Sabtu, 19 Mei 2018

Ketika Itu


Hasil gambar untuk muslim melamar kartun          
  “ISTI’DAADAN! PERSI-APAN!” komando Nafa dengan suara lantang.
            “SIAP!” jawab serentak anak-anak yang duduk berjajar di depannya.
            “BERDOA, MULAI!”
            Allahummarhamna bil Quran. Waj’alhu lanaa imaama wa nuuro wa huda wa rohmah. Allahumma dzakkirnaa minhumaa nasiina wa ‘allimna minhuma jahilna warzuqna tilaawatahu. Aana al laili wa athro fan nahaar. Waj’alhulana hujjata yaa robbal ‘alamiin. Subhanakallahumma wa bihamdika Asyhadualla ilaha illa anta astaghiruka atuubu ilaih.”
            “waassalamualaikum waraohmatullahiwabaokatuh!”
            Setelah menjawab salam, tangan-tangan mungil mulai menjulur di depan wajah Nafa  berharap agar di jabat terlebih dahulu sehingga mereka bisa langsung pulang. Ada beberapa pula yang saling adu dorong tidak mau berada di belakang.
            Nafa tersenyum. Dia selalu senang melihat tingkah lucu mereka. Meskipun seharian tadi berada di kampus dan berkutat di laboratorium, lelahnya serasa dihapuskan dengan candaan murid-muridnya.
            “gentian, gak boleh rebutan. Gak usah lari-lari. Jangan lupa diulang ngajinya di rumah.” Nafa berkomat-kamit mengingatkan. Setelah anak-anak, barulah ibu-ibu yang mengantarkan anaknya berpamitan.
            “makasih ya bu. Pamit dulu. Assalamualaikum,”
            “waalaikumsalam,” jawab Nafa seraya tersenyum. Ada kelegaan tersendiri tiap kali melihat anak-anak pulang dari mengaji. Seperti ada sedikit konstribusi yang ia berikan untuk dunia yang sudah penuh dengan caruk-maruk tidak kearuan. Ia hanya berharap agar murid-muridnya tumbuh menjadi orang yang sukses dan berguna bagi bangsa dan agama. Ah, doa yang klise bukan?
            Ia tengah memberesakan bangku yang telah digunakan untuk mengaji tadi, ketika ada suara salam yang diucapkan dari pintu.
            Dua orang laki-laki berdiri dan melihat ke arahnya.
            “wa’alaikumsalam?” Nafa menghampiri dengan kepala penuh tanda tanya. Siapa mereka? Ada keperluan apa? Apakah ada undangan lomba TPQ lagi seperti dulu?
            “boleh kami masuk dulu?”
            “silahkan,”
            Sebenarnya ia merasa tidak enak menerima tamu di musholla. Tapi mau bagaimana lagi? Menerima mereka dengan berdiri bukankah lebih tidak sopan lagi? Seenggaknya dia harus tau dulu apa kepentingan mereka. Dan kemungkinan besar tentang TPQ. Apalagi?
            “jadi? Ada keperluan apa ngge?” tanya Nafa.
            “perkenalkan, saya Haidar dan ini teman saya Zidan,” laki-laki berbaju kotak-kotak itu melirik temannya yang memakai baju putih.
            “saya Nafa,” balas Nafa mencoba ramah, meskipun rasanya canggung sekali. Entah karena ia yang memang tidak terbiasa berhadapan dengan laki-laki sendirian, ataukah ada hal lain yang membuat hawa di sini tiba-tiba aneh sekali.
            “ini mbak, temen saya mau ngomong sesuatu,” Haidar menyenggol lengan Zidan.
            Nafa menemukan gelagat yang berbeda. Entahlah, tiba-tiba saja ia merinding dan takut sekaligus.
           “maaf sebelumnya kalau sudah mengganggu waktu ukhti.” Pemuda bernama Zidan itu mengangkat suara. Suara yang entah kenapa sejenak membuat Nafa tercekat. Ada karisma di sana.
            “jadi, maksud kedatangan saya ke sini ingin bertanya beberapa hal pada ukhti. Apa ukhti, maaf, sudah menikah?”
            Deg! Pertanyaan macam apa itu? dan secara tiba-tiba!
            “apa saya terlihat seperti perempuan yang sudah menikah?” Nafa mencoba menjawab dengan guyonan. Padahal hatinya dag dig dug tidak karuan.
            Pemuda itu tertawa.
            “enggak kok, malah kelihatan seperti masih SMA,” timpal pemuda itu yang langsung disikut temannya yang bernama Haidar. Zidan istighfar, seakan mencoba mengembalikan kesadarannya kembali. Ia lalu melihat Nafa.
            “kalau calon?”
            “eh?” mata Nafa membulat, dan jantungnya memukul-mukul dari balik dadanya dengan keras. Ia sangat terkejut, sungguh! Apa sebenarnya maksud kedatangan dua pemuda asing ini?
            “maaf, sebenarnya ini ada apa ya?” Nafa mencoba bertanya.
            “boleh saya jelaskan di rumah ukhti saja?”
            “rumah saya? Maksudnya?”
            Pemuda itu tersenyum lagi. “boleh saya minta alamat rumah sama nomor hapenya? Insyaallah saya mau silaturrahmi ke rumah ukhti.”
            Tunggu! Silaturrahmi? Bukankah aku dan dia baru saja bertemu? Batin Nafa.
            Pemuda itu menyodorkan kertas.
            “saya kemarin-kemarin tanya sama ibu-ibu sekitar sini alamatnya ukhti, tapi tidak ada yang tau. Katanya ukhti bukan orang sini. Makanya itu saya nekad menanyakan langsung sama ukhti.
            Jujur, Nafa speechless!! Ia tidak pernah membayangkan akan dihadapkan dengan situasi yang seperti ini. Dia kira, setelah anak-anak pulang tadi, ia bisa segera balik ke kamar dan beristirahat. Tapi???
            “insyaallah saya tidak macam-macam kok ukhti. Saya cuma berniat baik.”
            Niatnya memang baik, tapi hati Nafa yang tidak bisa menerima dengan baik! Berkali-kali Nafa menenangkan hatinya, agar bisa lebih bijak dalam berpikir dan tidak terlalu ceroboh. Jika dilihat dari penampilannya, dia tampak seperti orang baik. Dari tutur katanyapun juga tidak ada sifat jahat. Dari sorot matanya, Nafa bisa tau kalau yang dikatakan pemuda itu memang tulus. Tapi tetap saja ia bingung.
            Entah kenapa Nafa menggerakkan jari menuliskan alamat rumahnya.
            “apa akhi tidak menanyakan pendapat saya dulu? Kita baru saja bertemu.”
            “Insyaallah nanti saya jawab semua di rumah ukhti.
            akhi belum mengenal saya,”
            “kita bisa ta’aruf setelah saya minta izin ke orang tua ukhti dulu.”
            Ini apa-apaan! Horror sekali!!! Saat itu yang berada di pikiran Nafa, bagaimana caranya agar bisa keluar dari sana! Ia benar-benar tidak siap! Urusan pemuda bernama Zidan itu, bisa dipikir belakang. Tidak baik diambil serius terlebih dahulu. Toh, ia juga belum tentu akan ke rumah Nafa ataukah tidak. Jangan-jangan cuma modus. Anggap saja seperti itu.
            “maaf, jika tidak ada yang ingin ditanyakan lagi, saya balik dulu.”
            “lhoh, nomornya gak ditulisin juga mbak?” Haidar berkata.
            “harus pake nomor juga?”
            “jaga-jaga kalau nanti kesasar pas ke sana,”
            Nafa mengambil kertas itu dan menulis deretan angka di sana.
085815 xxx xxx (Ayah)
            Lalu meninggalkan kedua pemuda itu setelah mengucap salam. Hatinya tidak karuan. Kepalanya bingung, tidak tau mana yang harus dicerna dan dipikirkan terlebih dahulu. Dalam perjalanan pulang ia teringat seseorang. Seseorang yang memberikan harapan masa depan bersamanya, namun tak kunjung menegaskan hubungan mereka. Berkata mengikhlaskan, tapi tak bisa melepaskan. Belum berani memastikan, namun masih mengikatnya. Dengannya yang saling menitipkan salam rindu lewat doa. Begitupun ikatan yang terlepas di bibir namun terikat dalam doa. Mungkin.
            Dalam lamuannya, ada harapan agar pemuda tadi tidak benar-benar ke rumahnya.



SNJ, 190518

Kamis, 17 Mei 2018

Terjebak Dalam Mimpi


Hasil gambar untuk lucid dreaming
Hari itu aku tertidur dan bermimpi. Dalam mimpiku, aku seakan melewati sawah yang di sampingnya berdiri bangunan besar bersama teman-temanku. Saat itu aku benar-benar merasa bahagia.
“Ayo lari mbak Anna!” teriak salah satu temanku. Tapi sepertinya ada yang aneh. Teman-temanku adalah teman kuliah, namun kita bermain di tempat ketika aku kecil dulu yang sudah pasti tidak seharusnya mereka mengetahuinya. Saat itu aku sadar, kalau aku tengah ‘BERMIMPI’.
Yah, aku memang sering sekali sadar dalam mimpi. Bahkan tak jarang aku seakan menggerakkan mimpiku seperti kemauanku sendiri. Aneh memang, namun ketika aku bertanya pada ‘google’, ada penjelasan ilmiah tentang itu. LUCID DREAMING, mereka menyebutnya.
Tanggung sudah sadar kalau bermimpi, akhirnya aku mengikuti saja kemana mimpi ini membawaku. Lalu aku ingat, kalau ada temanku diyyah yang tadi berkata mau ke kamarku hendak meminjam laptop yang berarti aku harus bangun dan mengakhiri mimpiku. Akhirnya, aku berusaha bangun dan memotong mimpiku.
Mbak, ntar ke kampus jam berapa?
Sebuah pesan muncul di layar hapeku. Hari ini aku tidak ada jam kuliah, karena kabar kemarin mengatakan kalau kuliahku diganti besok. Syukurlah, karena aku juga belum belajar untuk presentasi. Tapi bagaimanapun juga, aku nanti juga harus ke kampus, konsul.
Lalu aku membalik badanku, dan tertidur lagi. Tapi ada yang aneh. Rasanya aku tidak benar-benar tidur, atau mungkin aku tadi tidak benar-benar bangun. Lalu aku sadar kalau ternyata aku masih dalam ‘MIMPI’.
Aku menghela napas. Ku perintahkan pada neuron saraf-sarafku agar mengirimkan sinyal yang membuatku sadar. Ketika terbangun, aku berada di atas kasurku. Kulirik mbak Citra yang masih mengerjakan tugas dengan laptopku.
“mbak, jam berapa?” kutanya.
“setengah 9 An, tidur lagi aja.”
Dan entah kenapa tiba-tiba aku jatuh tertidur lagi. Padahal niatku ingin terbangun. Lagi-lagi ada yang aneh. Perasaan yang sama ketika aku tidak benar-benar terbangun. Yah, aku terbangun dalam mimpi.
Aku mulai kesal. “aku mau bangun!” teriakku pada diri sendiri. Kupaksa tubuhku untuk tergerak, lalu mataku terbuka. Ada Diyyah di sana. Rupanya dia sudah datang, yang berarti aku sudah ‘terbangun’.
“mbak, ini aku pinjem laptopnya ya.” ucap diyyah. Aku mengangguk.
“trus tadi ada yang WA pean, tanya namanya pak Anton. Jadi tak bales.”
Tanya namanya pak Anton? Aku mulai merasakan keganjalan. Aku melihat mbak Citra yang asyik dengan hapenya namun tidak melihat ke arahku.
“jam berapa ini?” kutanya.
“setengah sepuluh mbak.”
Keningku berkerut. Secepat itukah? Maksudku kalau aku benar-benar terbangun dalam mimpi, waktu tidak berjalan secepat itu. Untuk kesekian kalinya aku sadar kalau ini mimpi. Beberapa saat aku seakan ditarik dalam mimpiku kembali, lalu aku memaksa keluar dan langsung terduduk.
“lepasin aku! Aku mau bangun!” aku mulai panik! Aku kahwatir terjebak dalam dunia mimpi terus menerus dan na’udzubillah, meninggal dalam keadaan aku belum siap bekal. Bagaimana dengan mereka yang kutinggalkan nantinya?
Aku mulai menyebut nama Allah, istighfar berkali-kali dan membaca apapun yang bisa kulafalkan. Pasti kalian juga pernah merasakan kalau berada di alam mimpi, terkadang membuat lari kita melambat dengan sendirinya, tiba-tiba suara kita hilang, tiba-tiba kita tidak bisa mengucapkan satu katapun atau lupa dengan ayat-ayat yang dihafalkan.
Aku mencoba merintih, memicu ‘tubuhku’ agar memanggil jiwaku kembali. Setelah aku yakin berada di bawah atap kamarku lagi, aku langsung terduduk. Di sana, hanya ada mbak Citra, diyyah tidak ada.
“mbak Citra, aku benar-benar bangunkan ini?”
“iya An, kamu bangun kok.”
Tapi rasaku masih tidak enak. Sungguh!
“cubit tanganku mbak,”
Firasatku benar! Aku masih belum benar-benar bangun. Tuhaaan, apa aku benar-benar akan kau panggil? Aku sudah kalap. Aku masih berusaha mengirim sinyal-sinyal, entah apa, agar aku benar-benar bangun! Apapun kubaca. Ayat-ayat yang kuingat. Khawatir ‘makhluk’ lain yang mengganggu. Karena dari dulu, aku termasuk anak yang dalam bahasa jawanya sering tindihen. Terkadang mereka memperlihatkan diri, kadang juga tidak. Pertama kali mereka memperlihatkan diri, aku langsung menangis dan tidak mau tidur.
“pelairane Anna Rabu Legi, makane akeh makhluk sing nyideki dan nyenengi”
Begitulah yang dikatakan kakek. Ya apuuun, ya kalau ‘makhluk’ di sini itu adalah manusia, ya aku bersyukur banget! Masalahnya ini makhluk-makhluk ‘itu’!! Terakhir kali, aku mendengar ‘mbak kunti’ tertawa di telingaku seraya pergi ketika aku dalam keadaan sadar. Benar-benar sadar! Dan aku kesal sekali! Jahil banget sih! Iya kalau tertawanya anggun gitu.
Kembali pada aku yang masih ‘terjebak’ dalam dunia mimpi.
Kali ini, aku benar-benar pasrah. Sadar ‘dalam’ mimpi dan sadar ‘dari’ mimpi, rasanya beda sekali. Untuk kali ini, aku serasa merasakan alam manusia lagi. Seperti habis terkurung dalam penjara bawah tanah, lalu keluar ke alam bebas. Antara lega, terharu dan tak bisa terbahaskan lagi. Aku bersyukur karena ternyata aku masih hidup.
“Anna, kamu kenapa? Tadi kamu kayak merintih-merintih gitu. Mimpi buruk?” mbak Citra (nyata) bertanya. Aku terduduk.
“mbak, pean mbak Citra beneran kan?” aku balik bertanya.
Mbak citra tampak bingung melihatku.
“cubit tanganku mbak,”
Mbak Citra menurut, dan aku langsung merintih.
“alhamdulillaaaaaah,” syukurku.
“kenapa An?”
“mbak, aku habis TERJEBAK DALAM MIMPI!”
Lalu ceritapun mengalir.

***
Mungkin kalian juga pernah mengalami hal seperti ini. Mimpi dalam mimpi, yang terkadang terdiri dari dua mimpi atau lebih. Namanya ‘LUCID DREAMING’, kalau kalian ingin mengetahuinya. Lain halnya dengan tindihen, yang masih bisa dijelaskan dengan ilmiah. Lucid Dreaming ini memang memilki penjelasan ilmiah, namun para ilmuan juga masih tidak terlalu yakin. Absurd banget emang, tapi benar-benar ada. Biasanya, aku mengalami Lucid Dreaming ini dalam dua mimpi saja, tapi entah kenapa kali ini berkali-kali hingga membuatku kalang kabut. Namun, Alhamdulillah, aku masih diizinkan Tuhan buat ‘bangun’ dan melihat dunia nyata kembali. Kalau tidak, mungkin tulisan ini tidak akan ada. Hehehe
Entah kalian mau percaya atau tidak, itu hak kalian. Yang jelas, aku tidak bisa bercerita tanpa aku pernah mengalaminya sendiri. Dan memang, berusaha untuk memahami yang ‘Absurd’ itu sulit sekali. Cinta misalnya. Eh, jangan salah. Cinta itu juga hal yang Absurdd lhooo....
Hahaha

SNJ, 170518

Minggu, 06 Mei 2018

Ayah (hanya) Cemburu Padamu!



           


Dulu, aku pernah berpikir kenapa seorang laki-laki selalu takut pada ayah si perempuan? Toh, jikapun mereka bakal bersama, bukankah ayah si cewek bakalan jadi ayah si cowok juga? Menurutku itu adalah sesuatu yang tidak perlu dikhawatirkan. Tapi itu dulu, saat aku masih memakai seragam. Sekarang, baru kumengerti bagaimana rasanya berada di antara sosok ayah dan seseorang yang mungkin akan menjadi ayah anak-anakku kelak. Lha, PD banget! Hahaha

            Memang benar, cowok adalah ‘spesies’ yang paling sulit untuk menunjukkan apa yang sebenarnya mereka rasakan. Sejak kecil, aku selalu mengenal ayah sebagai ‘menteri keuangan’. Terkadang ayah serasa seperti ‘mesin ATM’ tempatku meminta uang atau kabur ketika dimarahi ibu. Jika seorang ibu bisa dengan gamblang menerangkan kasih sayang pada kita, ayah adalah kebalikannya. Sayang ayah mulai kumengerti ketika aku mulai memakai seragam hijau-hijau (MA) dan semakin kumengerti ketika aku menginjak bangku kuliah.

