Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Januari 2018

Untuk-Mu Allah

Allah...
Ikat tanganku.
Agar ia tak memegang handphone lebih sering dibandingkan memegang tasbih.

Allah...
Tutup mataku.
Agar ia tak melihat gemerlap dunia yang lebih terang dan buta akan saudara seiman yang kesulitan

Allah...
Kunci bibirku.
Agar ia tak selalu mengeluh seakan Engkau tak memperdulikanku

Allah...
Pegang hatiku.
Agar tak dapat kuberikan pada selain-Mu
Biarlah Engkau seorang yang memilikinya

Allah...
Izinkan aku melangkah mendekati-Mu
Izinkan aku kembali pada-Mu

Selasa, 05 Desember 2017

Menyindirmu, Bulan

Hasil gambar untuk gambar bulan malam
Bulan…
Kau tau saat ini aku tengah menatapmu sinis?
Kau pamerkan terangmu hingga memakan temaram, itu baik.
Namun, sadarkah jika kau telah menyisihkan bintang-bintang disampingmu agar hanya dirimu saja yang tampak?
Banyak sekali mulut yang menyanjung terangmu, dan kau berbangga?
Padahal cahyamu hanya biasan dari mentari di belahan seberang dan bintang-bintang yang kau jarakkan.
Kau angkuh sekali bulan.
Mungkin telah banyak mata yang terlena dan mengagumimu, tapi tidak termasuk aku.
Dirimu tak ubahnya hanya sebongkah materi yang dapat menyerap cahaya.
Layaknya manusia yang hanya sebongkah tanah, namun dengan kepala penuh kelicikan.

Seharusnya kau segera bangun dan tersadar.
Sebelum tatapanku semakin tajam.

Nur Jannah, S
Subuh, 051217

Sabtu, 25 November 2017

Celotehan Untukmu, Guruku

Mungkin ini hanya celotehan belaka
Dari seorang murid yang kau bantu menaiki tangga.
Waktu memang bisa memakan usia, tapi jasa tak bisa melebur begitu saja.
Kau ajarkan kehidupan, kau tenangkan resah karena ancaman zaman. Kau bantu langkah kaki ini mendekati impian. Sejengkal demi sejengkal, dengan keringat amanah.
Tak luput juga kau kenalkanku dengan Allah dan rasul-Nya. Kau tanamkan cinta pada Islam di jiwa. Kau serukan jihad, tak harus dengan darah.
Jika rasa terimakasih bisa di ucapkan dengan tulisan, bukankah tak ada yang istimewa dari sebuah perjuangan?
Namun, dengan apa lagi kubisa sampaikan kekaguman? Mungkin hanya sebaris kata yang mewakilkan perasaan.
Terimakasih untuk semua pengorbananmu, guruku.

Nur Jannah, S

251117

Selasa, 07 November 2017

Hujan (bukan) Kenangan

Hasil gambar untuk hujan dan kucing

Aku tak tau, kenapa hujan sering kali diartikan sebagai kenangan.
Selain kenangan, ia bisa juga menjadi air mata.
Bukankah sejatinya hujan datang sebagai kasih sayang?
kenapa ia malah menjadi simbol luka?

Mungkin ia datang untuk menyapa rumput kering dipinggir jalan yang tak pernah kau perhatikan
atau untuk memeluk tanah gersang yang selalu kau sesalkan sembari menyumpah
atau mungkin ia datang untuk mengisi sumurmu yang tinggal sejengkal
Hujan mungkin datang untuk sekedar memandikan kucing liar yang tak pernah pergi ke salon perawatan
Siapa yang tau?
Seharusnya kalian bertanya sebelum menetapkannya sebagai terdakwa.
Karena hujan tak pernah mengabarkan kedatangannya.

Begitupun dengan rasa.
Ia datang tanpa mengetuk pintu.
Tiba-tiba saja tanpa sadar, ia telah duduk manis di singgahsana hatimu.
Tak tau kapan ia masuk, sedangkan mengusirnyapun kau tak mampu.
Hanya mengintip di sudut kerinduan, akankah ia menyapamu dalam ikatan yang ditetapkan oleh-Nya.

Nur jannah, S
071117

Senin, 06 November 2017

Satu

Kenapa?
Kalut menggempar menyeruakkan keadaan
Tanah mengambang menyesakkan kehampaan
Ranah damai melenggangkan persamaan

Kaki terpatri pada kerah tak berdasar
Tangan tergenggam pada pena tak bertinta
Mata terpaku pada kabut tak tergambar
Dan resah terbungkam pada rinai yang tak terjamah

Sisakan senyum itu.
Sisihkan taring yang merengek tanpa arah.
DIA satu.
Dan rindang kasih yang samar menyatukan kita.

An051116

Jangan Menyukaiku


Jangan menyukaiku tanpa mengenalku, karena kamu akan tertipu.

Jangan menyukaiku dengan menumpukan harapan-harapanmu padaku, karna kamu akan menyesali pilihanmu.

Jangan menyukaiku karena tulisanku, karena bisa jadi itu hanya palsu.

Jangan berharap terlalu jauh, karena aku hanya semu yang berbekal rindu.

~Nur Jannah, S~

Aku Pamit

Aku pamit.

Kalimat yang ingin sekali kukatakan padanya. Padanya yang tlah lalu namun tak kunjung berlalu.
Tapi sayangnya rasaku bak benalu yang sulit lepas dari inangnya. Ia selalu berhasil melumpuhkan hasratku yang mencoba untuk terlepas dari bayangnya.

Aku pamit.

Hanya dua kata, namun berhasil membuat hatiku bergemuruh. Seakan ada pertarungan besar di sana. Pertarungan antara merelakan ataukah mempertahankan.

Dia adalah orang pertama yang menduduki singgahsana hatiku, pun meruntuhkannya. Seseorang yang kuharapkan menjadikanku yang terakhir. Seseorang yang kuharapkan setiap doa dalam sholatnya, akulah yang mengamini di belakangnya.

Namun, akankah harap tersampaikan tanpa ucap?
Akankah doa bersua di sepertiga malam?
Dan akankah ada pertemuan dalam akad?

Aku telah menunggu, namun kakiku sudah mulai lelah. Karena itu, haruskah kukatakan "Aku pamit" padanya?
Meskipun aku dan dia tak pernah bertamu. Hanya bertemu.
Yah, hanya saling mengetuk pintu lewat tatapan kalbu.


Nur Jannah, S
230917

Sabtu, 18 Februari 2017

Haruskah?

Haruskah kusangsikan rantai yang mengikat?
ataukah kusisihkan tangan yang memegangnya?
Jalanku sudah tertatih.
Haruskah kau pasungkan diriku dengan dalih ke-hambaanku?
Mungkin kau memang rudal.
Yah. Hanya Mungkin.
an170217

Alpha-ku

Ah, banting keras kelapa itu
biar batoknya menentang kerasnya tanah
biar airnya membanjiri lubang semut
biar darahku tak meraung-raung
Ah, lempar saja kerikil itu
biar sentaknya kagetkan remaja yang memadu kasih
biar luruhnya meeregangkan jarak cacing tanah
biar jariku tak mencerca amarah
Ah, bahkan kepada-Mu apakah berani ku-alphakan diriku?
an170217

Dia Ada

Seperti saat kamu menatap malam.
apakah kamu meragukan keberadaan rembulan saat mentari menggantikan keberadaannya?
apakah kamu meragukan keberadaan rembulan saat malam pekat menutupinya?
bukankah kamu tetap percaya kalau rembulan itu selalu ada?
Yah, dia ada di sini. Tepat di dalam hatimu.
an170217

Hanya Emosi

Sajakku pedih
sepedih fans Yusuf yang menguliti jarinya
Sajakku merah
semerah laut nil yang mnelan kepala sang durhaka
Sajakku pahit
sepahit empedu cumi-cumi yang disembunyikan karang
Sajakku membara
semembara cinta yang kali pertama terasa
Sajakku mengalir
semengalir perih yang tertusuk jarum lisan
Yah. Sajakku hanya tentang emosi.
sefrustasi keong yang keluar dari cangkangnya.

an170217

Senin, 07 November 2016

Kelabu

Karna mata itu tidak mencoba melihatmu
Biarkan saja pelangi bibirnya berguru angin lalu
Tinggalkan saja tutur pisaunya yang meratakan sembilu
Dan gerai saja ucapnya yang melawan serdadu asamu

Karna telinga itu tak mencoba mendengarmu
Redam saja letihmu dengan rangkaian senyummu
Usap saja jerihmu dengan senandung lagu
Dan lepas saja kesalmu dengan menutup matamu

Karna hati itu tak mencoba merasakanmu
Sapalah ia dengan mengetuk pintu harapanmu
Ajaklah ia mengintip semerbak jingga harapanmu
Dan berikan ia harapan merekah dengan simpul kasihmu

Karna ia belum tau,
Kamu tak harus berguru pada kelabu.

An071116

Kamis, 29 September 2016

💌


Aku bukanlah perempuan hebat
Kujadikan laut sebagai harapanku
Kujadikan mentari sebagai pelukanku
Dan kujadikan merpati sebagai sayapku

Aku bukanlah perempuan pemberani
Yang menantang langit di atas gunung
Yang menantang karang di dasar laut
Dan menantang hujan di bawah terik

Aku bukanlah perempuan kuat
Kupinjam kelam untuk sembunyikan deraiku
Kupinjam laut tuk jabarkan rinduku
Dan kupinjam angin tuk bisikkan namamu

Kamu...
Aku adalah perempuan yang hanya bisa menggoreskan tinta di atas lembaran
Aku adalah perempuan yang hanya bisa membahasakan kalbu
Dan aku adalah perempuan yang hanya bisa menunggumu menjemputku

Untukmu...
Masihkah doa kau salurkan untukku?

An290916

###



Gak serius gitu bacanya. Emang udah tugasnya orang yang suka nulis buat emosional dan jadiin orang emosional.😄😁


Minggu, 25 September 2016

Ikhlas (Di-Me) lepas (oleh) kamu

Ingatan itu memang masih ada
Kelebatan rasapun masih mengintip dibalik tirai kalbu
Hilang? Tidak. Ia hanya pernah tertutupi
Lambaian tanganmu pun masih tersambut
Ah, apakah kamu memanggilku?
Sejenak, rasa mengalahkan pantangan

Mungkin 'yang ingin kujaga' menampakkan cemburunya
Entahlah. Ia selalu tampak sedih saat perhatian ini teralihkan
Lembaran bisikankupun terkadang terabaikan
Empedu rasanya terkalahkan paitnya terlupakan
Perlu gelombang waktu yang besar untuk meredakan amarahnya
Ah, karna itulah aku berdiam di bawah temaram
Selangkah, dua langkah dan tiga langkah
Muara-Nya seakan membuka mataku
Untukku, untukmu, Dia sudah menyiapkan semuanya

karna itulah ikhlasku melepaskanmu
dan ikhlasku dilepas olehmu

percayakan Tuhan dengan janji dan rahasia-Nya

An230916

Selasa, 13 September 2016

Kisah Layangku

Si A: Lihatlah layang-layang itu
Ia tertepa angin kalut
Ia tertabrak merpati cemberut
Ia tertutup gelapnya kabut
Bahkan senyumnya carut marut
Bukankah seharusnya kau tawari ia es serut?
Biar hatinya tak lagi mengkerut

Si B : Lihatlah layang-layang itu
Angin menyapanya dalam sendu
Merpati menghampirinya tuk berguru
Kabutpun membandingkannya dengan harapanmu
Bahkan senyumnyapun tak pernah berlalu
Bukankah seharusnya kau dekatkan dirimu?
Biar hatimu tak membiru

Layang-layang: Lihatlah mereka yang melihatku
Tatap mereka beradu tak tentu
Bahkan bertanyapun tak berlaku
Padahal kebenaranku hanya aku yang tau
Terimakasih angin, karna menjaga imbangku
Terimakasih merpati, karna menawarkan senyum untukku
Terimakasih kabut, karna menghalangi tangisku
Dan terimakasih kamu yang memegang taliku, karna masih mempertahankanku

Caramu menjagaku, WOW banget! 😊

#hastag, kamu.😄

Minggu, 04 September 2016

Adaku tak Berarti

Aku terbangunkan desah angin

Belaian lembutnya bak sentuhan ibu

Terik surya menyapaku lagi

Namun sang merpati mengepakkan sayapnya pergi

Sedang aku masih terpatri di sini

Menatap kejamnya fatamorgana duniawi

Lihatlah bangunan angkuh itu!

Tingginya seakan melahap langit

Keberadaannya tlah menyita kuasaku

Ch, seakan ia lebih berharga dariku

Lihatlah antrian mobil bermerek itu!

Kilaunya hendak saingkan purnama

Suara klaksonnya bak terompet tahun baru

Kepulan asap knalpotnya kalahkan persahabatan atom oksida

Ah, seakan bumi tak akan runtuh saja karena mereka

Dan hanya akulah yang bisa menyelesaikannya

Lihatlah aku!

Aku yang berdiri tegap pertahankan singgahsanaku

Meski makanpun aku terseok

Meski langkahpun tak dapat menjangkau dahaga

Dan meski kepulan asap mengepung gerakku

Aku tetap bertahan

Umur tlah menggerogoti tubuhku

Tapi aku harus bertahan

Kutanggung tugasku karena pinta Tuhan

“nyalakan apinya, dan segera bakar mereka”

Suara manusia itu beriring dengan rasa panas tubuhku

Ranting-rantingku mulai menggeliat ketakutan

Daun-daunku berteriak pilu

Warna mereka pucat karna racun manusia

Dan aku, hanya bisa menitikkan air mata

Sesal karena adaku tak sungguh diharapkan

Sesal karena adaku tak sungguh berarti

*Puisi ini telah diterbitkan dalam 'Antologi Puisi' bertemakan 'Hutan' oleh 'Penerbit Genom'

Goresan Cintaku

Keluh tak lagi terpapar
Hiraukan lelah sudah rutinan
sedang Alas harapan selalu terbentang
Untuk darah yang bernafas samar
Laraskan kehadiran dengan tawa
Awan… janjikah menaunginya?

Masa tak bisa tertata
Arah waktu tak bisa terdiam
Rengkuhan kasih kan terlampau ingatan
Kau yang simpanku dalam dekapan
Hendakkah pisahkan zaman?
Urus langkah saja ku tak kuasa
Melodi suaramu arahkan angan
Alunan tawamu damaikan rasa
Hidup tanpamu, sanggupkah?

Ingkarkan duka dalam tatap
Belai jemarimu selalu teringat
Untuk engkau yang sembunyikan air mata
Kilau deraimu masih terlihat
Usut bibirmupun tertangkap sangat

Tinggal hati yang kan dekatkan
Elok kasihmu dibalik tamparan
Risaumu dibalik kebebasan
Ceraikanlah sedih dalam sukma
Inilah rangkaian yang tercipta
Nuansakan nurani yang terdalam
Tuk sang pemilik surga di bawah telapak kakinya
Akan kutitipkan cinta ini pada goresan

Malang, 26 Januari 2016

*puisi ini telah diterbitkan dalam 'Antologi Puisi' bertemakan 'Ibu' oleh Writing is Amazing Publisher

Sebaris Kata Untukmu

Aku masih ingat
Saat tangan kekar itu merengkuhku
Saat peluh masih mengalir dan baunya menusuk hidungku
Namun senyummu tak pernah lusuh

Aku masih ingat
Saat nasihatmu berbalaskan amarahku
Saat tuturmu tak kuindahkan di telingaku
Namun lelahpun kau tak pernah mengadu

Ayah, apakah kau ingat?
Saat pintaku adalah tuntutan untukmu
Sedang inginmu hanya pengabaianku?
Bahkan kasihmupun aku tak pernah tau

Ayah...
Masa tlah membuka tatapku
Perlihatkan kasih yang kau sembunyikan dibalik waktu
Sadarkan kerinduan yang kau selipkan dibalik diammu
Kini, bolehkah ku harap maafmu?
Kujanjikan diri kan selaraskan asamu

Ayah...
Sebaris kata yang tak pernah kuucapkan untukmu...
Aku mencintaimu...

#puisi ini telah diterbitkan oleh IDM Publishing

Rabu, 30 Maret 2016

30 Maret 2016

Berjalan perlahan bukan berarti tak sanggup untuk berlari lebih cepat. Terkadang, terlalu banyak hal kecil yang terabaikan saat kita terburu-buru untuk mencapai apa yang kita inginkan.

Bahkan lukisan awan juga tak akan tampak tanpa kamus “perlahan” 😄

a.n 300316

#jalankaki
#edisibanbocor
#ditemani_sangAwan

Selasa, 29 Maret 2016

28 Maret 2016

Terkadang, kamu datang dengan seulas senyum disisi awan
Terkadang, kamu juga datang dengan salam yang tak terduga hingga membuatku tersentak
Dan pernah juga kamu hadir tanpa isyarat yang nyata.

Aku tak tau pasti kenapa mereka berlari seakan ketakutan karenamu.
Takut basah? Atau khawatir penampilan yang tak lagi kan sempurna?
Padahal kehadiranmu adalah sebuah amanah.
Bahkan kamu juga menyucikan jiwa tanah yang terabaikan.
Kamu seperti magnet untuk sang akar untuk mendekat.
Kamu bahkan candu untuk ranting yang tak terjamah.

Sekali-kali kamu harus menjelaskan pada mereka yang membencimu tanpa alasan. OK, hujan??
Janji??

a.n 28032016

#untukSangHujan☺
#edisikehujanan😄