Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Oktober 2020

Sesal

            “aku menyesal, kak.” Aku berkata seusai mendesah.

            “menyesal, kenapa?”

            “jika saja aku dulu memilih untuk menerima dan menjalani cinta lebih awal, mungkin saat ini sudah ada cincin yang melingkar di jariku.”

            Yah, permasalahan apalagi yang dihadapi oleh perempuan seumuranku jika bukan perihal pernikahan? ketika teman-teman yang lain bahkan adik-adik tingkat memasang foto berdua sambil memamerkan buku nikah, aku memasang foto dengan buku bacaan dan menulis caption tentang cerita.

            Kak Alfan terkekeh. “tidak masuk akal.”

            “lihat saja teman-temanku banyak yang menikah dengan pacar sendiri. Seandainya aku dulu menanggapi perasaan kak Denny atau kak Cagur, lalu pacaran dengan salah satunya. Lagipula mereka orang baik dan bersedia menunggu. Namun aku malah memberi mereka batas dengan dalih masih ingin fokus kuliah dan ingin tetap menjaga hingga waktunya. Seandainya, hanya jika bisa, aku dulu tidak sok-sokan menjaga diri demi orang yang bahkan sampai saat ini belum datang,” cerocosku dengan wajah kesal. Hatiku sudah menciut. Semangatku semakin surut.

            Namun bukannya segera menjawab, kak Alfan malah tertawa. “jadi, kamu menyesal karena tidak menyicil dosa lebih awal, gitu?”

            “ya bukan gitu. Tapi kan,” aku menggantungkan kalimatku karena memang tidak tau apa yang hendak kukatakan sebagai jawaban.

            Kak Alfan menaikkan alisnya. Ia tau aku tidak punya jawaban.

            “dengerin ya adekku yang sering goyah. Kenapa kamu harus iri dengan mereka yang memeroleh pasangan dengan jalan pacaran? Lalu kamu menyesal, karena telah memilih untuk menjaga diri hingga saat ini namun masih sendirian?”

            Aku terdiam. Mulutku hendak mengiyakan, tapi nuraniku berkata sebaliknya.

            “gini. Seperti kamu ingin melihat kebun bunga di seberang jalan. Hanya ada dua jalan untuk bisa ke sana. Jalan pertama adalah jalan lurus yang tidak memerlukanmu untuk berjalan jauh. Namun jalanannya dipenuhi lumpur se-matakaki. Jalan kedua adalah jalanan yang berliku. Jaraknya cukup jauh karena kamu harus memutar untuk bisa sampai di sana. Namun di sepanjang jalan itu ada sungai yang mengalir dan ikan-ikan yang berenang. Kamu, pilih mana?”

            Kedua? pertama? kedua? Aku berpikir memilih jalan yang mana. Namun semakin kupertimbangkan, pilihanku tetap sama. Aku mengangkat jariku menunjukkan angka dua.

            Kak Alfan tersenyum, bangga dengan jawabanku. “Begitupun dengan jalan ceritamu. Sekalipun tujuannya sama-sama melihat bunga, namun rasanya akan berbeda ketika kau melihatnya dengan kaki yang berlumpur dan bersih. Yah, perjalananmu memang lebih panjang, namun bukankah kau bisa belajar banyak hal dari perjalanan itu?”

            Untuk kesekian kalinya aku terdiam. Sesak karena menahan kesal dan tangis tadi, perlahan menghilang. Hatiku kembali tenang. (~snj)

 

Pasuruan, 17 Oktober 2020



Selasa, 27 Agustus 2019

Pada Kisah yang Pernah Part 2


  


          
“Jika kita menikah nanti, ayah ingin kamu di rumah saja. Tidak usah bekerja,” ucapnya sembari membenahkan letak pecinya yang tidak miring. Matanya bergerak ragu, hendak menatapku ataukah tidak. Bagiku hal itu terlihat lucu, namun apa yang baru saja ia katakan mengalahkan hasratku untuk tersenyum simpul.
            “kenapa?” aku meminta penjelasan. Ia terdiam, seakan apa yang baru saja ia katakan bukan murni keinginannya. Jika iya, tentu saja dia akan mudah membeberkan alasannya.
            “ayahku tidak ingin menantu yang bekerja.”
            “aku tidak menganggap mengajar itu sebagai pekerjaan. Bagiku pengabdian.” Aku meluruskan.
            “jadi kamu tidak mau berhenti?”
            Aku menggeleng, “aku akan berhenti jika yang kulakukan merugikan orang lain. Tapi jika yang kulakukan bermanfaat untuk orang lain, aku tidak punya alasan untuk berhenti.”
            “kamu tetap tidak mau berhenti meskipun nantinya aku, suamimu yang melarangmu?”
            “suami yang baik akan mendukung istrinya.”
            “dan istri yang baik akan menuruti suaminya.”
            Kami terdiam. Suasana membisu. Sepinya bahkan bisa membuatku mendengar dentingan jam dari arlojiku.
            “Mengajar adalah impianku sedari dulu. Ada rasa kepuasan tersendiri ketika membagikan apa yang kutahu kepada anak-anak. Aku merasa lebih berguna dibandingkan hanya diam saja di rumah. Sekalipun aku tidak bisa menghamba dengan sempurna, setidaknya aku bisa sedikit berkontribusi dalam semesta yang diciptakan Tuhan.”
“sekalipun orang tuaku ingin menantu yang diam di rumah, ngurusi rumah?”
“Kamu juga seorang guru, seharusnya kamu bisa mengerti perasaanku. Pengabdianku tidak bisa disangsikan. Kamu tau, aku bukan tipe wanita yang seperti itu.”
            “yah, karena kamu yang ‘bukan seperti itu’lah yang membuatku terpaku.”
            Hatiku berdesir. Ia tak lagi menunduk. Matanya menatap lurus padaku seakan mengisyaratkan kalau ia bersungguh-sungguh. Kurasakan wajahku mulai memanas. Jika saja ada cermin di sana, mungkin aku bisa melihat pipiku yang memerah. Tak bisa mengatasi tatapan tajamnya, aku langsung menunduk. Aku harus mengendalikan perasaanku. Aku dan dia belum pada posisi bisa saling menatap dengan bebas.
            “meskipun aku tak mengatakannya, aku tau kamu tau kalau aku berharap baik padamu. Keluargaku juga mendukungku bersamamu, kecuali ayahku. Aku berharap kisah ini bisa dilanjutkan pada jalan yang lebih hakiki. Dan aku percaya jika jalan itu adalah bersamamu. Tapi…”
            “Iya, aku tau. Tapi kau bilang, hasil istikhorohmu tidak tembus.”
            “sebenarnya ayahku yang melakukannya, bukan aku.”
            Aku tertegun. Apa yang baru saja ia katakan sungguh mengejutkanku. Terakhir kali ia bilang, ia yang melakukan istikhoroh dan Allah tidak memberikan jawaban. Kukira itu pertanda kalau ia tak benar-benar mengharapkanku. Tapi mengetahui kalau ternyata ayahnya yang memberatkan, ada berkas kecil yang mengintip dalam relungku membentuk harapan. Harapan bahwa selama ini ia tulus, padaku.
            “lalu bagaimana?” tanyanya.
            “apanya?”
            “kita. Aku ingin menghentikan pencarianku.” Matanya mengunciku, namun segera kutepis segala praduga yang bisa menggoyahkanku.
            “menikah tidak hanya tentang aku dan kamu, tapi tentang kedua keluarga. Bagaimanapun juga, ridho Allah ridho orang tua. Aku tidak mau kita tetap melanjutkan, tapi salah satu orang tua memberatkan. Mungkin karena itulah Allah tidak memberikan jawaban.”
            Kali ini, kami benar-benar saling menatap dengan nanar. Tidak ada yang berbicara kecuali hawa mendung yang semakin terasa.
            “percayalah, Allah telah menyiapkan jalan yang terbaik untuk ‘masing-masing’ kita,” ujarku dengan suara lirih. Aku khawatir jika mengucapkannya lebih keras, ia akan mengatahui bibirku yang bergetar menahan hatiku yang seakan diperas. Masih sakit, ketika akhirnya kami harus berpamitan kembali pada kisah yang baru saja dimulai.
           “jadi, kamu mau benar-benar pamit?” tanyanya.
Aku mengangguk. “tidak elok jika terus seperti ini.”
            Ia tertunduk. “baiklah. Aku mengerti.”
            “assalamualaikum ngge…”
            “waalaikumsalam, neng.”
Aku berdiri. Membalikkan badan dan berjalan menjauhi ia yang sepertinya menatap tengkukku dari belakang. Dalam hati aku berkali-kali berkata agar tak membalikkan langkahku kembali ketika ia memanggil, lagi.

Minggu, 18 Agustus 2019

Pada Kisah yang Pernah Part 1




            “aku istikhoroh, dan Allah tidak memberikan jawaban apa-apa,” ucapnya dengan wajah sedikit tertunduk. Angin menerbangkan ujung jilbabku. Dinginnya tiba-tiba menembus hatiku. Sepertinya angin itu adalah pisau, karena ia seakan menyayat samar hatiku. Ada luka yang terbentuk dan sedikit perih yang terasa. Aku menarik napas dalam. Berusaha mengendalikan perasaanku, lalu tersenyum.
            “kenapa kamu tersenyum?” tanyanya seakan heran dengan tanggapanku.
            “aku bersyukur karena Allah memberikan tanda akan kelanjutan kita.”
            “tanda bagaimana?”
            “tidak ada jalan. Allah tidak mengizinkan aku berjalan bersamamu.”
            “kamu tidak ingin berjalan bersamaku? Mengarungi masa depan bersamaku?”
            Aku terkekeh. “tentu saja ingin. Siapa yang tidak ingin menjadi makmum lulusan pesantren sepertimu? Seorang pengajar dengan sifat penyayang, putra seorang kyai dan sering diberikan amanah untuk menggantikan ayahnya, seorang laki-laki yang sangat menghormati dan menyayangi ibunya, seorang pemimpin grup sholawat dengan suara yang bisa menghipnotis kaum hawa, seseorang yang bertanggung jawab dan bekerja keras serta bermimpi besar dengan usaha yang ditekuninya, seseorang yang dia layaknya kumpulan dari doa-doa yang kupanjatkan.”
            Dia tersipu. Wajahnya memerah. Kulit putihnya adalah kelemahannya. Dan senyumannya adalah kelemahanku. Hatiku berdesir, namun aku harus segera menetralisir.
            “kamu juga baik. Aku bisa melihatnya meskipun baru dua kali bertemu dengamu. Kamu ramah pada setiap orang yang kau temui. Kamu sosok penyayang dan pengertian. Kamu juga lulusan pesantren. Bahkan kamu juga selalu menjadi bintang kelas mulai sekolah dasar hingga Aliyah. Kuliahmupun juga di bidang yang menurutku ekstrim dan uji nyali. Kakekmu adalah teman berjuang ayahku, yang berarti darah kakekmu yang memiliki darah kyai salaf juga ada padamu. Kamu anak berbakti yang menyandarkan keputusan kepada ayah dan ibumu. Kamu muslimah yang baik dengan selalu menjaga diri dan pandanganmu. Aku saja kesulitan saat mencoba mendekatimu selama masa ta’aruf. Kamu juga menyayangi pengabdianmu dengan mengajar di sekolah pesantrenmu dulu. Kamu juga bermimpi besar dengan melakukan banyak hal yang orang lain belum tentu bisa. Kamu adalah calon tiang Negara yang patut diperjuangkan.”
Mendengarnya membeberkan sebanyak itu, membuat bibirku terkunci. Mataku bergetar karena tak tau harus berkata apa. Sepertinya sekarang ganti aku yang berada di posisinya. Akhirnya suasana hening. Aku dan dia saling terdiam dalam sepi, tanpa bisa menebak apa yang berada di pikiran masing-masing. Sesekali terdengar deruan angin yang ikut berbisik. Sayangnya ia tak sedang menyampaikan rindu yang biasanya kutitipkan padanya. Semoga ia juga tak membeberkan doa yang selalu kulangitkan setiap malam untuknya beberapa minggu terakhir ini.
“lalu bagaimana?” tanyanya memecah keheningan.
“apanya?”
“tentang kita,
“kesimpulannya sudah berada di awal percakapan kita,”
“orang tuamu sudah setuju dan keluarga kita sudah saling mendukung,” ucapnya.
“tapi Allah tidak. Aku memang milik orang tuaku. Tapi segala kehidupan di dunia ini milik Allah. Kamu pasti lebih tau.”
Matanya menatap ke bawah, lalu mengangkat suara. “yah, kamu benar. Dan karena itu aku mengatakan hasil istikhorohku padamu.”
“iya, aku mengerti.”
Suasana hening kembali. Aku dan dia saling tertunduk. Bagaimanapun juga, pertemuan ini akan menjadi akhir dari kisah yang pernah kuharapkan menjadi awal. Siapa yang tau takdir Tuhan? Aku hanya bisa memasrahkan pada-Nya.
“kamu orang baik, aku yakin dengan pasti.” Ia mengangkat wajah, lalu tersenyum.
“begitupula denganmu,” balasku seraya menarik dua ujung bibirku ke atas sejauh mungkin. Tapi sepertinya aku hanya bisa mengangkatnya sedikit.
“salamkan maafku untuk kedua orang tuamu. Aku menyesal telah mengecewakan mereka. Aku juga menyesal karena tak segera bertanya pada Tuhan setelah pertama kita dipertemukan. Aku menyesal telah membuatmu menunggu lama yang pada akhirnya mengecewakan. Maafkan aku.”
“Insyaallah akan kusampaikan. Mereka akan mengerti. Mereka tau kesibukanmu serta kabar duka tentang adikmu. Maaf dariku dan keluarga padamu dan keluarga di sana. Meskipun kita tidak disatukan dengan ikatan pernikahan, kita tetap disatukan dengan persaudaraan Islam.”
“kamu benar.”
“kamu orang baik, semoga mendapatkan yang terbaik.”
“begitupun denganmu.”
“aku pamit ngge. Assalamualaikum.” Salamku, menutup akhir dari pembicaraanku dengannya. Ah, ini pembicaraan terakhir yang akan kulakukan dengannya.
Kubalikkan badanku hendak mengambil langkah menjauhinya sebelum aku mendengar jawaban lirih, “waalaikumsalam, neng.”
Sayatan yang tadinya samar tiba-tiba semakin jelas dan membesar. Perihnya tak tertanggungkan. Genangan di mataku tidak bisa terbendung lagi. Mereka jatuh satu persatu membanjiri pipiku dan membasahi kerudungku. Angin berhembus kembali, namun ia tak mampu menyisihkan dukaku. Saat ini aku hanya ingin mengadu pada Allah, berserah lebih pada-Nya. Menguatkan diri dari cinta-Nya yang kali ini berbentuk ujian, lalu mencintai-Nya lagi dengan sejatuh-jatuhnya. Agar kelak ketika aku bertemu dengan ‘ia’ yang benar-benar digariskan untukku, ada Allah sebagai alasannya.

Pada kisah yang pernah.

Senin, 29 Oktober 2018

Persembahan Rasaku Untukmu


            “mbak nafa, ini dapat kiriman.” Kata Sarah, yang mengahdapngku di depan kamarnya saat aku  hendak ke kamar mandi.
           “kiriman? Dari siapa?” aku balik bertanya. Seingatku, aku tak pernah memesan barang online sebelumnya. Aku juga tak punya saudara jauh yang berinisiatif memberiku kejutan haidah tiba-tiba. Lalu, kiriman dari siapa?
            “kurang tau mbak. Tadi pak posnya bilang buat mbak Nafa gitu.” Sarah menyodorkan kotak sedang berbungkus warna coklat. Kulihat nama dan alamat penerimanya, memang benar namaku. Naflah Fakhirah. Alamatnyapun memang alamat asrama ini. Saat aku melihat nama pengirimnya, keningku mengkerut.
Imam mustofa? Siapa?
Aku memutar otakku mencari-cari file nama ‘Imam Mustofa’ yang mengirimku paketan ini. Tapi, nihil. Aku tak teringat siapapun. Malahan aku tak pernah merasa punya teman ataupun kenalan bernama imam mustofa. Ah, siapa pula orang ini.
            “bener buat mbak nafa kan?” Sarah mencoba memastikan.
            “iya sih…”
            “ya berarti emang buat mbak.”
            “gitu ya?”
            Meskipun nama disitu memang namaku, aku jadi ragu kalau paketan ini memang untukku.
            “ya udah deh. Makasih ya sarah…”
            “yuhu mbak.”
            Akhirnya kutaruh paketan itu di kamar sebelum aku bergegas ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Adzan maghrib berkumandang, sedangkan aku masih belum mandi karena baru selesai kuliah.
---***----
            Kulemparkan sajadahku sembarang ke atas kasur dan langsung merebahkan punggung di sampingnya. Subhanallah, rasanya seperti terlentang di atas sakura yang berguguran. Lelah karena sejak pagi hingga sore bak bola pimpong yang dilemparkan kesana kemari, akhirnya aku bisa menikmati nyamannya kasur lantai kesayanganku. Mataku terpejam, menikmati setiap titik tulangku yang mulai meluruskan diri mereka sendiri. Lalu aku teringat paketan ‘misterius’ tadi.
            Paketan itu masih berada di atas lemari, tempat dimana aku pertama menaruhnya tadi. Kubolak-balik kotak itu berharap bisa menerka-nerka apa isinya. Sembari duduk di samping pintu, kubuka setiap lapis kertas yang membungkusnya hingga akhirnya aku tau apa isinya.
            “buku?” aku bergumam sendiri, karena aku memang sendiri sekamar. Menurutku, ini lebih nyaman dengan suasana hatiku yang tak karu-karuan mendekati ujian akhir. Banyak yang bilang, suasana kamar itu tergantung suasana hati. Jadi saat sendiri sekamar, aku tak perlu sungkan jika harus membiarkan kamarku berantakkan.
            Surat dari Masa Lalu
            Itulah judul bukunya. Sebuah Novel, ditulis oleh Alfan Asyfi. Tunggu. Alfan Asyfi? Seakan aku pernah mendengar namanya. Tapi dimana?
            Kubuka bungkus novel yang masih baru itu. Dari sampulnya, novel ini diterbitkan oleh salah satu penerbit mayor di Yogyakarta. Wah, hebat sekali bisa tembus mayor. Aku saja masih bisa menembus penerbit indie saja. Diterbitin oleh penerbit mayor, adalah salah satu impian terbesarku. Aku ingin menjadi penulis yang tulisannnya bermanfaat dan dikenal dunia. Beruntung bisa best seller dan dijadikan film. Ah, kuharap ada malaikat yang lewat dan mengaminkannya. Semoga.
            Tiba-tiba, ada telpon masuk. Dari nomor yang tak ku kenal. Akhir-akhir ini, nomor ini memang sering menghubungiku, tapi tidak kurespon. Aku memang orang yang paling malas kalau disuruh balas nomor asing. Lha saat telphon dan kuangkat, malah tidak ada suara. Kan jadi malas.
            Daripada mengganggu terus-terusan, mending kubilang saja untuk tidak menghubungiku lagi. akhirnya kutekan tombol jawab.
            “Assalamualaikum. Maaf,”
            “Assalamualaikum.” Suara dari seberang sana membuatku batal untuk menyampaikan maksudku untuk berhenti menghubungiku. Suaranya berat, dengan sedikit getaran di sana. Entah getaran karena apa. Mungkin dia tengah sakit tenggorokan.
            “wa-walaikumsalam,” akhirnya aku menjawab.
            “Nafa?” suara itu tampak tak asing, seakan aku pernah mendengarnya.
            “iya benar. Ini siapa ya?”
            “paketannya udah sampe?”
            Kulihat kertas bungkus yang masih berserakan di lantai.
            “oh, ini yang ngirim paketan? Imam Mustofa?”
            Suara diseberang cekikikan. Lhah, bukannya dijawab kok malah tertawa? Aku jadi bingung.
            “iya, imam pilihan.” Jawabnya dengan senyum yang masih tersisa. Aku langsung memasang wajah datar. Orang ini siapa sih? Maunya apa coba?
            “maaf, bisa jawab to the point aja? kalau tidak, saya tutup.” tegasku.
            “kamu masih sama seperti dulu.” Ujarnya.
            Baiklah, aku mulai kehabisan kesabaran. Aku tidak suka meladeni orang asing yang ngajak ‘berantem’ gini.
            “maaf, saya…”
            “kamu tidak ingat aku?”
            “bisa langsung sebutkan nama?”
            “aku Alfan Naf,”
            Alfan. Alfan. Alfan. Siapa?
            “Maaf, Alfan yang mana ya?”
            “kita pernah seorganisasi di Lembaga Kader Dakwah dulu.”
            Lembaga Kader Dakwah? MA dulu? Aku mencoba mengingat-ngingat, hingga akhirnya menemukan satu nama.
            “Masyallah! kak Alfan?? Kak Alfan ketua LKD dulu?” seruku bangga karena berhasil mengingat. Biasanya aku adalah pelupa parah. Jadi saat mengingat sesuatu, merupakan sebuah pencapaian yang harus kubanggakan sendiri.
            “Alhamdulillah, masih ingat.” Jawab kak Alfan.
            “oalaah, kok gak bilang tho? Kan jadi gak enak. Maaf ya kak…”
            “ya ini kan udah bilang.”
            “ya lebih awal dong…”
            “emang kenapa kalau lebih awal? Biar lebih ramah gitu?”
            “ya mungkin. Hehehe”
            “janganlah, jangan ramah-ramah. Nanti yang nelpon terpikat semua.”
            “eiiih,  apaan coba! Oh iya, ini kak Alfan yang ngirim paketnya? Kok atas nama imam mustofa? Trus, ini bukunya kak Alfan yang nulis ya?” tanyaku penasaran.
            “jawabannya ada di buku.”
            “ha? Maksudnya?” kulihat buku yang saat ini berada digenggamanku.
            “ya udah, jawabannya tak tunggu seminggu lagi ya.”
            “jawaban apa?”
            “baik-baik di sana. Wassalamualaikum.”
            Lalu telphon dimatikan, sedangkan kepalaku penuh tanda tanya. Apa maksud dari kak Alfan? Dan apa hubungannya dengan buku yang dia kirim?
Tepat dihalaman pertama, kubaca tulisan persembahan yang sangat mengejutkanku.
            Tulisan ini kupersembahkan untukmu yang telah menjadi kisah sebelumnya dan kuharapkan menjadi kisah setelahnya, di hadapan-Nya. Naflah Fakhirah.
            What?!?! Apa ini maksudnya?? Buku ini dipersembahkan untukku? Kenapa? Kok bisa? kak Alfan? Aku benar-benar terkejut. Antara percaya dan tidak percaya, kak Alfan menulis buku untukku? Aku benar-benar tak habis pikir hingga kuselami setiap baris kata di depanku seketika. Hingga akhirnya aku faham, buku ini bercerita tentang perjalanan rasa kak Alfan, kepadaku. Perasaan yang menunggu jawabannya seminggu lagi.

 Malang, 291018


Minggu, 28 Oktober 2018

LAST DAY


Hari itu, hari terakhir aku menghabiskan waktu di sekolah dengannya.
“LAST DAY”
Itulah nama acara kita hari itu. Acara yang memang dibuat untuk siswa-siswi kelas XII sebagai perpisahan. Ah, betapa benci aku dengan kata terakhir dan perpisahan. Aku masih ingat, ketika hari terakhir UNAS, aku dan dia bertemu di lorong sekolah. Tidak seperti sebelum-sebelumnya, yang jika ingin bertemu salah satu memberi surat atau menitip salam terlebih dahulu. Tapi kali ini seakan kita tau kalau masing-masing dari kita harus bertemu terlebih dahulu sebelum pulang.
“jadi, ini hari terakhir?” tanyaku seraya menatapnya. Ia hanya balas menatapku tanpa mengatakan apapun. Sedetik, dua detik, tiga detik, ia tersenyum kecil lalu mengangguk. Sedangkan aku menunduk. Namun, karena tak mau tampak jelas jika aku sedih, akhirnya kuangkat wajahku dan tersenyum. Berusaha tersenyum lebih tepatnya.
“kamu, lancar?” tanyanya. Kuangkat kedua bahuku. Ia tersenyum. Lalu suasana hening kembali. Selama yang kuingat, baru kali itu aku dan dia tampak kikuk. Tak tau harus bicara apa. hanya terdiam, saling memandang sambil sesekali melihat hiruk pikuk teman-teman yang lain di sekitar kami. Tentu saja, ini adalah akhir dari perjuangan mereka di bangku SMA. Siapa yang tidak bahagia? Kecuali aku tentunya. Kebahagiaan karena telah menyelesaikan ujian, tidak lebih besar dari kesedihanku harus berpisah dengannya. Keheningan diantara kami pecah saat ada teman sekelasnya yang mulai menggodaku dan dia. Kami tertawa-tawa dan ikut membuat kebisingan. Ini hari terakhir, kenapa aku harus merusaknya dengan menunjukkan wajah tidak bahagia?
Sebelum pulang, ia memanggilku dan menghampiriku. Ia menimbang-nimbang dua kartu ujian di tangannya lalu memberikannya padaku. Aku terkekeh. Lalu kuberikan satu punyaku padanya. Sama seperti 3 tahun yang lalu, ketika aku juga mendapat kartu ujiannya di MTs.
Kembali ke acara Last Day.
Acara di dalam masih berlangsung, sedangkan aku memilih untuk melihat dari jendela. Yah, sebagai salah satu panitia aku memiliki beberapa tugas yang harus kuselesaikan dan kuawasi demi acara yang berjalan lancar. Ketika itu, dia menghampiriku. Berdiri di sampingku, tanpa mengatakan apapun. Beberapa saat, akhirnya kutolehkan kepalaku padanya seakan berkata, ‘baiklah, ada apa’.
            Ia mengeluarkan spidol dari saku celananya dan memberikan padaku. Kuangkat sebelah alisku.
            “kamu mau minta tanda tanganku?”
            “yaps!”
            Kulihat seragamnya masih bersih tanpa coretan sama sekali. Tapi dengan bodohnya aku masih bertanya, “dimana?”
            “di sini,” ia menunjuk sakunya yang tanpa bedge.
            “kenapa kok di saku? Istimewa ya? Dekat dengan hati?” ujarku berusaha menggoda.
            “iya,” jawabnya. Aku tertegun. Aku yang menggodanya, kenapa malah aku yang deg-degan? Secepat yang aku bisa, langsung kububuhkan tanda-tanganku disakunya.
            “kamu?”
            Kuberikan kerudung putih dengan pita pink di sekelilingnya pada Haidar. Kerudung yang baru saja kuambil dari asrama dengan lari-lari. Ini hari terakhir, aku juga harus bersiap-siap.
            Haidar mengambilnya. Namun bukannya menandatanganinya, ia malah membawa kabur kerudungku.
            “lhoh, kok dibawa kabur?? Tanda tangani!” ujarku dengan nada yang sedikit tinggi.
            “buat aku saja kerudungmu!”
            Yang benar saja! Masa ia mau pake kerudungku?!
            “kembaliin!” aku mencoba mengejar, tapi sungkan dengan teman-teman yang lain. Akhirnya aku memilih untuk membiarkannya. Haidar tersenyum penuh kemenangan.
---***---
            “ngapain?” tanya Haidar saat ia mendapatiku duduk di kursi kelas sebelah. Mungkin ia penasaran kenapa aku malah duduk di sini bukannya ikut acara.
            “gak ngapa-ngapain,” kututup diaryku yang tadi terbuka. Haidar melihatnya, lalu mengambil posisi di atas meja sampingku. Ia yang tinggi, membuatku tampak lebih kecil lagi. Biasanya, aku bakal langsung protes jika ia membuatku terlihat lebih pendek. Tapi tidak untuk saat ini. Aku lagi malas saja.
            Kami hanya terdiam tanpa berkata apapun, sedangkan pikiranku melayang entah kemana. Beberapa kali kulihat haidar melirikku, mungkin memastikan apakah aku sudah kembali pada diriku sendiri ataukah belum.
            “kamu kenapa?” tanyanya mencoba mengambil perhatianku.
            Jujur, saat itu aku benar-benar tidak tau apa yang sebenarnya kupikirkan. Kepalaku kacau. Karena sifatku yang memang terlalu pemikir, membuat masalah-masalah yang sebenarnya tidak terlalu penting ikut kalut di sana. Tentang apa yang akan kulakukan setelah kelulusan ini. Kuliah? Aku sudah hampir putus asa karena pendaftaran SNMPTN dan SP-PTAIN ku ditolak. Lalu kebimbangan apakah aku tetap di pesantren saja ataukah boyong? Dan lagi, perpisahan dengan Haidar. Aku masih belum yakin bisa berjalan sendiri tanpanya. Aku masih kejadian kemarin, saat ia ke Jakarta tanpa memberitahuku.
            “kamu dimana?” tanyaku. Padahal baru saja aku dapat kabar dari sahabatku kalau Haidar hari ini ke Jakarta untuk mengurusi regristasi penerimaannya di salah satu kampus negeri di Jakarta.
            Haidar diam. Tidak ada jawaban di sana.
            “kamu baik-baik aja kan?” Haidar malah balik bertanya.
            “kamu dimana?” kutanya lagi. Dalam hati, aku berharap kalau Haidar menjawabnya. Aku ingin dia bercerita yang sebenarnya padaku.
            “kamu gak papa?”
            “aku tau kamu dalam perjalanan ke Jakarta kan? kenapa gak bilang?”
            Ia diam lagi. Perasaanku sudah campur aduk. Kekhawatiranku semakin menjadi. Bagaimanakah dia? Apakah baik-baik saja? bagaimana jika terjadi apa-apa padanya?
            Tiba-tiba saja, aku terisak. Isakan yang langsung berusaha kusembunyikan.
            “aku gak mau seperti ini. Buat kamu khawatir.”
            Kembali pada Haidar dan aku yang berada di kelas.
            “yakin, gak mau cerita?” pancing Haidar.
            Aku menggeleng dan berkata, “aku harus berlatih untuk tidak bergantung padamu.”  Lalu tersenyum.
            Haidar membalas senyumku dengan ragu.
---***---
           Aku tengah berdiri di samping pintu ruang acara ketika kulihat semua panitia makan bersama seusai acara. Ah, masa-masa yang pasti kurindukan setelah ini. Melihat wajah tersenyum mereka membuatku ikut tersenyum. Kemudian aku melihat Haidar. Ada perasaan sedih yang menyusup diam-diam. Setelah ini, aku tak akan bisa melihatnya lagi. Kita tak bisa janji bertemu di perpustakaan dengan sesobek kertas lagi. Kita tak bisa berlomba-lomba berangkat pagi dengan manaruh bata di depan kelasnya lagi. Kita tak bisa bertukar karet gelang yang harus mengganti jika salah satu dari yang kita pakai putus. Kita tak bisa menyuruh yang lain untuk bertanggung jawab dalam mata pelajaran masing-masing lagi. Dia yang bertanggung jawab atas nilai bahasa inggrisku, aku yang bertanggung jawab atas nilai matematikanya. Kita juga tidak bisa tertawa bersama lagi. Kita tak bisa menyalahkan diri sendiri jika salah satu dari kita ada yang sakit. Aku juga tak bisa ia sembunyiin di balik tembok kelas lagi ketika ada guru yang lewat saat kelas sudah usai sedangkan ia masih ‘menyanderaku’ di sekolah. Ia juga tak bisa menggoda dan menjahiliku lagi. Tak bisa pula menitipkan sesobek kertas pada temanku yang berisikan ‘sandi’ yang sengaja ia buat khusus untukku katanya. Lalu berkata, ‘gak papa. Cuma seneng aja bisa liat kamu lagi’. Ah, aku bahkan tak bisa meyebutkannya satu persatu. Banyak kisah yang menjadi kenangan untuk diingat ketika bersamanya. Dan aku adalah orang yang paling sulit untuk melupakan kenangan.
            “Nafa! sini!” salah satu temanku memanggilku. Mengajakku makan.
            “iya, lanjutin aja!” balasku. Aku yang tak sadar jika Haidar sudah di depankupun membuat tertegun.
            “ayo ikut!” ajaknya.
            “gak usah. Makan aja dulu sana.”
            “ayo, kamu juga.”
            Aku tetap menolak. Seperti kehabisan kesabaran dan tak menerma penolakan, Haidar memegang lenganku, lebih tepatnya lengan bajuku dan menarikku. Mau tak mau akhirnya aku tergeret juga ke kerumuman. Teman-teman yang lain langsung memberikan space untukku dan Haidar. Karena tidak bernafsu makan, kujulurkan saja tanganku pura-pura mengambil nasi. Padahal aku tengah memperhatikan wajah-wajah yang setelah ini bakal jauh.
            Tiba-tiba, haidar menyenggol bahuku. Aku menoleh. Ia menjulurkan tangannya hendak menyuapiku. Aku langsung mundur.
            “kalau kamu gak makan, tanganku yang bakal datang.”
            Kupasang wajah cemberut padanya.
            “eh eh eh, kalian ini di tengah umum kok yaaa!” protes salah satu orang yang diikuti yang lain. Mendapati suasana yang tidak enak, ku serang ia dengan lirikan tajamku. Hebat sekali dia mengancamku dengan membuat orang lain salah paham. Jika kabar antara aku dan dia semakin parah, salahkan semuanya pada Haidar.
---***---

