Validasi? (Teriakan Tengah Gerbang)
Kemarin adalah hari terakhir Raka terapi di Bangil. Setelah kejadian kemarin, sepanjang jalan aku berusaha menata hatiku dan menetralkan semua ingatan hari sebelumnya. Namun phleghy, tetaplah phleghy. "seperti rencana awal aja, yang. Tak tunggu depan gerbang, samean anter Raka. Trus nanti ke mie Jol," bilang suamiku saat aku mengubah rencana untuk lewat gerbang belakang saja. Menyembuhkan hati yang luka sesulit itu bagiku. Satu kalimat saja sudah cukup membuatku kepikiran berhari-hari, apalagi jika dibarengi bentakan. Aku tak mau uji coba ketahanan hatiku dengan memaksanya biasa saja. "enggeh pun, nggeh." Turun dari motor, aku langsung melihat bapak kemarin berdiri di tengah gerbang. Aku menarik napas dalam sembari menguatkan diriku sendiri. Jujur saja, yang kurasakan bukan tidak suka atau benci, tapi takut. Aku melewati gerban...





