Teriakan Tengah Gerbang

     Sekolah tempat terapi Raka sedang renovasi. Jadi, mulai kemarin gerbang depan ditutup dan kami diminta untuk lewat belakang. Seperti biasa, setelah Raka masuk, aku dan suami menghabiskan waktu di alun-alun Bangil dan kembali lima menit sebelum Raka keluar kelas.

    "mas, Raka naik depan saja, ya," bilangku. Setiap kali naik di belakang, Raka selalu minta berdiri. Megangin terus selama 45 menit perjalanan, cukup membuat tanganku lelah karena Raka sambil nyandar. Lebih mending dia tidur saja seperti ketika berangkat meskipun tanganku kebas.

    "Raka, Raka di depan ya." Ayahnya menata tas-tas di cantolan agar cukup untuk Raka berdiri.

    "en-dong." Raka menjulurkan tangannya padaku.

    "berdiri aja ya, nak." Aku memohon.

    "en-dong!" Perintahnya sambil wajah merengak. Aku dan suamiku saling berpandangan dan akhirnya mengalah. Raka berdiri di belakang.

    Setelah memastikan semua sudah siap, suamiku menyalakan sepeda motor dan memutar setir ke arah belakang. Tapi ternyata, di tengah gerbang dipasangi andang, jadi kita gak bisa lewat. Mau gak mau, akhirnya kami putar balik untuk lewat gerbang depan. Di sana sudah ada satpam yang menjaga. Satpam sama yang selalu membalas sapaan dan permisi kami tiap kali lewat.

    Halaman sepi, karena istirahat sudah berakhir sepertinya. Ketika mencapai tengah-tengah, suara peluit langsung dibunyikan. Suamiku berhenti dan menyampaikan kalau gerbang belakang gak bisa dilewati.

    "ditutup pak."

    "...." Satpam itu berteriak yang kami tidak dengar. Akhirnya suamiku mendekat agar bisa mendengar lebih jelas. 

    "DITUNTUN! WOCOEN TA!" Dia menunjuk papan yang aku tidak terlalu yakin sengaja di pasang ataukah tidak, karena letaknya terlalu tersembunyi untuk dijadikan pemberitahuan. Belum sempat aku membaca setelah mengikuti arah telunjuknya, aku langsung turun dan mengangkat Raka yang masih berdiri di atas motor.

    Suamiku ber-oh sebelum kemudian menuntun motornya keluar gerbang. Aku? Aku sudah kepalang terkejut mendapat teriakan seperti itu. Tidak ada lagi permisi yang bersambut, bahkan suamiku yang ternyata sempat meminta maaf juga tak mendapat balasan. Wajahnya yang mengeras dan gersang dari keramahan membuatku enggan menunggu respon balasan permisi.

    Dan aku, tetaplah aku. Kejadian itu membuat pandanganku kosong selama perjalanan pulang, bahkan ketika diajak ngobrol nanti masak apa pun aku malah membalas dengan jawaban yang tidak sinkron.

    "kepikiran tadi ta?" Tebak suamiku.

    "mboten..." Aku tak mau dianggap terlalu memikirkan hal-hal yang sudah terjadi.

    "kepikiran yaaaa," Tertawanya yang menyebalkan terlihat dari spion. Otomatis, ekpresiku sedari tadi juga berhasil ia akumulasikan sebelum membuat kesimpulan. Jadi percuma saja aku bilang tidak.

    "iiih, enggeh lho. Ya Allah, kok iso dibengok ngunu lho. Kan saget nggeh, sanjange, 'dibaca di situ ya pak' ta gimana gitu. WOCOEN IKU? Kan, yok nopo nggeh mas." Mengingat bagaimana di sekitar halaman tadi juga banyak orang tua yang menunggu anaknya pulang dan guru-guru juga, sepertinya tidak elok menegur dengan cara seperti itu.

    Suamiku tertawa. Kok, tertawa?

    "ngene lho, yang. Lek kene salah, ya njaluk sepuro."

    "wau mas nyedi sepuro?"

    "iyolah, ngapunten pak."

    "terus gak dibales?"

    "enggak. Hahaha."

    "ih, kok ngoten se."

    "Terus, kene kate ngamuk pisan ngunu? Tukaran ambek juru parkir? Gak usah dilebokno ati."

    "gak tak lebokno ati, mas. Tapi tak lebokno pikiran. Berusaha tak logika-kan. Otak kulo sing, 'ha?' Maksudnya memang harus diperlakukan seperti itu ya?"

    "Iku lho yang membedakan wong sing berpendidikan ambek enggak. Babah wis. Pengalaman iki iso didadekno pembelajaran nang arek-arek. Mene ya ngguyu mane wonge."

    "mboten wis. Mboten parkir dalam! Parkir di miejol (sejenis mie gacoan) ae. Engken mas ngentosi ndek luar, Raka tak teraken masuk. Trus kita ke miejol. Pulangnya kurang lima menit, tak jemput juga sambil jalan kaki. Mas tetap nunggu di luar."

    "enggeeh, oke." Sahutnya dengan mengangkat jempol kiri.

    Padahal aku sudah memberi rate 9.5/10 pelayanan lingkungan sekolah yang kebetulan menjadi cabang tempat terapi Raka. Tapi kejadian tadi, sepertinya dengan berat hati harus kuturunkan karena ruang amanku jadi goyah. Entah karena aku selalu mempercayai jika semua orang selalu baik, ataukah aku yang enggan menyadari bagaimana dunia berjalan. Tapi yang jelas, aku bersyukur karena besok adalah hari terakhir kami terapi di cabang Bangil. Sebab minggu depan, kami akan pindah ke Pandaan. Yeay!


29 Oktober 2026

15.59 WIB

Komentar

  1. Setelah kupikir dengan tenang, barangkali memang ada satu sisi yang tadi kuabaikan agar posisiku mendapat pembelaan. Naluriah manusia.

    Dan kini aku akhirnya bisa dan mau melihat sisi yang kuabaikan tadi. Kita tidak tau apa yang dialami bapak itu sebelumnya. Maaf karena menyinggung tentang pendidikan, tapi mungkin ini lebih ke regulasi emosi di tempat umum. Apapun dan bagaimana tadi bapak itu menyampaikan, barangkali hari ini ada tumpukan emosi yang akhirnya harus diledakkan. Kebetulan saja, objeknya kami.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer