Jumat, 07 Agustus 2026

Kaos Kaki

Hari itu, aku memastikan dua pasang kaos kaki sudah berada di tas yang ku bawa. Hari kamis dalam rentang dua minggu, selalu menjadi rutinitas kami untuk berkunjung ke Pandaan. Sudah terbayangkan agenda yang akan kami lakukan hari itu. Yah, aku akan mengajak anak-anak bermain ke playground. Tujuan pertama kami IDAKU, toko bahan kue yang di lantai duanya ada playground dan café. Meskipun harganya lumayan, tapi nyaman digunakan untuk quality time sembari melihat anak-anak bermain.

“nanti anak-anak main, kita bisa ngofray, yang,” ucap suamiku di perjalanan. Aku mengangguk mengiyakan, tidak sabar rasanya. Tapi siapa yang menyangka jika ternyata motorku tiba-tiba macet di tengah jalan. Jatah yang seharusnya dibuat untuk bermain dan menikmati waktu bersama, ternyata harus beralih dua kali lipat untuk memperbaiki motor.

“tidak apa-apa. Kita ke playground di jalan –-- saja, ya.”

Opsi yang tidak begitu ku permasalahkan, karena memang tujuan kami ingin membahagiakan anak-anak dengan bermain di playground. Dan lagi, tempat itu tidak sekali dua kali kami kunjungi. Aku juga pernah punya kartu member -meskipun hilang- dan selalu dikasih baru setiap kali berkunjung. Entah berapa kali penjaganya ganti, tapi malam itu, penjaganya masih sama seperti beberapa kali terakhir ke sana.

Seperti biasa, baru turun motor, Raka langsung lari ke mandi bola. Untung sebelum berangkat tadi, anak-anak sudah kupakaikan kaos kaki yang kubawa dari rumah. Karena aku tau, aturan main di playground harus memakai kaos kaki. Kalau tidak bawa, harus beli.

Aku mendekat ke meja kasir untuk membayar.

“eh eh, maaf pak, parkirnya di luar saja,” ucap penjaga itu. Aku menoleh dan melihat yang dimaksudkan ternyata suamiku.

“mboten bu, cuma nurunkan ini.” Suamiku mengklarifikasi sembari menurunkan Byakta yang memang berdiri di depan dan belum turun. Byakta langsung berlari dan bergabung dengan Raka. Kebetulan saat itu kami pelanggan pertama.

Oh, cuma salah paham.

Aku mengeluarkan dompet, sembari melihat Raka dan Byakta yang sudah berteriak kegirangan. Suamiku pergi membeli es dan jajanan.

“ada kartu member?” tanya penjaga itu.

“gak ada, bu. Hilang.”

“mau dikasih lagi?”

“mboten usah bu, tidak apa-apa.” Toh, aku ke sini jika ke Pandaan saja. Jadi menurutku tak perlu juga pakai kartu member.

“abuuuk-abuuuk, ku-at!” Panggil Byakta yang menunjukkan lemparan bolanya ke seluncuran atas lalu jatuh ke kolam. Ketika lemparannya gagal, bolanya jatuh keluar kolam. Jadi aku mengambil dan mengembalikannya.

“Byakta dilempar sebelah sana ya nak, biar gak keluar bolanya. Nanti banjir,” bilangku pada Byakta.

“huwaaaah!” Raka mengggoyang-goyangkan tubuhnya seakan membuat ombak bola. Beberapa bola ikut jatuh, dan aku mengambilinya.

“gak boleh dilempar keluar ya, dek!” Penjaga itu berdiri sambil mengambil satu bola yang jatuh di sampingnya. Lalu duduk kembali. Aku berusaha sounding ke Raka.

Tak mau kehilangan moment, aku mengeluarkan ponsel dan mengabadikan video anak-anak bermain. Satu anak kemudian ikut bergabung di mandi bola main seluncuran. Lagi-lagi mereka lempar-lemparan dan membuat ombak bola. Sebanyak bola yang terlempar, sebanyak itu pula aku mengambilnya. Tidak banyak sebenarnya. Karena yang gagal mengenai temannya, pasti akan terlempar keluar. Menurutku masih tidak masalah. Tapi ternyata tidak untuk si penjaga.

“adek gak boleh lempar-lempar ya. Lempar ke sana saja!”

Dan fokusnya hanya ditujukan untuk Raka. Sedangkan di situ tidak hanya Raka. Aku berusaha untuk memaklumi. Mungkin sedang Lelah saja.

“Raka mau main lompat-lompat? Di sana, yuk!” Aku merayu, dan Raka mau. Byakta akhirnya ikut juga bermain trampoline meskipun hanya melihat saja karena masih takut. Raka melompat-lompat senang. Dan lebih senang lagi saat terjatuh. Tiba-tiba saja satu anak yang tadi langsung menyusup dan menjatuhi Raka. Raka sempat kesulitan bangun sebelum akhirnya mendengar suara ibu dari si anak yang mengingatkan. Sepertinya ia baru datang entah darimana setelah menurunkan anaknya tadi. Aku tidak terlalu masalah. Mereka sedang bermain bersama, dan sedang belajar beradaptasi. Tidak apa-apa.

Byakta lalu menarikku ke ruangan belakang yang berisi permainan lego dan masak-masakan. Anak itu mengikuti Byakta dan mereka sepertinya sedang berusaha bermain bersama. Terjadi percakapan singkat antaraku dan ibu tadi seputar umur anak-anak yang ternyata sepantaran. Tapi aku tak bisa fokus karena harus memastikan Raka.

Raka kembali ke kolam bola. Khawatir jika ada bola yang keluar lagi, akhirnya aku mendekati Raka dan Byakta mengikuti saat melihatku tidak ada. Anak itupun juga terus mengikuti Byakta dan kembali ke kolam bola.

“eee-pas,” ucap Raka dengan wajah tidak nyaman. Ia turun dan ingin melepas kaos kakinya.

“tidak boleh mas Raka, harus pake kaos kaki. Coba tanya ibunya, gak boleh ya bu, kalau gak pake kaos kaki?” aku sengaja melibatkan penjaga itu untuk bisa mengajarkan aturan pada Raka.

“iya, tidak boleh.”

Tapi Raka tetap tidak mau. Satu kaos kaki terlepas, tinggal satu kaos kaki yang kupegangi. Aku membawa Raka menepi, dekat dengan etalase kasir dan juga tempat duduk penjaga itu. Raka menarik tubuhnya, berusaha melepaskan kakinya. Penjaga itu ikut memegangi Raka yang menggeliat dari belakang. Siku Raka tak sengaja menyenggol jajanan di etalase dan membuat situasi mendadak panik. Saat satu kaos kaki akhirnya terlepas, Raka berusaha untuk lari kembali ke kolam bola. Aku menghadangnya dari depan, dan aku melihat penjaga itu menarik baju dan memegang tangan Raka.

Sontak, aku langsung menyergap Raka dan ‘mengurungnya’ dengan dua tanganku. Raka memberontak. Beberapa kali aku hendak terjungkal.

“ma-in, ma-in.” Raka merengek sembari terus berusaha keluar dari krekepan-ku. Aku juga terus berbisik untuk menyuruhkan pakai kaos kaki meskipun sebenarnya aku lebih terkejut dengan apa yang dilakukan penjaga itu. Terlintas dibenakku, apakah aku harus menjelaskan kondisi Raka?

“gak boleh main kalau gak pake kaos kaki. Saya diawasi CCTV!”

Deg. Sayatan kecil yang sedari tadi kutekan perlahan melebar dan langsung menjalar ke seluruh tubuhku. Kukira ini tentang membantuku meregulasi emosi Raka, tapi ternyata tidak semua orang se-empati yang kupikirkan. Pikiranku mendadak kacau. Antara menahan Raka agar tidak lari ke kolam bola, menghubungi ayahnya agar segera pulang, dan memahami kondisi orang dewasa yang saling lirik-lirikan. Benarkah semua ini hanya karena kaos kaki?

Aku langsung mengangkat Raka keluar. Mataku sudah memanas. Aku tidak malu, sungguh. Tapi hatiku sakit. Perlakuan penjaga itu seakan memberikan pukulan jika anak-anak seperti Raka memang tidak diterima oleh mereka. Aku tidak mengasihani diriku sendiri, tapi aku sedih dengan keadaan Raka yang tidak pernah dimintanya. Saat melihat motor ayahnya baru berhenti, aku sungguh bersyukur dan langsung minta pulang.

“pulang?”

Wajah suamiku terkejut, tapi lebih terkejut melihat wajahku. Raka kuberikan pada ayahnya yang belum turun dari motor. Tanpa sepatah katapun, aku kembali ke dalam mengambil kaos kaki dan dompetku lalu mendekati Byakta yang sudah akrab dengan anak tadi. Aku menarik napas panjang untuk mengembalikan akalku sebelum bicara pada Byakta.

“Byakta, maaf ya, nak. Kita pulang, ya. Itu sudah ditunggu ayah.”

Aku merasa bersalah sekali pada Byakta yang bingung karena tiba-tiba diajak pulang. Kita bahkan belum lima belas menit di sana. Tapi aku tidak bisa tetap tinggal dan pura-pura tidak terjadi apa-apa. Terimakasih sekali, sungguh terimakasih sekali karena Byakta dengan wajah bertanya-tanya tetap menjulurkan tangannya dan mau keluar dari kolam bola. Air mataku hampir jatuh.

“maaf ya, bu.” Kata penjaga itu sambil memberikan balon yang memang pasti diberikan setelah puas bermain. Permintaan maaf, tapi kenapa tidak terasa sama sekali? Apa hatiku yang sudah penuh?

“ya.” Jawabku tanpa menoleh sedikitpun.

Beberapa pembelaan masih berputar di kepalaku. Aku bahkan membayar, tidak gratis. Aku mematuhi aturan dengan memakaikan kaos kaki. Aku mengawasi dan mendampingi anak-anakku bermain. Apakah kaos kaki bisa dijadikan alasan untuk memutus kebahagiaan seorang anak? Apakah CCTV bisa dijadikan dalih untuk menghancurkan hati seorang ibu?

Marah. Sedih. Kecewa. Hari itu aku memutuskan untuk tidak akan pernah menginjakkan kaki di playground itu lagi. Sekalipun penjaganya ganti, ingatan tentang hari itu akan selalu berputar. Dan aku tidak mau itu terjadi. Aku harus menjadi tempat paling aman saat dunia belum mampu memahami Raka.

0 komentar: