Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 September 2020

Kenapa Orang Berbuat ........?

 

Kenapa orang berbuat jahat?

Pertanyaan itu kini berputar di kepalaku. Selama ini aku selalu meyakini jika kita berbuat baik, maka orang lain juga akan membalas baik, begitupun sebaliknya. Tapi sepertinya, hal itu tak menjadi hukum pasti dalam kehidupan. Tak selamanya saat kita berbuat baik, maka hanya baik yang bertandang. Kita harus menerima, kalau dunia sedang tidak baik-baik saja. Namun bukan berarti ketidakbaikan itu menjadikan kita tak lagi (berusaha) baik. Justru ketidakbaikan itu harus kita baiki agar menjadi baik. Setidaknya saat ada yang tak baik, maka kebaikan lain akan menjadikannya baik. Semoga.

Sepertinya kucukupi saja pembicaraan tentang ‘baik’ yang terlalu berputar-putar ini. Sengaja memang kebalikan dari kata baik hanya kutulis sekali pada awal kalimat, agar hanya baik yang mendominasi.

Baiklah. Semoga lekas membaik, kebaikan.

 

Salam,

~snj

Sabtu, 19 September 2020

Untuk Siapa?

 


Lebih baik dikecewakan daripada mengecewakan.

 

Setidaknya itulah pilihan yang akan kuambil jika diminta untuk memilih.

 

Dibandingkan menyakiti, aku lebih memilih untuk disakiti.

 

Kenapa? Entahlah, aku juga tak tau.

 

Aku memutar kepalaku, mencari-cari alasan kenapa aku selalu memilih pilihan yang seakan menyakiti diriku. Ketika melihat orang lain merebut kursi orang lain agar bisa duduk, aku memilih untuk tetap berdiri. Ketika orang lain berpesta membicarakan cacat orang lain, aku memilih untuk berdiam diri, sekalipun yang mereka bicarakan adalah diriku. Mungkin bagi sebagian orang aku adalah tipikal perempuan bermental korban karena tak berani membela diri sendiri. Namun jika aku melontarkan pembelaan hanya demi membenarkan diriku, untuk apa? Jika aku bersaing kursi hanya agar bisa duduk nyaman setelah mendorong yang lain, untuk apa?

Kenapa, mengapa dan untuk apa. Jika jawaban pertanyaan itu tidak bermuara pada Sang Maha, untuk siapa?

 

Yang masih terus bertanya,

~snj

Jumat, 18 September 2020

Mereka yang Meneladani Rasulullah

 


        Beberapa hari terakhir ini, jagad dihebohkan dengan insiden penusukan salah satu ulama di Indonesia, Syekh Ali Jabir. Setiap media sosial berisi tentang berita beliau. Beberapa menyampaikan kebenaran, namun kebanyakan penuh dengan judul ke-metaforaan. Namun, karena aku tak terlalu mengerti masalah hukum, biarkanlah itu menjadi urusan mereka para penegak hukum. Di tulisan ini, aku hanya ingin berbagi tentang teladan yang diberikan oleh beliau. Agar sebagian dari kita tak hanya ikut-ikutan melempar praduga tentang baduk yang sengaja dimainkan di atas papan catur.

            Sebenarnya aku tak terlalu mengikuti tausiyah Syekh Ali Jabir. Aku hanya tau beliau adalah salah satu mustami’ di salah satu acara hafidz di TV. Namun saat nama beliau menjadi trending topik di twitter, tentu saja aku penasaran ada apa? Dan saat membukanya, aku tak percaya dengan apa yang kulihat. Perasaan khawatir, sedih, marah, dan berbagai macam pertanyaan memenuhi pikiranku. Kenapa? Ada apa? siapa?

            Ketika aku melihat gambar beliau di salah satu video youtuber Indonesia, aku langsung meng-kliknya. Kukira gambar beliau hanya sekedar thumbnail saja layaknya video-video yang lain. Tapi ternyata di video tersebut beliau memang hadir di sana! Padahal hanya selang sehari setelah insiden penusukan. Akhirnya aku mulai menonton dan mendengarkan. Niatku tadi hanya ingin mengetahui kabar beliau, namun aku malah mendapatkan banyak hal dari beliau. Satu menit, dua menit, jariku tak menekan tombol mempercepat sekalipun. Biasanya jariku selalu stand by di tombol mempercepat, tapi berbeda dengan video itu. Aku tak mau melewatkan satu nasihatpun. Setiap uacap beliau, setiap tingkah beliau, adalah meneladani Rasulullah.

            Sebenarnya aku ingin sekalian menulisnya di sini, namun ada kewajiban yang harus kulakukan di dunia nyata. Jadi meskipun jariku ingin terus melanjutkan, aku harus mengakhirnya terlebih dahulu. Semoga saja penundaan ini, tak membuat hatiku menjadi tak ingin membaginya. Yah, apa yang bisa dilakukan jariku jika hatiku tak mau? terkadang ia memang bakhil. Tak semua rasa mau ia bagikan.

Jadi, jangan menunggu, karena aku tak pernah menyuruh.

 

Salam,

~snj

Minggu, 11 Agustus 2019

Setiap Pribadi Layak diperjuangkan




Pernah gak sih kalian berada pada posisi dimana kalian sangat menginginkan sesuatu, tapi  kalian tidak bisa mendapatkannya. Termasuk juga seseorang. Aku pernah, dan itu membuatku merasa seperti permen karet yang dibuang. Dimakan udah gak ada rasanya, dibuangpun juga mengganggu pemandangan. Belum lagi kalau keinjek atau kedudukan. Hhh. Pada intinya, aku merasa seperti keberadaanku sangat sia-sia dan tidak berguna. Kemudian aku mulai menjudge diriku sendiri dengan kalimat negatif yang semakin membuatku merasa seperti ‘sampah’. Berhari-hari aku hanya memikirkan betapa ‘sampah’nya diriku hingga aku merasa tidak punya hak untuk makan. Karena tidak makan itu lapar, dan rasa lapar lebih nyata daripada pemikiran absurdku, akhirnya aku mulai berpikir secara sadar (setelah makan). Hehehe. Aku mulai bertanya, “apa yang kulakukan pada diriku sendiri?” Jika saja dibuat judul, mungkin judulnya bakal begini, “diriku sendiri menyiksa diriku sendiri yang bukan diriku sendiri.” :D
Yah, aku sadar telah melakukan hal bodoh dengan menghakimi diriku sendiri karena harapan yang tidak sesuai dengan kenyataan. Aku memborbardir pribadiku dengan prasangka-prasangka tak berdasar. Kemudian aku menemukan satu kalimat dalam kebangkitan setelah keterjatuhanku karena kegagalan,
Setiap pribadi layak diperjuangkan.
Benar bukan? Setiap orang punya hal yang menjadikan mereka istimewa. Entah itu tentang sopan santunnya, kepintarannya, kebaikannya, sikap bersahabatnya atau mungkin tentang kecantikannya. Secara tidak sadar, kita menjadikan semua itu sebagai barometer ‘kesuksesan’ dalam memenuhi ekspetasi society kita. Kita mulai membandingkan diri dengan orang lain yang kita anggap ‘lebih’. Padahal, bukankah setiap orang diciptakan berbeda?  Tidak semua aspek harus kita miliki hanya demi memenuhi ekspetasi orang lain. Dan ketika salah satu dari hal tersebut missing dari kita, hal itu membuat kita merasa ‘kerdil’. Lalu kita mulai memetakkan diri sebagai kategori ‘manusia gagal’.
Secara pribadi, sebagai kaum hawa yang rentan dengan lirikan orang lain, memang tidak mudah. Misalnya saja tersenyum. Sedikit senyum, dikira judes. Banyak senyum, katanya genit. Sedangkan tidak ada ukuran pasti seberapa senyum yang dibilang wajar itu. Kali aja ada neraca yang bisa mengukur kadar wajar dalam tersenyum, sini aku mau beli. Hehehe.
Menuruti kata orang, ya gak bakal ada habisnya. Karena itu, kita yang harus mengubah cara pandang kita terhadap diri kita sendiri. Berhenti berlomba-lomba memaksakan diri agar sama dengan orang lain hanya demi dianggap ‘setara’ atau ‘lebih’ dalam pandangan orang. Mulai berdamai dengan pribadi sendiri dan sesekali ajak berbincang. Kemudian bertanya, apakah hari ini kau lebih baik dari hari kemarin? Jika jawabannya iya, maka itulah kesuksesan yang sesungguhnya. Jika kita saja tak bisa memperjuangkan diri kita sendiri, bagaimana dengan orang lain?
Jadi, sahabat-sahabatku semua, mari berlomba memperbaiki diri. Percayalah jika setiap orang itu istimewa. Kalian itu istimewa dan kalian layak diperjuangkan. ^_^

Salam,
Siti Nur Jannah

Rabu, 31 Juli 2019

Aku & Doa



            Aku pernah menghardik Tuhan, akan ketidaksesuaian nyata dengan doa yang kupanjatkan. Apa Dia tidak mendengar doaku? Atau Dia berusaha untuk mempermainkanku? Kata-Nya aku hanya musti berdoa pada-Nya, dan Dia akan mengabulkan segalanya. Apapun itu. Tapi saat apa yang terjadi tidak seperti keinginanku, apa Tuhan membohongiku?

            Seperti yang pernah terjadi.

            Aku berdoa karena seseorang. Kata-Nya, aku boleh meminta asalkan ia baik agamanya. Jadi aku meminta sedalam-dalamnya, semaksa-maksanya agar aku dijodohkan dengannya. Beberapa tanda sudah kusimpulkan. Mulai dari pertemuan yang tak sengaja dan tak terduga terduga (it's mean dipertemukan), tanggapan positif dari kedua keluarga, restu orang tua yang kontan (tidak sperti yang pernah-pernah datang sebelumnya), nasab yang jelas dan baik, apalagi agamanya yang tak diragukan lagi. Ditambah lagi hasil istikhoroh yang juga baik. Pokoknya dia itu bakal jadi imam yang ‘baik’lah. Yang paling terbaik bagiku saat itu. Seakan-akan jika bersamanya, aku akan menjadi wanita paling bahagia di dunia. Tak kurang-kurangnya aku mendesak Allah disepertiga malam, merayu-Nya melalui doa-doa bahkan dengan percaya dirinya kujadikan ia sebagai tulisan. Keyakinanku saat itu sudah 99%, didukung dengan tanda-tanda kalau aku dan dia hanya tinggal selangkah saja, yaitu khitbah. Namun kemudian, tiba-tiba saja Allah menghentikan langkahku. Pintu yang tadi terbuka lebar, tiba-tiba saja tertutup dengan keras. Siapa yang tidak terkejut? aku melirik sinis pada Allah dan bertanya “apa-apaan ini ya Allah!” Padahal Allah yang membuatku bertemu dengannya, menyelami sejenak harum cinta sebelum pernikahan dengan indahnya masa ta’aruf, menggetarkan hatiku tiap kali berdoa untuknya, lalu BLAK!! Allah menutup pintunya. Ada apa ini? apa aku sedang dipermainkan? Jangan ditanyakan betapa kecewanya diriku. Tentu saja kecewa sekali. Setelah menghardik Tuhan, aku mulai menyalahkan diriku sendiri. Begitulah. Saat ada sesuatu yang salah, aku seringkali menyalahkan diriku sendiri. Namanya juga kaget. Kaget itu hanya awalnya saja, kemudian juga (berusaha) normal lagi. Seperti hantu yang tiba-tiba saja muncul. Kaget kan? tapi kalau lama-lama dilihat juga bakal tenang sendiri. Right? Mungkin begitulah yang kurasakan.

            Sekarang, dengan pikiran jernihku akhirnya aku mulai menelisik setiap doa-doa yang kupanjatkan pada-Nya. Apa aku salah doa hingga Allah memberiku takdir ‘kegagalan’ dengan tidak berjodoh dengannya? Pikirankupun akhirnya terbuka, layaknya spongebob yang menemukan I-MA-JI-NA-SI nya.

            Aku ingat doaku. Jika menikah nantinya, aku ingin sekali bisa istiqomah sholat jamaah. Entah itu wajib atau sunnah. Menghabiskan subuh dengan tadarrus al-Qur’an, lalu bekerja bersama, pulang ketika anak-anak pulang sekolah, kemudian mengantarkan anak-anak mengaji dan diniyah, tadarrus dan belajar bersama selepas maghrib hingga isya, lalu menghabiskan waktu berdua setelah anak-anak tidur. Lalu aku teringat dia yang memiliki bisnis yang mengharuskannya untuk sering ke luar kota. Jika aku bersamanya, bukankah rencanaku itu hanyalah sekedar rencana? Mungkin saja bisa, tapi tak bisa istiqomah. Belum lagi waktu liburan, adalah moment paling menjanjikan untuk bisnisnya. Lalu bagaimana dengan menghabiskan waktu bersama anak-anak? Kemudian aku selalu berharap bersama sesorang yang bisa menjaga sholatnya. Sedangkan bisnisnya mengharuskan ia untuk ‘menerobos’ waktu sholat dan menggantinya dengan jamak qoshor. Memang diperbolehkan, tapi bukankah lebih utama sholat pada waktunya? Setelah itu, aku juga berharap pada seseorang yang memiliki perasaan yang sama tentang pendidikan terutama pengabdian ke romo kyai. Sedangkan ia, sepertinya lebih fokus pada bisnisnya daripada mengajarnya. Jika seperti itu, bukankah rasa cintaku pada pengabdian tak akan bisa dimengerti sepenuhnya? Ya bukannya aku berburuk sangka, tapi siapa yang tau? Dan lagi tipeku yang pencemburu dan khawatiran, tentu saja sangat ironis sekali dengan dia yang harus berinteraksi dengan banyak orang (pasti banyak perempuan-perempuan yang lebih dariku) dan menyusuri jalan hingga berhari-hari. Bagaimana mungkin aku tak banyak khawatir setiap harinya?

Lalu aku sadar. Allah tidak sedang mempermainkanku. Dia hanya mengabulkan doaku. Ia menutup pintuku dan dia karena Allah tau apa yang kuharapkan tak akan bisa kucapai jika bersamanya. Allah juga sedang menjaga hatiku dari rasa cemburu dan khawatir yang akan sering kurasakan jika bersamanya. Dan lagi, Allah benar-benar mencarikanku imam. Maksudnya imam secara dhohir dan batin. Bukan yang dhohir saja, bukan pula yang batin saja. Lalu kenapa Allah menjatuhkanku dengan mempertemukanku dengannya? Karena Allah hanya ingin tau seberapa besar aku mencintai-Nya. Seberapa besar keyakinanku pada-Nya. Mungkin kemarin aku terpuruk, tapi aku bersyukur karena Allah mengizinkanku untuk kembali menyadari bahwa setiap takdir yang ia berikan ada alasannya, yaitu doa.

Yah, Allah memang sedang mengabulkan doaku.

Jika doaku bukan dia, apakah kamu?



Bersama doa, 31 Juli 2019


Jumat, 12 Juli 2019

Pakaian


            

Pakaian.
            Pakaian berasal dari kata dasar pakai, yang artinya mengenakan. Sedangkan menurut KBBI, (sebentar tak carikan di google dulu), pakaian berarti barang apa yang dipakai seperti baju, celana dan sebagainya. Ooh, ternyata begitu ya artinya. Aku juga baru tau lho. Biasanya kita cuma bilang, ‘mau beli baju’ dan itu menyangkut semua jenis pakaian. Entah itu atasan, busana, gamis dan sebagainya. Tapi sebenarnya bukan itu sih inti yang ingin tak sampai-in. terlanjur bahas, ya udahlah. Kan sayang kalau misalnya harus dihapus setelah nulis kan? kalian bisa skip kok kalau males bacanya. Hehehe
            Baiklah. terserah saja mau bilang 'baju' atau 'pakaian', biar gak ribet. (Nyengir kuda).
            Oke, bicara tentang baju nih, pasti langsung kebayang toko yang terpajang baju dengan berbagai macam gaya dan mereknya, iya gak? Entah itu atasan, bawahan, rok, celana, gamis, busana, terusan, daster, baju koko, sarung daaaan lain sebagainya. Sama, aku juga. Hahaha. Apalagi jaman sekarang, model baju dari A-Z ada semua. Kalau misalnya ada huruf lagi setelah Z, pasti udah diterabas semua tuh. :D
            Memang tidak bisa dipungkiri, baju yang kita akan akan mempengaruhi cara pandang seseorang. Misalnya ada yang memakai baju polisi, ‘ah, itu pasti pak polisi’. Ada yang memakai baju dokter, ‘waah, ada pak dokter’. Ada yang berhijab, ‘pasti muslimah ini’. Baju yang kita pakai, secara tidak langsung menunjukkan identitas diri kita. Tapi coba kita telisik lagi. Saat ini, banyak sekali yang (maaf) misalnya memakai hijab atau gamis hanya karena mengikuti tren bukan karena kewajiban seorang muslimah menutup aurat. Ada model gini, langsung ganti. Keluar model baru lagi, langsung sikat. Namun semoga saja itu adalah langkah pertama saudara-saudara muslimah kita untuk menuju jalan yang lebih baik. Dan semoga kita juga. Amiin.
            Balik lagi.
Cenderungnya masyarakat kita yang hanya menilai seseorang dari pakaian yang terlihat oleh mata saja membuat miris. Bukankah sejatinya pakaian seorang muslim dan muslimah adalah Akhlakul Karimah? Anggapan inilah yang akhirnya menjadikan banyak orang lebih memilih untuk selalu mengenakan pakaian yang bagus dibandingkan berusaha memperbaiki akhlak. L Pakaian yang bagus memang baik, tapi pakaian yang disunnahkan nabi adalah pakaian yang bersih. Pakaian bersih, tidak harus baru dan bling-bling. Sedangkan akhlak, adalah pakaian yang wajib digunakan muslim dan muslimah. Jadi yuk sahabat-sahabat semua, jangan hanya pakainnya saja yang update, tapi akhlak juga harus di upgrade. Kita sama-sama belajar dan berusaha untuk menjadi muslimah yang lebih baik. Saling mengingatkan dalam kebaikan. Mungkin tidak bisa langsung baik, tapi insyaallah berangsur-angsur bisa menjadi lebih baik. ^_^

Salam,
Siti Nur Jannah

Rabu, 19 Juni 2019

Definisi Cantik dan Tampan



Bicara tentang cantik dan tampan, sepertinya adalah topik yang cukup menarik. Jadi, bagaimana kalau kita membicarakannya berdasarkan definisi secara ‘real’ terlebih dahulu?
            Let’s talk!
            Menurut KBBI, cantik adalah elok; molek (tentang wajah, muka perempuan) sedangkan tampan adalah elok dan gagah (tentang perawakan dan wajah, khusus untuk laki-laki). Berdasarkan definisi tersebut, kita dapat menyimpulkan kalau kata ‘cantik’ dan ‘tampan’ hanyalah apa yang terlihat dari paras saja. Hal itulah yang akhirnya membuat para wanita berlomba-lomba untuk perawatan, membeli skin care, make up dan lain sebagainya. Bahkan para priapun juga tak mau ketinggalan dengan melakukan perawatan. Betulkah?
            Tak ada yang salah sebenarnya. Setiap wanita pasti ingin terlihat cantik, begitupun setiap pria ingin terlihat tampan. Tapi yang menjadi masalah adalah cara kita mendefinisikan kata ‘cantik’ dan ‘tampan’ yang terlalu sempit sampe rasanya kejepit. Lhah, kok bisa?
            Coba deh, kita bicara jujur-jujuran aja. Kalau misalnya ada cewek, kulitnya putih, hidungnya mancung, bibirnya tipis, tubuhnya aduhai, rambutnya tergerai, cantik gak? Yakin deh semuanya bakal bilang ‘CANTIK’ berjamaah. Tapi ternyata gak bisa ngaji, gak pernah sholat, bicaranya sinis, akhlaknya tidak baik, masih cantik?? Aku tak tau pasti sih, tapi sepertinya kaum adam masih banyak yang jawab ‘masih cantik’. Betul apa betul? (Hahaha)
            Sekarang, yuk kita intip definisi cantik dan tampan dari sisi lain.
            Wah, bicara tentang cantik, bagi wanita adalah hal yang paling sensitif sekali nih. Ada yang pernah bilang, katanya jika seorang wanita dibilang ‘cantik’, maka kata itu akan lebih diingat daripada dibilang baik. Jika dipikir-pikir, benar juga sih. Secara pribadi, aku masih ingat siapa yang pernah bilang kalau aku ‘cantik’. Bukan, bukan karena apa, tapi karena yang bilang itu adalah kedua orang tuaku! Masa iya tidak ingat? Hahaha. Kembali ke pembahasan.
            Menurut pepak bahasa jawa yang masih kuingat, cantik itu yang mlakune kaya macan luwe, alise nanggal sepisan, drijine mucuk eri, awake koyok biola, mripate ndamar kanginan, untune miji timun, trus tambahan ini aku nanya ‘mbah google’ tentang perumpamaan jawa dalam mendefinisikan cantik yaitu idepe tumenga ing tawang, pipine nduren sajuring, uwange nyangkal putung, lambene nggula satemlik dan lain sebagainya. Jika dibayangkan, aku juga bertanya-tanya nih dimana ada perempuan seperti itu? Apakah ia layaknya nawang wulan, bidadari yang turun dari kahyangan? Hehehe
Sedangkan berdasarkan islam, perempuan cantik itu adalah perempuan yang taat pada Allah, menjaga kemaluannya, taat pada suaminya, menutup aurat, berakhlak mulia dan tidak menyerupai orang kafir. Lalu, yang manakah definisi cantik sebenarnya? Menurutku, semua definisi cantik adalah benar. Selain cantik dalam pandangan, seorang wanita juga harus cantik dalam kebatinan. Tapi sayangnya, kebanyakan masyarakat kita hanya memusatkan cantik pada wajah saja. Padahal yang paling sejati dari cantik itu adalah tentang batin, atau bahasa kerennya inner beauty.
Beralih pada kata tampan sekarang. Nah, sejujurnya aku tak terlalu mengerti definisi tampan itu seperti apa. Jadi aku bakalan bicara sedikit aja nih. Apakah yang seperti bintang hollywood? Bollywood? Atau Korea? Tentang definisi tampan ini, aku hanya mau share tampan ala Rasulullah aja. Dilansir dari beberapa sumber, tips tampan ala Rasulullah itu ada beberapa, diantaranya membersihkan diri, memakai pakaian yang layak (bukan yang sobek-sobek gak jelas), makan dan minum secukupnya dan rutin berolahraga. Untuk definisi tampannya, mungkin kalian bisa menuliskannya di komentar. Hehehe. Karena secara pribadi, aku tak bisa mendefiniskan ketampanan seseorang. Mau tampannya kayak Zayn Malik, Shah Rukh Khan atau Joongkok BTS pun kalau sholatnya bolong-bolong, tidak bisa menjaga perempuan yang ada di sampingnya, perilakunya tidak baik, ucapannya menyakitkan hati, buat apa? Yang penting baik menurut keluarga dan Allah, insyaallah akan baik untuk selanjutnya. Lhoh, kok jadi ngelantur? Hahaha
Kembali lagi.
Sebenarnya definisi cantik dan tampan itu relatif. Tergantung dari sisi mana seseorang melihatnya. Mau itu dari wajah ataukah perilaku, setiap orang punya porsi sendiri dalam memasukkan orang lain dalam kategori cantik dan tampan. Misalnya nih, ada teman yang bilang, kalau ‘orang itu’ tampan pake’ banget. Tapi kalau menurut kita biasa saja, masa iya mau dituntut dengan undang-undang pencemaran nama baik? Gak mungkin kan?
Jadi untuk para sahabatku, yuk menjabarkan cantik dan dan tampan lebih luas lagi. Jangan hanya mempersempit kata cantik pada wajah saja. Yang akhirnya membuat kita sibuk mempercantik diri hingga lupa untuk mempercantik hati. Eh, ada nih make up yang tidak ada tandingannya dibandingkan merk make up paling terkenal di dunia ini. Percaya deh. Yaitu,
Memakai bedak dengan air wudhu
Pewarna pipi dengan rasa malu
Pemerah bibir dengan kejujuran
Eye shadow dengan menundukkan pandangan
Parfum dengan menutup aurat
Pakaiannya dengan akhlakul karimah
Jika kita, khususnya sahabat-sahabat muslimah menggunakan make up tersebut, tak hanya makhluk di dunia, tapi stempel cantik akan langsung disematkan oleh Allah. Insyaallah. 


Salam,
Siti Nur Jannah

Minggu, 14 April 2019

Aku Ingin Menulis Lagi


Aku ingin menulis lagi. Melihat jajaran naskah yang tercecer di laptopku, membuatku sedih sekaligus marah pada diriku sendiri. Aku ingin menyelesaikannya, namun entah kenapa tiap kali ingin menulis, jari-jariku langsung stagnan, males digerakin. Nyebelin banget kan? padahal sebelumnya dipikiran udah terbayang tuh gimana kronologi-kronologinya. Trus terkadang dialognyapun udah tergambar. Tapi pas ngadep laptop, byaar!!! Buyar semua.
Berdasarkan penelitian dan prasangka yang tak berdasar alias ngarang, ada beberapa alasan yang membuatku sulit untuk menulis lagi. Pertama, motivasi. Yah, aku seakan kehilangan motivasiku. Dulu, sehari gak nulis itu rasanya seperti dosa besar banget! Meskipun nulisnya manual pake tangan, ngabisin berlembar-lembar kertas dan pena. Sekarang? boro-boro dah. Masih untung-untungan cuit-cuit di twitter dan status WA.
Kedua, pengaruh milenial. Adanya gadget dan mudahnya menjelajahi dunia lewat internet, membuatku sering lalai. Buka sosmed, udah deh nelusurinya sampe berjam-jam. Yang awalnya tadi udah niat banget nulis nih, jadi kalah sama malesnya.
Ketiga, urusan rumah tangga. Eits! Maksudnya bukan rumah tangga yang itu. Wong kepala rumah tangga-ku aja belum punya. Hahaha. Percayalah, berada di rumah membuatmu dua kali lebih sibuk dibandingkan dengan kuliah dan tugas-tugasnya. Apalagi kalau kamu adalah anak pertama yang memiliki adik-adik yang masih kecil. Wah, siap-siap dah! Selain pekerjaan rumah yang skalanya lebih besar dibandingkan di kos, seperti nyapu, masak, nyuci, ngepel dan banyak lainnya, ada orang selain dirimu yang harus diurusi. Adik-adik, ayah dan ibu. Jadi pas nulis dikit, adik ngganggu. Nulis dikit, ayah manggil-manggil minta pijit. Nulis dikit, gentian yang lain. Kalau misal masang tanda kalau ‘lagi nulis, gak bisa diganggu’, besoknya langsung disindir karena gak keluar kamar seharian. Hhh.
Keempat, karena tidak ada objek tulisanku. Jujur saja kuakui, aku tak bisa menulis tanpa alasan. Jadi harus ada alasan yang membuatku merangkai kata sehingga menuangkannya dalam bentuk tulisan. Dan yang paling dibutuhkan dalam menulis itu adalah ‘ke-baper-an’ tingkat dewa. Seiring bertambahnya usia, rasionalitasku semakin bertambah. Jadi tingkat kebaperanku juga semakin menurun seiring dengan menurunnya alasan menulisku. Yah, kalian tau sendirilah kalau pengarang itu metafora-nya harus meluap-luap. Nah, herannya diriku pada diriku yang sudah –mungkin- dewasa ini, masalah-masalah entah itu kehidupan atau asmara, jadinya dianggap biasa saja. Semacam, ‘ya udahlah, gak papa’. ‘ya udahlah, mau gimana’. ‘ya gak papa’. Jadi gak bisa se-alay dulu gitu. Hahaha. Entahlah, ini sebenarnya positif atau negatif. Dan lagi jika ingin menulis perihal cinta, sepertinya aku tak lagi mahir. Aku ingin sekali menulis tentang cinta, tapi aku tak sedang jatuh cinta. Aku ingin menulis tentang patah hati, tapi aku tak sedang patah hati. Rasanya aku sudah lupa bagaimana cara mencintai dengan buta. Karena sekarang aku hanya mempercayai cinta yang berkah.
Itulah beberapa dugaan kenapa aku jadi jarang sekali nulis. Mau nulis diary tiap hari seperti dulu, kok kayak alay gitu ya. Hahaha. Bahkan terkadang, aku sampai lupa impianku yang ingin merubah dunia dengan tulisanku. (Miris). I wanna change this world with my word.
Bagaimanapun nantinya, hari ini aku masih belum menyerah dan tak akan pernah menyerah. Aku hanya berserah pada-Nya dan menjalani apapun yang digariskan untukku. Harapanku nantinya, semoga kelak ada seseorang yang akan mendekatkanku pada mimpiku kembali sekaligus semakin mendekatkanku pada Tuhan.
Jika itu kamu, kapan nih dateng?
Eak! Eak! Eak!

~snj
Ahad, 14 April 2019


Minggu, 18 November 2018

UIN MALANG BUTUH UANG?



Sebenarnya, bukan tipeku mengomentari tentang suatu kinerja lembaga atau pemerintah lewat tulisan seperti ini. Tapi kali ini, jika aku tidak ikut ‘action’ dan hanya menjadi ‘pengamat’ di belakang layar seperti biasanya, sepertinya aku tak ubahnya seperti patung di pinggir jalan. Tak ada gunanya. Karena itu aku menulis ini untuk meneriakkan suaraku, juga suara teman-temanku yang lain.
Ini tentang pembayaran UKT/SPP yang (sangat) dimajukan.

Semenjak aku di UIN, pembayaran UKT selalu terletak di hari akhir ujian semester hingga liburan hampir usai. Tapi gak tau kenapa, tiba-tiba aja pembayaran UKT semester ini dimajukan. Mulai tanggal 19 Nov – 21 Des. Tentu saja aku shock! Anak-anak semester bawah (kimia) saja masih belum selesai praktikum, pembayaran UKT udah dimulai saja dan ditutup pas ujian semester juga belum selesai. Sedangkan (kami) mahasiswa veteran yang berbesar harap dapat mengejar sidang skripsi semester ini, malah harus kalang kabut memikirkan cara  agar tidak ikut bayar UKT semester depan. Bayangkan saja, kami sudah habis banyak buat penelitian dan tanggungan laboratorium, malah di-pepet sama pembayaran UKT hanya untuk daftar yudisium. It’s mean, seakan kami memberikan uang pada UIN dengan percuma. Padahal kami sudah tidak ikut perkuliahan, pun tidak ikut memakai bahan-bahan kimia dan fasilitas lab yang lain. Tapi kamu harus bayar UKT penuh. It’s not fair, right?

Beberapa temanku, sudah berusaha untuk meminta keringanan ke rektorat, tapi semua hasilnya nihil. Mereka ditolak.

Sebut saja jika soal sidang memang urusan kami. Tapi yang dipermasalahkan adalah waktu pembayaran UKT yang tidak wajar. Apa UIN BUTUH UANG? Sehingga meng-eksploitasi mahasiswanya lewat pembayaran yang dimajukan. Jika bagi mereka yang termasuk keluarga kalangan atas, mau kapanpun pembayaran UKT juga tak masalah. Tapi bagi kami? Mendapatkan uang untuk pembayaran UKT tak seperti memetik daun mangga di depan rumah. Kami hanya mahasiswa yang masih bergantung pada pundak orang tua. Memikirkan bagaimana mereka memeras keringat untuk biaya makan saja, kami sudah tak tega. Bagaimana mungkin kami mendesak pembayaran UKT setelah habis-habisan dengan biaya penelitian?

Jika saja UIN dapat menjawab, ingin sekali aku bertanya, “Kamu kenapa?”

Salam.
Siti Nur Jannah
(Kimia 2014)

Kamis, 15 November 2018

Untukmu yang Pengen Lulus


Ah, udah lama rasanya gak cuit-cuit di sini. Yah, kemarin-kemarin hanya bersembunyi dibalik prosa-prosa sih. Selain itu, ada rantai yang seakan menarik tanganku tiap kali ingin bercengkrama lebih banyak di sini. (Apaan ya alay gini bahasanya. Hahaha).

Baiklah. Alasan aku nulis ini, adalah untuk kalian yang ingin segera lulus atau dalam tahap akhir menuju kelulusan. Bisa dibilang ini adalah curhatan yang mengkambing hitamkan tulisan. Atau bagaimanapun kalian menganggapnya, terserah. Yang jelas, ini untuk kalian yang berada dalam fasa perjuangan sepertiku. Kita sehati kawan. (Emotion peluk sambil nangis).

Kalian pasti pernah mengalami, pas jalan dikit, ditanya “kapan lulus?”
Belok kanan dikit, ditanya “kapan sidang?”
Kiri dikit, ditanya “kapan wisuda?”
Iya nggak?
Yaaah, itu memang hak netizen untuk bertanya, dan nasib kita untuk mendapat pertanyaan. Okelah. Sah-sah saja mereka bertanya, tapi tidak semua orang berhak untuk menghakimi hidup orang lain. Right?

Society kita adalah society yang mengedepankan hasil. Orang tidak peduli seberapa keras kamu berusaha. Selagi apa yang kau hasilkan menjanjikan, mereka akan menganggapmu sebagai orang yang lebih. Meskipun keringat yang kau keluarkan lebih banyak, meski usaha yang kau kerahkan lebih besar, jika hasilnya tidak memuaskan bagi masyarakat, semua itu gak ada artinya. Seperti halnya kuliah nih. Mereka gak pernah tuh nanya apa yang kuteliti di lab. Seberapa pentingkah penelitian itu dilakukan? Kira-kira dampak apa yang bakal berpengaruh dalam masyarakat? Seberapa sulitkah? (Kecuali penguji utama, pembimbing dan konsultan. Mereka adalah orang-orang yang paling banyak bertanya).

Yang mereka pedulikan hanya satu. Foto memakai toga, ditemani ayah bunda. Sama pasangan kalau yang ada. Hhh, kalau foto pake toga aja mah semua bisa. Padahal yang paling penting bukan foto pake toganya, tapi perjuangan yang dilakukan sebelum memakai toga.

Akhir-akhir ini, teman-temanku di sini mulai kalang kabut soal wisuda karena batas pembayaran UKT udah semakin dekat. Siapa coba yang gak pengen segera lulus? Siapa yang gak pengen segera sidang dan wisuda? Siapa yang pengen bayar UKT cuma buat daftar wisuda?
Akhirnya, status-status galau mulai memenuhi story-ku. Aku juga galau, tapi gak buat di story. Di twitter. (Sama aja ya? Hahaha).

Begitulah. Jadinya aku mulai adu mulut dengan pikiran dan hatiku, hingga akhirnya muncullah tulisan-tulisan ini. Boleh saja kita berencana, tapi bukankah tidak semua hal bisa dipaksakan? Tidak semua hal bisa dirancang lalu tak meleset perkiraan. Kita bukan pemilik waktu, juga bukan pemilik kehidupan. Dan lagi, “lulus” sebenarnya hanyalah duniawi kawan. Udahlah, gak papa meskipun gak lulus semester ini. Gak papa meski harus bayar UKT lagi cuma buat daftar wisuda. Gak usah terlalu mengejar tanggal, yang notabennya kita mengejar dunia. Bersyukurlah. Bersyukur karena Allah masih masih ngasih kita mata buat begadang di depan laptop ngerjain skripsi. Masih ngasih kita mulut, meskipun terkadang digunakan untuk mengeluh, gak hanya presentasi. Masih ngasih kita kaki buat kejar-kejaan sama dosen sedari pagi sampe sore hari. Masih ngasih kita akal untuk berpikir tentang kemaslahatan (mungkin) setelah kita lulus nanti. Masih ngasih kita hati, yang seringkali tersakiti saat konsultasi (ini curhat). Dan yang paling penting, masih ngasih kita napas yang seharusnya kita gunakan untuk memperbaiki diri.

Pernah bayangin gak jika tiba-tiba Allah ngehentiin langkah kita dan kita gak bisa menelusuri bumi lagi? Banyak hal yang kita hasratkan, tapi Allah bilang, “STOP!” dan semuanya akan berhenti. Tidak seperti di jalan raya. Jika lampu berwarna kuning, berarti pertanda untuk siap-siap berjalan lagi. Namun jika Allah yang memberikan kita lampu merah, dunia yang bakal kita jelajahi bakal berbeda lagi.

Subahanallah wal Hamdulillah wa Lailahaillallah Allahuakbar

Jadi temen-temen, yuk kita tata niat kembali. Yuk kita perbaiki hasrat kembali. Tidak apa-apa meskipun (dianggap) terlambat dibandingkan orang lain. Tidak apa-apa meskipun tidak seperti orang lain. Orang lain hanya penilai di dunia, tapi Sang Penilai sebenarnya adalah Allah. Buat apa jika banyak tambahan huruf dibelakang nama tapi nilainya kosong di hadapan Allah?

Yuk sama-sama berjuang.
Tahap juang itu, berjuang sendiri – diperjuangin – berjuang bareng deh. Hahaha

Salam sayang,
Siti Nur Jannah

Selasa, 25 September 2018

MAKE UP MUSLIMAH




Sore tadi, aku telphon dengan ‘orang rumah’. Biasalah, curhat-curhat sambil berkeluh kesah tentang seluk beluk kehidupan kampus. Di tengah percakapan, ayah yang biasanya paling sedikit bicara, akhir-akhir ini menambah frekuensi bicaranya.
Ayah   : “sakiki Anna wes kudu mulai nggawe Make Up.” Sekarang, Anna harus mulai make Make Up.
Aku     : “damel nopo? Ngeten mawon lho mboten nopoo.”
Ayah   : “yo gak ngono. Moso teko Malang kaosan ambek rok dirangkepi training, totok omah. Nggaweo abang-abang iku lambene, wedakan, alisan, klambian sing apik, nggawe parfum.”
Aku     : “ngge mben mawon lek pon nikah…”
Ibu       : “niku lho ayah, lek pon nikah terose…”
            Rasanya bersyukur dibelain ibu. Hehehe
Ayah   : “yo gak ngono pisan,”
Aku     : “ayah, wonten Make Up mboten wonten tandingane blass. Merk terkenal, luar negeri, kalah sedanten.”
Ayah   : “opo?”
Aku     : “Make up yang lipstiknya dengan senyuman dan perkataan jujur, pemerah pipinya dengan rasa malu, bedaknya dengan air wudhu, bajunya dengan ketaqwaan dan parfumnya dengan akhlak yang baik. Itu sudah lebih dari cukup ayah…
Ibu       : “MAKE UP MUSLIMAH. Iya kan Anna?”
Aku     : “ngge buk! Betul sekali!”
Ayah   : “kalah wes lek diserang ibuk sak anake”
            Lalu kami tertawa.
Nah, dari cerita panjangku tadi, –padahal masih lebih panjang, hehehe- aku tak mau jelasin apapun. Karena aku yakin kalian sudah mengerti tanpa aku njelasin. Kalian tau kan, perempuan itu pengennya dingertiin? *lhoh, apaan sih! Hahaha
Pada intinya, boleh-boleh saja kita pake make up merk apapun. Pake perawatan A-Z atau skincare yang di beranda facebook udah kayak salon kecantikan (Hehe), karena pada dasarnya perempuan memang ingin cantik. Tapi jangan lupa juga, ada Make Up yang musti kita gunakan juga sebagai muslimah. Agar yang cantik gak hanya terlihat saja, tapi yang tak terlihat juga. Kecantikan sejati, hanya bisa dilihat oleh hati yang sejati juga. Jadi jangan bangga kalau ada kaum adam yang memuji kecantikanmu, karena mereka hanya mengagumi apa yang mereka lihat dari mata saja, bukan dari hati mereka.

Let’s be beauty with muslimah way! ^_^

Jumat, 20 Juli 2018

Hari Libur Ibu

"Aku klo pulangan gak ngapa-ngapain mbak. Bajuku yang nyuci juga ibuk," cerita si A dulu.

Aku dulu sempat berpikir, "ah, enak banget ya." Bayangin coba klo di rumah cuma makan, tidur, nonton tv, maen hape aja. Nikmat mana yang gak menggiurkan??
Soalnya ketika pulang, aku tidak pernah seperti itu. Malah kebalikannya. Semua pekerjaan rumah, diserahin padaku kecuali masak, bareng sama ibuk. Jadi bisa dibilang, pulangku bukan buat istirahat tapi pengalihan pekerjaan lain. 😅

Kembali pada temanku tadi.
Tapi setelah dipikir-pikir, ngerasa gimana gitu gak sih klo nganggur di rumah? Pas ibuk nyuci, malah nonton tv. Pas ibuk nyapu, malah maen hape di atas kursi.
Alasannya,
"Kan aku udah capek belajar terus di sekolah, makanya pas pulang ya aku mau istirahat".

Never mind if you want to take a rest and didn't do anything. But, pernah bayangin gak sih klo ibuk yang bilang mau istirahat?
Tiba-tiba pagi buta ibuk bilang,
"Nak, hari ini ibuk libur dulu jadi ibu ya." Kocak gak? 😆

Ayolaaaah. Entah kalian jadi siswa, mahasiswa, PNS, Tani atau pekerjaan apapun pasti ada liburnya. Tapi jadi ibuk itu gak ada liburnya coy!!

Masa iya, pas di rumah bukannya bantuin ibu malah nambahin pekerjaannya?

Pulang, itu bukan hanya untuk liburan dan menghibur diri sendiri. Tapi untuk memberikan waktu pada ibuk agar istirahat barang dua hari atau tiga hari. Toh setelah itu, apa mungkin kalian bakal bantuin? Enggak kan?

Maybe, ketika kamu di kampus atau di pondok yang notabennya kamu hidup sendiri, you can do anything you want. Mau nyucinya seminggu sekali kek, pake loundry kek, mau ngelipet selimut jam 12 atau jam 12 masih selimutan, whatever! It's your life. But if you in house, you are a son. You are a daughter. Kamu adalah seorang anak yang seharusnya bersikap seperti seorang anak.

Coba bayangin klo anakmu nanti ngelakuin apa yang pernah kamu lakuin sama neneknya, kan humoris banget! Tinggal bilang,
"Rasain tuh! Udah dibilangin!"
😁

Maafkan klo ngomongnya rada kasar. Kesel aja pas inget ada yang ngomong gitu dengan bangganya. Seakan dunia berkiblat padanya saja. Trus pengen nulis deh.
Hehehe

Ya udah, gitu aja.
Salam,
Siti Nur Jannah

Pasuruan, 200718


Sabtu, 17 Maret 2018

Harapanku tidak Ikhlas karena-Nya (?)


Terkadang, aku bingung tentang apa alasan sebenernya Tuhan meng-ada-kanku di bumi ini. Khawatir saja jika keberadaanku ternyata hanya untuk jangkep-jangkep­-an saja.
Al-Quran bilang, jika manusia dan jin diciptakan untuk beribadah. Namun menurutku saat ini esensi ibadah sudah semakin terkikis. Alasan ibadah hanyalah tameng untuk mengejar dunia. Yah, karena aku merasa seperti itu. Saat ingin melakukan sesuatu, selalu menimbang-nimbang..
“untuk siapa aku melakukan ini?”
“apakah aku melakukannya karena Allah?”
“apakah aku melakukannya untuk diakui oleh Allah?”
Aku benar-benar bingung. Antara logika dan spiritualku seringkali bertengkar. Ada saat dimana aku bisa mendamaikan mereka, bekerja saling membantu sehingga hidupku serasa ada artinya. Tapi ada juga saat dimana logika dan spiritualku berada pada posisi yang tidak seimbang. Saat logikaku lebih tinggi, ia akan membawaku pada kenyataan kalau tidak ada yang bisa kita dapatkan jika kita tidak berusaha. This my life, and I must go up if I want get something. Ini hidupku, aku yang bertanggung jawab dengan hidupku. Apapun yang terjadi nantinya adalah akibat dari apa yang telah kulakukan. Namun ketika spiritualku yang lebih tinggi, aku akan mulai terdiam membisu. Berpikir untuk lari saja dari kebisingan dunia dan bersembunyi ke Goa, agar hanya tersisa aku dan Tuhan.
Jujur, aku bukan perempuan sholehah yang bisa menerima semua ketentuan dengan ikhlas, melakukan ibadah tanpa mengharapkan apapun. Saat aku menghadap Tuhanku, aku ingin diakui kalau aku ini hamba-Nya. It’s mean, aku hamba-Nya yang berusaha melakukan apa yang diperintahkan, berusaha mematuhi Rasul-Nya. Aku masih belum bisa beribadah ikhlas karena-Nya. Harapan agar kehidupanku setelah dunia ini baik masih menjadi motivasiku melakukan rutinitas spiritual.
Aku juga bukan orang baik. Aku masih memegang kata-kata,
“jika ingin dibaiki orang lain, kamu juga harus baik pada orang lain.”
Aku selalu yakin, jika hari ini aku berbuat baik akan ada balasan untukku nantinya. Entah itu balasan dari Tuhan yang diberikan saat aku masih bernafas, ataukah balasannya nanti ketika aku berdiri di padang mahsyar tanpa mengenal siapapun. Mungkin saat itulah kata ‘move on’ akan ada. Ah, abaikan kalimat terakhirku.
Aku ingin menjadi seseorang yang bisa memberikan manfaat untuk makhluk lain. Aku gak mau hidupku menjadi sampah bumi, karena itu aku ingin menghasilkan sesuatu atau melakukan sesuatu. Aku bukan pejabat yang setiap omongannya didengar rakyat, aku bukan milyader yang bisa menggerakkan dunia dengan uangnya (entah pergerakan yang baik atau buruk, menurutku uang saat ini sudah dijadikan Tuhan). Karena aku bukan siapa-siapa sebab itulah aku menulis, seperti perkataan dari Imam Ghozali. Tapi berbicara tentang keikhlasan, jari-jariku bakal berhenti lagi. Menimbang-nimbang, apakah benar keinginanku menulis hanya agar bermanfaat untuk orang lain? anggap saja itu memang prioritasku, namun bukankah ada alasan-alasan lain yang juga menjadi faktor pendukung? Seperti saat ini, aku menulis karena ingin memberikan penjelasan pada seseorang bukan ikhlas karena Allah. Lalu bagaimanakah seharusnya ikhlas itu?
“berserah diri pada Allah, menerima apapun ketentuannya.” Kata orang.
Tapi hidup tidak sepasrah itu bukan? Pernah gak sih kalian berpikir jika kita menyerahkan apapun, total kepada-Nya, seakan-akan gini,
“ya udahlah biarin aja. Tuhan yang ngatur kok. Aku mah tinggal hidup aja.”
Tanpa melakukan apapun, tanpa mengusahakan apapun. Menurutku, itu terlihat ‘bodoh’. Ini hanya pendapat sih. Kalian boleh berbeda.
Aku ingin menjadi seseorang, yang tadinya bukan siapa-siapa menjadi siapa-siapa. Menjadi ibu yang anak-anaknya bangga memiliki ibu sepertiku misalnya. Menjadi siapa-siapa bukan berarti menjadi sosok yang memiliki kedudukan dan jabatan tinggi. Ketika ada orang lain yang berkata kalau kita memberikan alasan pada mereka untuk menjadi lebih baik, bukankah sebuah kebanggan tersendiri? Itu harapanku. Bukan merubah seseorang menjadi baik, tapi bersama-sama untuk menjadi yang lebih baik.
Semakin aku berpikir tentang alasan, semakin lama pula aku akan berjalan. Aku masih rancu dengan esensi keberadaanku, tapi jika aku terus saja memikirkan alasan dan menunggu hingga kata ‘ikhlas karena Tuhan’, bukankah aku akan tetap stagnan di tempatku berdiri?
Mungkin aku akan tetap berjalan. Entah alasan-alasan apa yang kugunakan untuk berjalan, aku yakin malaikat Tuhan yang dipinjamkan padaku bisa mencatat lebih detail alasan baik dan burukku. Alasan apa yang lebih banyak, mana kutahu? Mungkin saat kita berkumpul di padang mahsyar nanti bisa saling mengintipkan diary masing-masing. Setidaknya tidak seperti manusia yang hanya mempercayai apa yang mereka lihat dan hanya meyakini apa yang mereka yakini. Aku tidak berbicara tentang orang lain. Aku juga membicarakan diriku sendiri. Jika ada dari kalian yang ternyata sependapat denganku, berarti kita sama. Jika ada yang lebih mengerti, mungkin kalian bisa memberiku penjelasan. (Aku menyindirmu).



SNJ, 170318

Senin, 05 Maret 2018

About My Research (Nyasarnya Banyak)


Assalamualaikum temen-temen…
Ah, rasanya seperti bertahun-tahun gak nyapa blog ini. Hahaha
Sok sibuk siiih, tapi aslinya emang sibuk kok. Sibuk mikir. Bukan mikirin apa, tapi mikirin siapa? Lhah. Enggak-enggak, mikirin sempro kok. Hari Rabu. Doain ya… Hehehe
Ngomongin tentang sempro, aku jadi inget pertanyaanku sekitar tahun lalu kalau gak tahun lalunya lagi (maklum, pelupa berat. Hehe) aku pernah bertanya di facebook tentang penelitian apa yang kira-kira bisa kubantu untuk menyelesaikan masalah kalian. Ya kan ngapain research kan kalau bukan untuk solve the problem?
Lumayan banyak sih yang nanya. Tentang aloe vera, bahan pengawet, pestisida dkk. Awalnya, aku berencana untuk meneliti alternative herbal untuk kanker, dengan pengujian pada tikus. Mungkin kata Allah, “bukan itu Annaaaa, tapi yang ini aja lhoh!”, jadinya aku gak jadi neliti itu deh. Hahaha Cuma sampek baca-baca jurnal sama teori-teori gitu. Penasaran sekarang penelitianku apa?
Jadi, karena berbagai cerita A, B, C sampe Z, aku banting setir dari Biokimia ke Anorganik! Oh maigaaat, takdir apa ini!
Kembali ke tema penelitianku.
Jadi di tema penelitianku ini, aku bakal sintesis atau membuat material yang bisa degradasi limbah organik. Kalian tau kan, kalau sekarang banyak sekali pabrik yang tumbuh kembang di Indonesia? Nah, mau gak mau sungai kita juga tercema dan sudah pasti bakal mengaruhi kesehatan msyarakat. Iya gak? Jadi, aku mau mencoba nyelesein masalah itu dengan membuat material yang bisa degradasi organic pollutant menjadi karbondioksida dan air yang notabennya gak berbahaya buat kita.
Kok jadi kayak cerita latar belakang ya? Hahaha
Nah, buat buktiin material yang kubuat itu bener gak sih bisa degradasi limbah, ato jangan-jangan gak ada manfaatnya, jadi banyak karakterisasi yang dilakukan buat meyakinkan materialku. Ada sekitar 5 karakterisasi yang kulakukan buat buktiin kalau aku berhasil membuat material itu (TiO2 kalau kalian pengen tau material yang pengen kubuat), dan ada uji buat buktiin kalau materialku bisa degradasi polutan organik yang di sini aku gunain zat warna methylene blue. Bingungin ya? Ya itu deh pokoknya guys! Hehehe
Jangan ditanya deh habis berapa, soalnya bisa dibuat beli HP Samsung Galaxy A8 sama paketan internet 50 gb selama 5 bulan. Hahaha  
Doain ya. Semoga lancar, dan dananya lancar juga. Ada yang mau bantuin? Wkwkwk Waktu penelitiannya sih digadang-gadang sekitar 6-7 bulanan gitu. Gak tau kalau lebih, yaaah bisa saja aku jadi penjaga lab. Hahaha
 Kata dosbing, penelitian ini sih udah setara kek S2. Rasanya aku pengen teriak,
“TRUS KENAPA DIKASIIN SAYA PAAAAAK?!!”
Tapi apalah mahasiswa ya, cuma bisa mengangguk dan sami’na wa atho’na. Semoga aja hasilnya bagus dan bisa tembus jurnal internasional trus dilirik sama universitas luar negeri, dapet beasiswa deh. Amiiiiiiin. Harapan tinggi boleh dong?
Masalahnya ini orang rumah. Wong Institut Teknologi Bandung yang masih di Indonesia aja gak dibolehin, paling jauh Surabaya. Kata ibuk,
“bukannya gak ngebolehin, tapi kalau ada gandengannya gak papa mau kemana aja. Udah ada yang njaga meskipun jauh. Ke luar negeri juga.”
Yaelah buuuk, ini mah namanya penyindiran penuh niat terselubung namanya. Kasarannya, kalau mau S2, harus nikah dulu! Eottokae uri-omma….. (pose pusring).
Lha masalahnya, sama siapa? Kan sama aja gak bisa S2. Makanya pas ditanya tmen-temen habis lulus nikah ato S2, jawabanku ya itu, nikah. Biar bisa S2. Hehehe kalau dibolehin sama suami siiih. Kalau enggak, coba deh dirayu. Hahaha Yaaah, kenapa bahasannya jadi suami sih!
Just kidding kok temen-temen. Sebisa mungkin jangan nikah karena pressure deh. Paksaan maksudnya. Entah itu paksaan dari orang tua, paksaan dari temen-temen fake yang kerjannya nanya ‘kapan nyusul?’, paksaan keluarga, paksaan tetangga, ato paksaan umur dan paksaan-paksaan yang lainnya. Menikahlah karena memang kamu merasa kalau kamu memang harus menikah dan menginginkan pernikahan. Ada yang ingin nikah, tapi belum seharusnya nikah. Ada yang seharusnya nikah, tapi malah gak ingin nikah. Ada yang ingin nikah, harus nikah, eh malah gak dibolehin nikah. Gitu deh kalau urusan sama manusia emang ribet. Aku juga maksdunya. Hahaha
Lhah, kok jadi nikah sih? Ini awalnya bahas apa, jadinya apa.
Yah, itulah pokoknya. Doain ya, hari Rabu. Jam 12.30 WIB. Ruang sidang, fakultas SAINTEK UIN Malang. Kali aja kalian mau nyambut. Hahahah
Udah deh, udah.
Bye temen-temen…..
Semoga kalian tetep dalam pilihan yang terbaik ya….
Amiiin.
Wassalamualaikum….

Kamis, 22 Februari 2018

Sempatin Kuliah


Assalamualaikum…
Nah, tulisan ini muncul setelah mendengar cerita seseorang. Jika kalian membacanya dan ternyata ada yang bermanfaat bagi kalian, Alhamdulillah. Kalau tidak, yaah langsung tekan tanda silang aja ya. Hehehe
Seringkali aku menulis kan, ada saat dimana kita memang ingin menyerah. Ada titik dimana kita berada pada keadaan terlemah. Memang, tapi saat yang kumaksud di sini ada ‘waktunya’, bukan seterusnya.
Kuliah.
Ingin menyerah di tengah-tengah kuliah sepertinya memang penyakit tiap mahasiswa deh. Iya gak? Aku juga sering. Sering banget malahan. Gak kehitung deh berapakali nangis-nangis ke ibu sambil bilang, “buk, kulo nikah mawon pon…” dengan harapan bisa kabur dari kuliah! Hahaha Ini kepala rasanya udah budrek, rutinitas yang melahkan, tugas-tugas, praktikum, laporan dan kegiatan lain yang udah kayak dicekik sama kawat berduri! (Eih, gak se-alay itu kok. Hehehe)
Tapi nsihat ibu, pasti gini…
“Wes akean sing dijalani daripada sing dorong. Kurang dikit.”
Ibarat kita udah naikin tangga, itu tinggal selangkah lagi kan? Jika kita menyerah hanya karena satu tangga besar itu, percuma dong kita dulu berusaha naik. Buat apa? Kalau kita gak niat lulus, kenapa juga dulu kuliah? Sekalian aja gak kuliah. Berat memang, tapi mau, jadi balon yang isinya cuma udara? Makanya langsung ngikut aja pas diterpa angin. Kasarannya, terserah deh mau dibawa kemanapun. Coba kalau di isi air, pasti gak bakal kabur.
Trus alasan gak lanjut gegara gak punya waktu, sibuk kerja. Nah lhoh, emang dulu niatnya gimana bang? Kuliah sambil kerja ato kerja sambil kuliah?
Sebenarnya bukan waktunya yang gak ada, tapi kamu saja yang tidak mau menyempatkan.
Jujur, aku paling gereget sama orang yang nyerah karena alasan yang gak bisa kuterima. Menurutku sih, itu hanya pembelaan yang dibuat untuk membenarkan pilihannya. Disuruh ndukung, tapi pas ditanya bilangnya, “aku tau kalau pilihanku ini buruk. Aku juga gak tau kenapa aku milih gak mau lanjut.”
Yaaah, gimana mau ndukung kalau dia saja bilang pilihannya gak baik? (nepuk jidat!)
Ngulang matkul, itu wajarlaah. Aku juga ngulang. Dimarahin dosen, sering juga. Bahkan sampe nangis-nangis. Hahaha Jangan rame-rame ih, ini aib! Hahaha
Emang begitulah lika-liku kuliah. Rumusnya, jalani aja…
Jalani aja, bukan berarti gak berusaha. PKL, hadepin! PPL, langakahin! Ngulang matkul, selesein! Proposal, bantai! Skripsi, bakar! Lhoh, kok?
Ayolaaaah. Aku tidak menyayangkan keputusanmu untuk berhenti, tapi aku menyayangkan semangatmu dulu yang hilang, waktu yang yang kamu habiskan, dan mungkin harapan orang-orang terdekatmu. Bukankah sudah seharusnya kita menyelesaikan apa yang kita mulai?
Ini bukan tentang dirimu sendiri, tapi juga mereka yang menyayangimu. Salah satu cara yang kulakukan ketika aku ingin menyerah adalah mengingat harapan mereka. Ada harapan yang harus kujaga, dan aku tidak mau mengecewakan mereka. Kamu bisa! Berhenti menyerah! Jika ingin menyerah, berikan alasan-alasan yang bisa diterima. Jika kamu tidak menemukannya, kamu tidak berhak untuk menyerah! Hidupmu, bukan untuk dirimu sendiri!

Sebenernya ada tulisan lagi sih, cuma mending tak pisah aja deh. Kepanjangan. Ntar kalian bacanya pusring! Wkwkwk
Bismillah. Yuk tetep berjalan. Aku gak mau berjalan sendiri dan sampai duluan tapi ternyata sepi. Jika aku bisa mengajak orang lain untuk berjalan bersama, aku akan mengajaknya. Trus kita rame-rame pesta di tempat tujuan deh.  ^_^
Bukankah sebaik-baiknya orang itu yang bermanfaat untuk orang lain?
Udah deh ya. Ntar tak lanjutin lagi. Insyaallah….
Seemoga bermanfaat...

Wassalamualaikum…..

Selasa, 13 Februari 2018

Matematika Tuhan


Assalamualaikum temen-temen…
Masih di detik-detik pendaftaran sempro nih. Doakan yaaa….. ^_^
Banyak sekali yang bertanya,
            “padahal jurusan kimia itu sibuknya kayak gitu, kamu kapan sih nulis-nulis gitu?”
            Hahaha. Kalau ditanya ini, jawabanku cuma satu, ketawa. Titik. Mana mungkin aku inget nulisnya pas kapan? Hanya malaikat Rokib Atit yang tau kapan waktu aku nulis. Lengkap. Tanpa meleset. Sama detik-detiknya juga. Kalau pengen tau, coba deh tanya. Ntar jawabannya kirim lewat e-mail ke aku ya…. Hahaha
            Sesuai judul, aku pengen cerita sama kalian tentang “Matematika Tuhan” nih.
Hasil gambar untuk matematika
            Nah, beberapa minggu yang lalu, lumayan lama siiih, aku pergi ke pemandian di suatu daerah yang gak bisa aku sebutin namanya, bersama ayah, ibu, adik-adik dan budhe. Maklumlah, anak perantauan kalau pulang pengennya maen bareng pas liburan. Hehehe
            Sebenernya sih, itu ‘ucapku’ yang mau ‘ngebosi’ jalan-jalan kali ini karena habis dapet rejeki (Alhamdulillah). Jadi ayah ngajak ke pemandian gitu, yang ternyata pemiliknya temen ayah sendiri! Gak jadi keluar uang deh soalnya masuknya gratis! Hahaha rejeki anak (belum) sholehah… Tapi ya tetep aja pas di dalem beli-belinya gak gratis. Lumayanlaaah, kepotong tiket masuk, sisanya tak buat nraktir temen-temen di pondok yang jarang ketemu. Hehehe
            Kembali.
            Mau pulang, kita disuruh mampir dulu sama pemiliknya yang gak lain adalah temen ayah sendiri. Di sinilah cerita dimulai. Awalnya sih biasa aja kan ya, nanya kabar keluarga, ayah gimana, dan tibalah pertanyaan padaku. Orangnya nanya aku kuliah dimana, jurusan apa, pertanyaan yang wajar kan ya? Tapi pertanyaan dan pernyataan selanjutnya membuatku ingin manggil gajah, tak suruh mandi di kolam renangnya!
Hasil gambar untuk gajah berenang
            “kuliah jurusan kimia, lulus mau kemana?”
            “insyaallah balik ke pondok, ngajar di sana.” jawaban ayah kuanggukkan. Yah, pikiran pertamaku ketika lulus, ya balik ke pondok. Udah. Belum ada pikiran yang lain. Ayah ibu juga setuju. Guru-guru juga selalu bertanya kapan aku lulus dan diminta untuk segera kembali ke sekolah. Jadi ya prioritasku, kembali ke sekolah. Ada sih, pikiran mau ngelanjutin diniyah sama ‘sesuatu’ yang ingin kukhatamkan, tapi itu ntar dulu deh. Sekarang pokoknya lulus kuliah dulu. Hahaha
            Nikah? Santai ajalaah, di sini aku gak mau bahas nikah. Hahaha
            “sek, aku takon anake. Tujuanmu lulus kimia lapo?” todong bapak itu.
            “ngajar.” Jawabku yakin.
            “wah. Yo percuma awakmu kuliah.”
Hasil gambar untuk ekspresi wajah bertanya
            Percuma? Ini maksudnya apa yaaah???
            sakiki jurusanmu kimia, tapi ujung-ujunge awakmu ngajar? Gae opo? Podo ae koyok dadi kuli. Yo gak popo lek digawe awalan tok, duduk gawe penggawean tetep. Sakiki deloken ta, bayarane guru piro? Awakmu dikuliahno sampek ayahe mendelik-mendelik golek duwek, ujung-ujunge malah ngajar. Sakjano awakmu mikir, yo opo carane duwike wong tuo sing koen gawe kuliah iso mbalek luwih akeh. Mbukak konsultan ta, pengusaha ta. Sing mandiri, ojok dadi kuli!
            JLEB!! Orang ini waras gak siiiih?? Jujur, aku langsung naik darah seketika!
Hasil gambar untuk ekspresi wajah terkejut kartun
            awakmu dikuliahno iku gawe negoro kan? sakiki jaman wes koyok ngene. Aku wes tau ngalami sing koyok awakmu. Arek wedok lek we kenek arek lanang, semangat belajare kari 30%! Sakaken wong tuwomu sing nguliahno soro-soro.”
            Tunggu deh. Orang ini nge-judge aku ato gimana sih?? Wong ketemu aja barusan. Trus, 30%?? Itu data darimana paaaaak?!! Ngarang??
            awakmu mari kuliah kate mbalek nang pondok? Lha lapo balek nang pondok? Wong harapane kyaimu santrine kudu bermanfaat gawe wong liyo kan? trus lapo awakmu balek nang pondok? Yo kono metuo sing adoh! Awakmu iku koyok mbangun masjid ndek jero masjid! Aku yakin, awakmu mangkel tak omongi ngene. Ya babahno. Awakmu cek mikir.
            JRENG JRENG!!! Rasanya aku pengen ngambil gitar, trus tak iringi musik aja tuh bacot gak terkontrol! Sumpah deh, kalau kalian tau, ekspresinya itu kayak ngejek banget, ngece, nunjuk-nunjuk, berapi-api seakan bilang, “aku yang paling benar”. Tapi beruntunglah yang disiram api ini gak ikut kebakar pisan, kalau enggak, udah kubakar sekalian tuh wisata! Jadi, aku cuma ngangguk-ngangguk aja kayak kucing yang gak punya akal. Lha kan dia nasehatin orang kayak nasehatin hewan! 
Gambar terkait
Satu kalimat,
            ASTAGHFIRULLAHAL’ADZIIIIM….
            Istighfar deh berkali-kali.
            Masuk mobil mau pulang, aku langsung klarifikasi sama ayah dan ibu.
            kulo mboten ngoten buk! Ayah!
            Percuma kuliah kimia? Lha emang orange pernah kuliah kimia apa? Emang kuliah biar dapet pekerjaan aja gitu? Kalau kalian kuliah biar dapet pekerjaan enak, drop out aja deh guys! Bukannya jahat, tapi khawatir gak barokah hidup kalian. Klo pengen dapet uang banyak, ya kerja. Ngapain kuliah? Empat tahun ngabisin uang buat kuliah, mending kerja deh kalau ujung-ujungnya hanya untuk ‘uang’ yang udah kayak Tuhan tuh. Disembah-sembah.
Hasil gambar untuk menyembah uang
            Percayalah. Kuliah itu gak hanya untuk pekerjaan.
            Trus tentang ngajar di pondok. Masyaallaaaaaah, subhanallaaaaah, astaghfirullaaaaaaah. Jujur, pas ngomong itu pengen tak jahit tuh mulut buaya! (maaf kasar…). Gak inget apa ya, kalo dulu dia nyari ilmu dari siapa kalo gak dari guru? Emang tuh ilmu matematika buat ngitung uangnya yang segunung, darimana? Turun dari comberan? Astaghfirullaaaah, sepertinya tulisan ini bakal penuh umpatan deh. Maaf, maaf….
            Guru = kuli? Itu persamaan apaan ya?? Ooh, maklum sih. Bapaknya gak pernah belajar fisika emang. Kali aja buku fisikanya beda, makanya nyiptain persamaan kayak gitu. Trus yang mempermasalahin aku mau ngajar di pondok, itu namanya ngabdi bapaaaaak!!!! Urusannya bukan duniawi lagi. Kalau apa-apa dihitung sama nominal uang, tak saranin dah bapak itu masuk kimia! Biar ngitung tuh harga oksigen yang dihirup tiap hari! Sekalian enzim yang dibuat metabolisme tubuhnya! Mau jual semua asetnya pun juga kagak bakal bisa deh bayar oksigen sama metabolisme tubuhnya barang seharipun. Ah, tidak. Setengah hari juga untung-untungan! Cuma oksigen sama enzim-enzim lhoh ya, belum tuh mata buat lihat. Ada lensa yang buat nangkep cahaya dan diteruskan ke retina itu, sepertinya gak ada tokonya deh!
Hasil gambar untuk orang berhitung
            Ternyata eh ternyata, bapaknya gak pernah mondok. Gitu kok ya bahas-bahas tentang pengabdiannya anak pondok. Ntar deh minta dibacain kitab akhlakul banat sama anak pondok. Eh, banan sih ya klo buat cowok. Makluminlah, yang banyak omongnya kan biasanya cewek. Jadi bisa ditarik garis samarlah klo cowok banyak omongnya, berarti? Kalian lhoh ya yang bilang. Hehehe.
            Dan kata-katanya ituloh temen-temen, kasar banget gak sih?! Adekku yang kelas 3 aja gak sekasar itu ngomongnya! Masa iya, adekku tak suruh bacain kitab “Alala”??
            Temen-temen, serius deh,
            Masalah akhirat memang gak bisa dirasionalkan.
            Aku sempat berfikir gini, andaikan saja yang tadi di depanku mas ‘Ippo Santosa’, pasti beda deh. Wong rumus kayanya mas Ippo Santosa harus sedekah, yaaah berbanding terbalik sama bapak yang seriusan deh gak mau ketemu lagi aku. Ogah banget!!
Beruntung seteleh penjelasan dan pembelaan panjangku, ibuk bilang,
            “iya Anna. Ibuk ngerti.”
“ayah yo podo kok, omongane gak cocok ambek Anna. Tapi yo tak rungokno ae ambek ayah. Ancen wonge wes gelek diakali wong, makane ngomonge ngono.”
Yang kukhawatirkan, bukan betapa sadisnya orang itu menginjak-nginjak mentalku, tapi aku lebih khawatir tentang apa yang akan dipikirkan orang tuaku. Omongan racun kek gitu harus segera dinetralkan sebelum masuk tubuh dan membusuk dalam tubuh!
“ibuk ambek ayah percoyo kok ambek Anna. Anna gak koyok ngono.”
Hatiku langsung luluh. Semoga sehat terus ayah ibuku…..
Hasil gambar untuk ekspresi terharu kartun
            Dari sini, muncullah kata “matematika Tuhan”.
Yang selalu kita pelajari, 1+1 =2. Gitu kan ya? Paten deh. Gak bisa diganggu gugat. Tapi tidak dengan matematikan Tuhan. 1+1 bisa saja 10, atau 100, 1000, bahkan berjuta-juta. Malah yang berjuta-juta, milyar-milyar, triliun-triliun, malah jadinya 0. Nah, lhoh? Jadi percuma banyak nominal tapi gak berkah, yakin deh bakalan cepet habis. Kalau biasa-biasa aja tapi berkah, dijamin makmur deh! Tokonya “barokah” itu gak ada temen-temen, kalau yang nama tokonya ‘barokah’ yang ada. Hehehe
Gelar mah bisa dicari, tapi derajat ini yang bisanya didapatkan! Gak semua orang yang bergelar punya derajat dan gak semuanya orang yang punya derajat itu haru bergelar. Eits, bukan orang yang namanya derajat lhoh ya.
            Makanya itu, yuk sama-sama membangun keyakinan sama ‘matematikanya Tuhan’. Terserah mau jadi apa kita ntar nantinya, jalani aja. Yang penting bermanfaat buat orang lain, tapi bukan dimanfaatkan lhoh ya…. Hehehe
Hasil gambar untuk ekspresi senyum kuda kartun
            Setiap orang punya pendapat sendiri. Mereka benar dari sudut pandang mereka, kita benar dari sudut pandang kita, asalkan melibatkan Tuhan. Lha kalau Tuhan dianak tirikan, malah materi dan uang yang yang dijadikan Tuhan, siap-siap tendang aja deh! Jangan lupa ajak aku kalau mau nendang orang kek gitu! Ya gak nendang beneranlaah, badan kurus kering gini, langsung melayang pasti kalo kena senggol. Hehehe
            Udah deh nggunjinginku kali ini. Yang buruk-buruk segera di backlist, yang baik di checklist ya…. Hehehe
Hasil gambar untuk ekspresi minta maaf kartun
            Padahal niatnya tadi mau ngerjain revisian, lha kok ya nyasar gini. Udah-udah, selamat malem temen-temen….
            Wassalamualaikum….
            Jangan lupa doain semproku. Hahaha