           Dulu, aku ngerasa ayah tak pernah mau tau dengan sekolahku, yang penting uang sakuku tidak kehabisan. Tapi tidak tau juga kalau diam-diam ayah menanyakannya pada ibu. Akhir-akhir ini, ayah jadi ikut nimbrung ketika aku bercerita dengan ibu bahkan juga adik-adik.

            “ayah sakiki luluh, kenek omelane ibuk. Ambek fatihah.”

            Aku tertawa.

            Selayaknya kawula muda pada umumnya, sudah pasti ada kisah ‘merah jambu’ bukan? Tak perlulah kuceritakan, nanti ke-PD-an’nya’ tambah gedhe kalau kuceritain. Hhh. Intinya, masalah ‘itu’ bukan rahasia lagi dari ayah dan ibu. Maklumlah, semester tua, kepala dua, serangan pertanyaan kotor seperti ‘kapan wisuda?’ dan ‘kapan nikah?’ rasanya gak ada habisnya. Jadi, perlu diskusi internal. Eak, bahasanya! Hahaha

            Jadi singkatnya, ayah adalah yang paling ‘alot’ kalau aku bercerita tentangnya. Padahal ibu udah kayak ‘klop’ gitulah. Ikatan batin anak dan ibu. Hehehe. Sering kali kalau aku cerita, pasti ibu yang dukung pernyataanku. Bahkan pernah ketika aku bercerita kalau ia memarahiku, malah dia yang dibela. Ini apa-apaan coba anaknya gak dibela? Huh!

            Kembali pada ayah.

            Usut punya usut, ternyata ketahuan apa yang membuat ayah seperti itu. Ibu bilang, Ayah cemburu! Yah, aku memang selalu menjadikan ayah sebagai perbandingan, dan perbandinganku selalu didukung ibu. Tak jarang juga, akhirnya ayah yang dibully sama istri dan anaknya. Hahaha. Jadi ayah cemburu gitu sama dia! Masyaallaaah, apaan ya ini?!?!? Bahkan kata-kata, Cinta pertama seorang anak perempuan itu adalah ayahnya, aja gak mempan! Hahaha.

            Dari sini aku tau, kalau ayah hanya berat melepasku. Anak perempuan pertamanya. Bahkan ayah berharap kalau nantinya ingin aku tinggal di rumah aja, atau buat rumah di belakang rumah. Biar deket, gak jauh-jauh. Padahal aku sudah ancang-ancang untuk ‘ditendang’ karena biasanya anak pertama perempuan pasti dibawa kabur suaminya. Tapi ya gak tau juga, apa kata ‘imamku’ kelak. Aku mah nurut aja, dan didiskusikan bareng dulu tentunya.

            Ayah hanya terlalu sayang, hingga masih sulit menerima kalau nantinya aku bakal bersama orang lain. Padahal, dengan siapapun aku nantinya, ayah bakal tetap menjadi cinta pertama. Awalnya aku su’udzon, kenapa sih ayah sensi banget? Banyak pertanyaan yang muncul, dan ketika aku tau alasannya, aku bisa mengerti. Yah, sayang seorang ayah atau mungkin semua laki-laki memang tidak bisa dilihat secara langsung. Adakal ketika kita sampe frustasi mikirin, maksudnya apa sih? Maunya apa? Tapi semua pertanyaan-pertanyaan itu tidak bisa kita dapatkan hanya dengan satu kali bicara, karena laki-laki adalah ‘spesies’ yang paling sulit kalau disuruh njelasin dibanding perempuan. Iya gak? Maklumlah, secara bahasa perempuan memang paling cerdas. Bilang aja kalo lebih cerewet! Hahaha

            Jika seorang ayah takut kehilangan cinta seorang anak perempuannya, mungkin itu juga berlaku untuk seorang ibu yang khawatir kehilangan cinta anak laki-lakinya. Jadi pada intinya, seorang laki-laki harus bisa mengambil hati ayah perempuannya, sedangkan perempuan juga harus bisa mengambi hati ibu laki-lakinya. Bentar deh, ini jadi bahas apa ya? Hahaha. Tenang aja deh, tulisan ini tak privasi buat orang tertentu.

