Kaos Kaki
Hari itu, aku memastikan
dua pasang kaos kaki sudah berada di tas yang ku bawa. Hari kamis dalam rentang
dua minggu, selalu menjadi rutinitas kami untuk berkunjung ke Pandaan. Sudah terbayangkan
agenda yang akan kami lakukan hari itu. Yah, aku akan mengajak anak-anak
bermain ke playground. Tujuan pertama kami IDAKU, toko bahan kue yang di lantai
duanya ada playground dan café. Meskipun harganya lumayan, tapi nyaman
digunakan untuk quality time sembari melihat anak-anak bermain.
“nanti anak-anak
main, kita bisa ngofray, yang,” ucap suamiku di perjalanan. Aku mengangguk
mengiyakan, tidak sabar rasanya. Tapi siapa yang menyangka jika ternyata motorku
tiba-tiba macet di tengah jalan. Jatah yang seharusnya dibuat untuk bermain dan
menikmati waktu bersama, ternyata harus beralih dua kali lipat untuk
memperbaiki motor.
“tidak apa-apa. Kita
ke playground di jalan –-- saja, ya.”
Opsi yang tidak
begitu ku permasalahkan, karena memang tujuan kami ingin membahagiakan anak-anak
dengan bermain di playground. Dan lagi, tempat itu tidak sekali dua kali kami
kunjungi. Aku juga pernah punya kartu member -meskipun hilang- dan selalu
dikasih baru setiap kali berkunjung. Entah berapa kali penjaganya ganti, tapi malam
itu, penjaganya masih sama seperti beberapa kali terakhir ke sana.
Seperti biasa,
baru turun motor, Raka langsung lari ke mandi bola. Untung sebelum berangkat
tadi, anak-anak sudah kupakaikan kaos kaki yang kubawa dari rumah. Karena aku
tau, aturan main di playground harus memakai kaos kaki. Kalau tidak bawa, harus
beli.
Aku mendekat ke meja
kasir untuk membayar.
“eh eh, maaf
pak, parkirnya di luar saja,” ucap penjaga itu. Aku menoleh dan melihat yang
dimaksudkan ternyata suamiku.
“mboten bu, cuma
nurunkan ini.” Suamiku mengklarifikasi sembari menurunkan Byakta yang memang
berdiri di depan dan belum turun. Byakta langsung berlari dan bergabung dengan
Raka. Kebetulan saat itu kami pelanggan pertama.
Oh, cuma salah
paham.
Aku mengeluarkan
dompet, sembari melihat Raka dan Byakta yang sudah berteriak kegirangan. Suamiku
pergi membeli es dan jajanan.
“ada kartu
member?” tanya penjaga itu.
“gak ada, bu. Hilang.”
“mau dikasih
lagi?”
“mboten usah bu,
tidak apa-apa.” Toh, aku ke sini jika ke Pandaan saja. Jadi menurutku tak perlu
juga pakai kartu member.
“abuuuk-abuuuk, ku-at!”
Panggil Byakta yang menunjukkan lemparan bolanya ke seluncuran atas lalu jatuh
ke kolam. Ketika lemparannya gagal, bolanya jatuh keluar kolam. Jadi aku
mengambil dan mengembalikannya.
“Byakta dilempar
sebelah sana ya nak, biar gak keluar bolanya. Nanti banjir,” bilangku pada
Byakta.
“huwaaaah!” Raka
mengggoyang-goyangkan tubuhnya seakan membuat ombak bola. Beberapa bola ikut
jatuh, dan aku mengambilinya.
“gak boleh
dilempar keluar ya, dek!” Penjaga itu berdiri sambil mengambil satu bola yang
jatuh di sampingnya. Lalu duduk kembali. Aku berusaha sounding ke Raka.
Tak mau
kehilangan moment, aku mengeluarkan ponsel dan mengabadikan video anak-anak
bermain. Satu anak kemudian ikut bergabung di mandi bola main seluncuran. Lagi-lagi
mereka lempar-lemparan dan membuat ombak bola. Sebanyak bola yang terlempar,
sebanyak itu pula aku mengambilnya. Tidak banyak sebenarnya. Karena yang gagal
mengenai temannya, pasti akan terlempar keluar. Menurutku masih tidak masalah.
Tapi ternyata tidak untuk si penjaga.
“adek gak boleh
lempar-lempar ya. Lempar ke sana saja!”
Dan fokusnya
hanya ditujukan untuk Raka. Sedangkan di situ tidak hanya Raka. Aku berusaha
untuk memaklumi. Mungkin sedang Lelah saja.
“Raka mau main
lompat-lompat? Di sana, yuk!” Aku merayu, dan Raka mau. Byakta akhirnya ikut
juga bermain trampoline meskipun hanya melihat saja karena masih takut. Raka
melompat-lompat senang. Dan lebih senang lagi saat terjatuh. Tiba-tiba saja satu
anak yang tadi langsung menyusup dan menjatuhi Raka. Raka sempat kesulitan bangun
sebelum akhirnya mendengar suara ibu dari si anak yang mengingatkan. Sepertinya
ia baru datang entah darimana setelah menurunkan anaknya tadi. Aku tidak
terlalu masalah. Mereka sedang bermain bersama, dan sedang belajar beradaptasi.
Tidak apa-apa.
Byakta lalu
menarikku ke ruangan belakang yang berisi permainan lego dan masak-masakan. Anak
itu mengikuti Byakta dan mereka sepertinya sedang berusaha bermain bersama.
Terjadi percakapan singkat antaraku dan ibu tadi seputar umur anak-anak yang
ternyata sepantaran. Tapi aku tak bisa fokus karena harus memastikan Raka.
Raka kembali ke kolam
bola. Khawatir jika ada bola yang keluar lagi, akhirnya aku mendekati Raka dan
Byakta mengikuti saat melihatku tidak ada. Anak itupun juga terus mengikuti
Byakta dan kembali ke kolam bola.
“eee-pas,” ucap
Raka dengan wajah tidak nyaman. Ia turun dan ingin melepas kaos kakinya.
“tidak boleh mas
Raka, harus pake kaos kaki. Coba tanya ibunya, gak boleh ya bu, kalau gak pake
kaos kaki?” aku sengaja melibatkan penjaga itu untuk bisa mengajarkan aturan
pada Raka.
“iya, tidak
boleh.”
Tapi Raka tetap
tidak mau. Satu kaos kaki terlepas, tinggal satu kaos kaki yang kupegangi. Aku membawa
Raka menepi, dekat dengan etalase kasir dan juga tempat duduk penjaga itu. Raka
menarik tubuhnya, berusaha melepaskan kakinya. Penjaga itu ikut memegangi Raka yang
menggeliat dari belakang. Siku Raka tak sengaja menyenggol jajanan di etalase dan
membuat situasi mendadak panik. Saat satu kaos kaki akhirnya terlepas, Raka
berusaha untuk lari kembali ke kolam bola. Aku menghadangnya dari depan, dan
aku melihat penjaga itu menarik baju dan memegang tangan Raka.
Sontak, aku
langsung menyergap Raka dan ‘mengurungnya’ dengan dua tanganku. Raka memberontak.
Beberapa kali aku hendak terjungkal.
“ma-in, ma-in.” Raka
merengek sembari terus berusaha keluar dari krekepan-ku. Aku juga terus berbisik
untuk menyuruhkan pakai kaos kaki meskipun sebenarnya aku lebih terkejut dengan
apa yang dilakukan penjaga itu. Terlintas dibenakku, apakah aku harus
menjelaskan kondisi Raka?
“gak boleh main kalau
gak pake kaos kaki. Saya diawasi CCTV!”
Deg. Sayatan kecil
yang sedari tadi kutekan perlahan melebar dan langsung menjalar ke seluruh
tubuhku. Kukira ini tentang membantuku meregulasi emosi Raka, tapi ternyata
tidak semua orang se-empati yang kupikirkan. Pikiranku mendadak kacau. Antara menahan
Raka agar tidak lari ke kolam bola, menghubungi ayahnya agar segera pulang, dan
memahami kondisi orang dewasa yang saling lirik-lirikan. Benarkah semua ini
hanya karena kaos kaki?
Aku langsung
mengangkat Raka keluar. Mataku sudah memanas. Aku tidak malu, sungguh. Tapi hatiku
sakit. Perlakuan penjaga itu seakan memberikan pukulan jika anak-anak seperti
Raka memang tidak diterima oleh mereka. Aku tidak mengasihani diriku sendiri,
tapi aku sedih dengan keadaan Raka yang tidak pernah dimintanya. Saat melihat
motor ayahnya baru berhenti, aku sungguh bersyukur dan langsung minta pulang.
“pulang?”
Wajah suamiku
terkejut, tapi lebih terkejut melihat wajahku. Raka kuberikan pada ayahnya yang
belum turun dari motor. Tanpa sepatah katapun, aku kembali ke dalam mengambil
kaos kaki dan dompetku lalu mendekati Byakta yang sudah akrab dengan anak tadi.
Aku menarik napas panjang untuk mengembalikan akalku sebelum bicara pada
Byakta.
“Byakta, maaf
ya, nak. Kita pulang, ya. Itu sudah ditunggu ayah.”
Aku merasa
bersalah sekali pada Byakta yang bingung karena tiba-tiba diajak pulang. Kita
bahkan belum lima belas menit di sana. Tapi aku tidak bisa tetap tinggal dan pura-pura
tidak terjadi apa-apa. Terimakasih sekali, sungguh terimakasih sekali karena
Byakta dengan wajah bertanya-tanya tetap menjulurkan tangannya dan mau keluar
dari kolam bola. Air mataku hampir jatuh.
“maaf ya, bu.” Kata
penjaga itu sambil memberikan balon yang memang pasti diberikan setelah puas
bermain. Permintaan maaf, tapi kenapa tidak terasa sama sekali? Apa hatiku yang
sudah penuh?
“ya.” Jawabku tanpa
menoleh sedikitpun.
Beberapa pembelaan
masih berputar di kepalaku. Aku bahkan membayar, tidak gratis. Aku mematuhi
aturan dengan memakaikan kaos kaki. Aku mengawasi dan mendampingi anak-anakku
bermain. Apakah kaos kaki bisa dijadikan alasan untuk memutus kebahagiaan
seorang anak? Apakah CCTV bisa dijadikan dalih untuk menghancurkan hati seorang
ibu?
Marah. Sedih.
Kecewa. Hari itu aku memutuskan untuk tidak akan pernah menginjakkan kaki di
playground itu lagi. Sekalipun penjaganya ganti, ingatan tentang hari itu akan
selalu berputar. Dan aku tidak mau itu terjadi. Aku harus menjadi tempat paling
aman saat dunia belum mampu memahami Raka.







0 komentar: