna mereka pucat karna racun manusia
Dan aku, hanya bisa menitikkan air mata
Sesal karena adaku tak sungguh diharapkan
Sesal karena adaku tak sungguh berarti
*Puisi ini telah diterbitkan dalam 'Antologi Puisi' bertemakan 'Hutan' oleh 'Penerbit Genom'
Keluh tak lagi terpapar
Hiraukan lelah sudah rutinan
sedang Alas harapan selalu terbentang
Untuk darah yang bernafas samar
Laraskan kehadiran dengan tawa
Awan… janjikah menaunginya?
Masa tak bisa tertata
Arah waktu tak bisa terdiam
Rengkuhan kasih kan terlampau ingatan
Kau yang simpanku dalam dekapan
Hendakkah pisahkan zaman?
Urus langkah saja ku tak kuasa
Melodi suaramu arahkan angan
Alunan tawamu damaikan rasa
Hidup tanpamu, sanggupkah?
Ingkarkan duka dalam tatap
Belai jemarimu selalu teringat
Untuk engkau yang sembunyikan air mata
Kilau deraimu masih terlihat
Usut bibirmupun tertangkap sangat
Tinggal hati yang kan dekatkan
Elok kasihmu dibalik tamparan
Risaumu dibalik kebebasan
Ceraikanlah sedih dalam sukma
Inilah rangkaian yang tercipta
Nuansakan nurani yang terdalam
Tuk sang pemilik surga di bawah telapak kakinya
Akan kutitipkan cinta ini pada goresan
Malang, 26 Januari 2016
*puisi ini telah diterbitkan dalam 'Antologi Puisi' bertemakan 'Ibu' oleh Writing is Amazing Publisher
Aku masih ingat
Saat tangan kekar itu merengkuhku
Saat peluh masih mengalir dan baunya menusuk hidungku
Namun senyummu tak pernah lusuh
Aku masih ingat
Saat nasihatmu berbalaskan amarahku
Saat tuturmu tak kuindahkan di telingaku
Namun lelahpun kau tak pernah mengadu
Ayah, apakah kau ingat?
Saat pintaku adalah tuntutan untukmu
Sedang inginmu hanya pengabaianku?
Bahkan kasihmupun aku tak pernah tau
Ayah...
Masa tlah membuka tatapku
Perlihatkan kasih yang kau sembunyikan dibalik waktu
Sadarkan kerinduan yang kau selipkan dibalik diammu
Kini, bolehkah ku harap maafmu?
Kujanjikan diri kan selaraskan asamu
Ayah...
Sebaris kata yang tak pernah kuucapkan untukmu...
Aku mencintaimu...
#puisi ini telah diterbitkan oleh IDM Publishing
Berjalan perlahan bukan berarti tak sanggup untuk berlari lebih cepat. Terkadang, terlalu banyak hal kecil yang terabaikan saat kita terburu-buru untuk mencapai apa yang kita inginkan.
Bahkan lukisan awan juga tak akan tampak tanpa kamus “perlahan” 😄
a.n 300316
#jalankaki
#edisibanbocor
#ditemani_sangAwan
Terkadang, kamu datang dengan seulas senyum disisi awan
Terkadang, kamu juga datang dengan salam yang tak terduga hingga membuatku tersentak
Dan pernah juga kamu hadir tanpa isyarat yang nyata.
Aku tak tau pasti kenapa mereka berlari seakan ketakutan karenamu.
Takut basah? Atau khawatir penampilan yang tak lagi kan sempurna?
Padahal kehadiranmu adalah sebuah amanah.
Bahkan kamu juga menyucikan jiwa tanah yang terabaikan.
Kamu seperti magnet untuk sang akar untuk mendekat.
Kamu bahkan candu untuk ranting yang tak terjamah.
Sekali-kali kamu harus menjelaskan pada mereka yang membencimu tanpa alasan. OK, hujan??
Janji??
a.n 28032016
#untukSangHujan☺
#edisikehujanan😄
Only girls with a thousand words
Copyright © 2013 Tulisane Anna .