Selasa, 03 Juli 2018

(Bukan) Cinderella - Kehilangan Bross


Hasil gambar untuk cinderella islami            
Pukul 15.30 WIB.
            Kulirik jam di handphoneku dengan gusar sebelum kemudian beralih pada pintu yang masih belum terbuka.
            “kenapa mbak?” tanya Lia, teman sekelasku.
            “udah setengah empat,”
            “mau ke TPQ ya?”
            Aku mengangguk mengiyakan. Mataku sudah tidak fokus antara jam dan pintu rumah ustadz. Hatiku juga tidak tenang, khawatir anak-anak sudah datang dan menungguku.
            Yah, beberapa saat yang lalu aku memang sepakat dengan Lia untuk ke rumah ustadz sebelum ke TPQ, silaturrahmi. Tapi siapa yang menduga kalau ternyata pintu tertutup saat aku datang. Biasanya pintu rumah ustadz selalu terbuka. Jadi aku dan Lia menunggu di depan pintu setelah menekan bel. Sekitar 15 menit aku menunggu, namun tidak ada jawaban. Aku mulai curiga.
            Tanpa pikir panjang, kubungkukkan badanku agar bisa mengintip ke dalam rumah. Tidak sopan memang, tapi masa bodo lah, keburu waktu. Di dalam rumah gelap dan kosong, seperti tidak ada penghuninya.
            “ada apa mbak?” tiba-tiba suara laki-laki mengagetkanku. Sontak langsung ketegakkan tubuhku kembali. Pura-pura tidak bersalah. Lia terkekeh pelan. Kubulatkan mataku padanya.
            “maaf mas, ustadz ada?” Lia bertanya pada laki-laki yang biasanya membantu ustadz.
            “tadi sudah dihubungi?”
            Aku menepuk dahiku. Bodohnya!!!
            Aku memang sengaja tidak mengabari ustadz karena selama ini saat aku ke sana, ustadz selalu ada. Jadi aku dan Lia langsung berangkat saja.
            Aku dan Lia saling bertatapan lalu tersenyum kuda. Masnya ikut tersenyum.
            “sepertinya keluar semua mbak. Mau saya telphonkan?”
            Lia menatapku, meminta persetujuan.
            “aku harus berangkat. Aku sendirian Li…” ujarku dengan wajah memelas.
            “gak usah mas, makasih. Kapan waktu kita ke sini lagi, insyaallah.”
            “oh, iya mbak.”
            Setelah masnya masuk, aku langsung memacu motorku ke TPQ. Aku gak mau membuat anak-anak menunggu. Karena aku tau, menunggu itu melelahkan. (Lhah, jadi curhat). Namun seberapa cepat aku pake motor, masih saja dikira lambatnya teman-teman. Pernah suatu waktu aku dibonceng temanku dengen kecepatan kuda. Sudah kubilang aku takut, malah semakin di gas. Jadilah aku menutup mata selama di jalan, dan kalian tau pas turun? Yah, tanpa sadar nangis! Malu? tentu saja.
            Ada sedikit kelegaan ketika gang TPQ sudah terlihat. Agar segera sampai, jadilah kutambah sedikit gasku. Dan tanpa kuduga, tasku putus dan jatuh di jalan dengan suara berdebum!! Aku kaget dan langsung menepi, sedangkan tasku tertinggal di belakang. Beberapa orang yang berpapasan denganku tadi melihat ke arahku ketika ta situ jatuh. Duh, malunya. Memang sih, ta situ memang sudah putus. Karena tidak ada jarum di kos, jadinya aku pake bross buat ngaitin talinya. Salahku juga karena semua keperluan TPQ tak masukin disitu semua. Mulai dari absen, jilid-jilid, berkas-berkas, buku syahriyah, notaris dan lain-lain. Sangkaku biar kumpul di tas kecil itu semuanya. Jadi kalau mau berangkat, tinggal ngambil tasnya. Gak perlu bongkar-bongkar lagi. Makanya meskipun sudah putus masih tak pertahanin. (Entah kenapa pas nulis kalimat sebelumnya kok baper ya. Hahaha).
            Ketika hendak mengambil tasku, dari kejauhan ada seseorang yang membawa tasku dan berjalan ke arahku. Setelah mendekat, ia memberikannya padaku. Entah kenapa rasanya seperti di sinetron-sinetron. Hahaha
            “ini mbak, tasnya,” ucap lelaki itu dengan tersenyum.
            “iya mas, makasih,” jawabku dengan tersenyum juga. Tersenyum malu sebenarnya.
            “lain kali hati-hati,” lanjutnya.
            Ah, modus lelaki. Pikirku. Aku hanya mengangguk pelan lalu berjalan menuju motorku. Tak cukup waktu untuk membetulkan tali tasku, akhirnya ke selipkan saja tasku dengan jas hujan lalu segera memacu ke TPQ.
            Mereka pasti menunggu.
            ***
            “gak usah lari-lari kalau pulang. Nanti jatuh!” teriakku saat anak-anak berdesak-desakkan di pintu musholla demi pulang duluan. Padahal siapa yang keluar dari pintu duluan tidak menjamin akan sampai di rumah duluan. Ah, entahlah. Aku dulu mungkin juga seperti itu.
            Teringat tasku yang putus, akhirnya kuperiksa keadaan’nya’. Benar saja, talinya putus. Tapi tunggu, brossnya mana ya?
            “ah, mungkin hilang pas jatuh tadi,” simpulku dan mulai bersiap-siap pulang setelah membereskan semuanya.
            Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu musholla, seakan pintu rumah saja.
            “assalamualaikum,”
            Aku mendongakkan wajah.
            “waalaikumsalam?” jawabku dengan wajah yang bertanya-tanya. Ada apa?
            “ini bross kamu ya?”
            “eh?”
            Aku mendekat dan memicingkan mata. Bross hijau dengan bentuk daun itu, memang milikku!
            “soalnya tadi saya nemu di jalan pas tas kamu jatuh tadi.”
            “i-iya mas, itu punya saya.”
            Untuk kesekian kalinya, ingin rasanya kubungkus wajahku dengan kresek hitam.
            “kok tau saya di sini?” tanyaku penasaran.
            Lelaki itu tersenyum. Senyum yang mencurigakan. Jangan-jangan……….
            “motornya. Saya tadi liat parkir di depan.”
            “oh,” aku tertawa aneh.
            Saat itulah aku berpikir. Mungkin bukan Cinderella saja yang harus kehilangan sepatu kacanya lalu menjadi cerita. Siapa tau nanti ada selain Cinderella yang kehilangan bross lalu menjadi cerita?
            Hahaha. Imajinasi liarkupun mulai kemana-mana. Sedangkan laki-laki itu sudah pergi dari hadapanku.

Malang, 03 Juli 2018

Sabtu, 19 Mei 2018

Ketika Itu


Hasil gambar untuk muslim melamar kartun          
  “ISTI’DAADAN! PERSI-APAN!” komando Nafa dengan suara lantang.
            “SIAP!” jawab serentak anak-anak yang duduk berjajar di depannya.
            “BERDOA, MULAI!”
            Allahummarhamna bil Quran. Waj’alhu lanaa imaama wa nuuro wa huda wa rohmah. Allahumma dzakkirnaa minhumaa nasiina wa ‘allimna minhuma jahilna warzuqna tilaawatahu. Aana al laili wa athro fan nahaar. Waj’alhulana hujjata yaa robbal ‘alamiin. Subhanakallahumma wa bihamdika Asyhadualla ilaha illa anta astaghiruka atuubu ilaih.”
            “waassalamualaikum waraohmatullahiwabaokatuh!”
            Setelah menjawab salam, tangan-tangan mungil mulai menjulur di depan wajah Nafa  berharap agar di jabat terlebih dahulu sehingga mereka bisa langsung pulang. Ada beberapa pula yang saling adu dorong tidak mau berada di belakang.
            Nafa tersenyum. Dia selalu senang melihat tingkah lucu mereka. Meskipun seharian tadi berada di kampus dan berkutat di laboratorium, lelahnya serasa dihapuskan dengan candaan murid-muridnya.
            “gentian, gak boleh rebutan. Gak usah lari-lari. Jangan lupa diulang ngajinya di rumah.” Nafa berkomat-kamit mengingatkan. Setelah anak-anak, barulah ibu-ibu yang mengantarkan anaknya berpamitan.
            “makasih ya bu. Pamit dulu. Assalamualaikum,”
            “waalaikumsalam,” jawab Nafa seraya tersenyum. Ada kelegaan tersendiri tiap kali melihat anak-anak pulang dari mengaji. Seperti ada sedikit konstribusi yang ia berikan untuk dunia yang sudah penuh dengan caruk-maruk tidak kearuan. Ia hanya berharap agar murid-muridnya tumbuh menjadi orang yang sukses dan berguna bagi bangsa dan agama. Ah, doa yang klise bukan?
            Ia tengah memberesakan bangku yang telah digunakan untuk mengaji tadi, ketika ada suara salam yang diucapkan dari pintu.
            Dua orang laki-laki berdiri dan melihat ke arahnya.
            “wa’alaikumsalam?” Nafa menghampiri dengan kepala penuh tanda tanya. Siapa mereka? Ada keperluan apa? Apakah ada undangan lomba TPQ lagi seperti dulu?
            “boleh kami masuk dulu?”
            “silahkan,”
            Sebenarnya ia merasa tidak enak menerima tamu di musholla. Tapi mau bagaimana lagi? Menerima mereka dengan berdiri bukankah lebih tidak sopan lagi? Seenggaknya dia harus tau dulu apa kepentingan mereka. Dan kemungkinan besar tentang TPQ. Apalagi?
            “jadi? Ada keperluan apa ngge?” tanya Nafa.
            “perkenalkan, saya Haidar dan ini teman saya Zidan,” laki-laki berbaju kotak-kotak itu melirik temannya yang memakai baju putih.
            “saya Nafa,” balas Nafa mencoba ramah, meskipun rasanya canggung sekali. Entah karena ia yang memang tidak terbiasa berhadapan dengan laki-laki sendirian, ataukah ada hal lain yang membuat hawa di sini tiba-tiba aneh sekali.
            “ini mbak, temen saya mau ngomong sesuatu,” Haidar menyenggol lengan Zidan.
            Nafa menemukan gelagat yang berbeda. Entahlah, tiba-tiba saja ia merinding dan takut sekaligus.
           “maaf sebelumnya kalau sudah mengganggu waktu ukhti.” Pemuda bernama Zidan itu mengangkat suara. Suara yang entah kenapa sejenak membuat Nafa tercekat. Ada karisma di sana.
            “jadi, maksud kedatangan saya ke sini ingin bertanya beberapa hal pada ukhti. Apa ukhti, maaf, sudah menikah?”
            Deg! Pertanyaan macam apa itu? dan secara tiba-tiba!
            “apa saya terlihat seperti perempuan yang sudah menikah?” Nafa mencoba menjawab dengan guyonan. Padahal hatinya dag dig dug tidak karuan.
            Pemuda itu tertawa.
            “enggak kok, malah kelihatan seperti masih SMA,” timpal pemuda itu yang langsung disikut temannya yang bernama Haidar. Zidan istighfar, seakan mencoba mengembalikan kesadarannya kembali. Ia lalu melihat Nafa.
            “kalau calon?”
            “eh?” mata Nafa membulat, dan jantungnya memukul-mukul dari balik dadanya dengan keras. Ia sangat terkejut, sungguh! Apa sebenarnya maksud kedatangan dua pemuda asing ini?
            “maaf, sebenarnya ini ada apa ya?” Nafa mencoba bertanya.
            “boleh saya jelaskan di rumah ukhti saja?”
            “rumah saya? Maksudnya?”
            Pemuda itu tersenyum lagi. “boleh saya minta alamat rumah sama nomor hapenya? Insyaallah saya mau silaturrahmi ke rumah ukhti.”
            Tunggu! Silaturrahmi? Bukankah aku dan dia baru saja bertemu? Batin Nafa.
            Pemuda itu menyodorkan kertas.
            “saya kemarin-kemarin tanya sama ibu-ibu sekitar sini alamatnya ukhti, tapi tidak ada yang tau. Katanya ukhti bukan orang sini. Makanya itu saya nekad menanyakan langsung sama ukhti.
            Jujur, Nafa speechless!! Ia tidak pernah membayangkan akan dihadapkan dengan situasi yang seperti ini. Dia kira, setelah anak-anak pulang tadi, ia bisa segera balik ke kamar dan beristirahat. Tapi???
            “insyaallah saya tidak macam-macam kok ukhti. Saya cuma berniat baik.”
            Niatnya memang baik, tapi hati Nafa yang tidak bisa menerima dengan baik! Berkali-kali Nafa menenangkan hatinya, agar bisa lebih bijak dalam berpikir dan tidak terlalu ceroboh. Jika dilihat dari penampilannya, dia tampak seperti orang baik. Dari tutur katanyapun juga tidak ada sifat jahat. Dari sorot matanya, Nafa bisa tau kalau yang dikatakan pemuda itu memang tulus. Tapi tetap saja ia bingung.
            Entah kenapa Nafa menggerakkan jari menuliskan alamat rumahnya.
            “apa akhi tidak menanyakan pendapat saya dulu? Kita baru saja bertemu.”
            “Insyaallah nanti saya jawab semua di rumah ukhti.
            akhi belum mengenal saya,”
            “kita bisa ta’aruf setelah saya minta izin ke orang tua ukhti dulu.”
            Ini apa-apaan! Horror sekali!!! Saat itu yang berada di pikiran Nafa, bagaimana caranya agar bisa keluar dari sana! Ia benar-benar tidak siap! Urusan pemuda bernama Zidan itu, bisa dipikir belakang. Tidak baik diambil serius terlebih dahulu. Toh, ia juga belum tentu akan ke rumah Nafa ataukah tidak. Jangan-jangan cuma modus. Anggap saja seperti itu.
            “maaf, jika tidak ada yang ingin ditanyakan lagi, saya balik dulu.”
            “lhoh, nomornya gak ditulisin juga mbak?” Haidar berkata.
            “harus pake nomor juga?”
            “jaga-jaga kalau nanti kesasar pas ke sana,”
            Nafa mengambil kertas itu dan menulis deretan angka di sana.
085815 xxx xxx (Ayah)
            Lalu meninggalkan kedua pemuda itu setelah mengucap salam. Hatinya tidak karuan. Kepalanya bingung, tidak tau mana yang harus dicerna dan dipikirkan terlebih dahulu. Dalam perjalanan pulang ia teringat seseorang. Seseorang yang memberikan harapan masa depan bersamanya, namun tak kunjung menegaskan hubungan mereka. Berkata mengikhlaskan, tapi tak bisa melepaskan. Belum berani memastikan, namun masih mengikatnya. Dengannya yang saling menitipkan salam rindu lewat doa. Begitupun ikatan yang terlepas di bibir namun terikat dalam doa. Mungkin.
            Dalam lamuannya, ada harapan agar pemuda tadi tidak benar-benar ke rumahnya.



SNJ, 190518