            So, jalani apa yang harus dijalani. Usahakan apa yang harus diusahakan. Dan jika kamu baca ini, dapat salam dari ibu, katanya suruh ke rumah. Kalau mau ketemuan di pondok, harus di depan romo kyai. Hahaha

             

SNJ, 060518


Minggu, 29 April 2018

Setoran, Kamu dan Dia


            Gambar terkait
Hari ini, tidak biasanya aku mempersiapkan setoran di tangga asrama. Biasanya, aku mempersiapkan hafalanku di tangga masjid karena lebih dekat jika harus ke ndalem neng Luluk. Selain itu, mencari tempat yang udah sreg untuk ‘berkencan’ adalah hal yang sulit.
            “Mbak Nafa gak jamaah ya?” tanya Rini, anak asrama.
            Aku tersenyum kuda. Yaps! Alasan kenapa aku mempersiapkan hafalan di asrama adalah karena aku telat jamaah maghrib. Terlanjur kena ta’zir karena gak ikut jamaah, ya sekalian aja gak berangkat. Iya gak?
            “mbak, ntar kalo mau berangkat aku diajak ya mbaak, aku belum nambah sama sekali,” rengek Rini dengan wajah yang memelas.
            “santai aja Rin, aku juga belum lancar kok,” jawabku yang ditanggapi dengan sorakan Rini. Entah kenapa ketika kita belum menyelesaikan sesuatu misalnya tugas, ketika ada teman yang belum juga rasanya senang sekali, bukannya mengajak untuk menyelesaikan bersama. Perasaan menjadi tenang saja. Seakan ada teman jika nanti akan dimarahi.
            “siap mbak!” Rini mengambil tempat di seberangku, lalu tenggelam dalam Al-Qurannya. Begitupun denganku. Baru beberapa bulan kemarin aku memutuskan untuk menjalin ‘ikatan’ dan Al-Quran. Entahlah, banyak alasan dari Alif hingga Ya’ yang tidak bisa kuceritakan. Yang jelas saat itu hingga saat ini aku menyesal, kenapa tidak memulai lebih awal?
            “Lail, di neng Luluk udah ada mbak-mbak kah?” tanyaku saat melihat Lail memasuki gerbang asrama.
            “Udah mbak, lumayan banyak.”
            “oke, makasih!”
            Prinsipku, aku tidak mau maju pertama dan tidak mau maju terakhir. Jika maju pertama, aku masih belum siap. Aku tidak mau menjadi perubah mood neng Luluk karena ketidaklancaranku yang bisa saja berpengaruh pada mbak-mbak yang setoran setelahku. Jika terakhir, aku juga tidak mau. Karena setoran terakhir, waktunya terlalu mepet dengan sekolah diniyah. Tapi berbeda jika ini masalah tentang cinta. Aku ingin menjadi pertama dan terakhir. Aku tidak mau menjadi intermediet (di tengah-tengah) yang keberadaannya tidak dianggap. Hanya seperti numpang lewat saja. Yah, meskipun tidak menjadi yang pertama, aku ingin menjadi yang terakhir. Dermaga terakhir yang membuatnya berlabuh dan berhenti mencari. Hahaha. Apapula yang kubicarakan ini.
            Kembali pada setoranku.
           Kulirik Rini yang masih mengkomat-kamitkan mulutnya. Ia memintaku mengajaknya jika mau berangkat. Tapi sepertinya ia masih belum sepenuhnya siap.
            “Rini, jadi bareng?” tanyaku. Rini menatapku lalu memasang wajah sendu.
            “mbaaak, aku belum hafaaaal,”
            “kurang banyak? Mau ditungguin?”
            “jangan wes mbaak. Duluan aja gak papa, nanti aku tak berangkat sendiri.” jelasnya.
            “beneran?”
            Percayalah, ketika muroja’ah gak lancar dan nambah hafalan sulit, itu galaunya minta ampun dah! Aku pernah duduk di bawah tangga masjid setiap habis maghrib selama sekitar 3 hari berturut-turut. Bukan nambah hafalan, tapi nangis sambil ngeliat ke ndalem. Tiga hari berturut-turut itu, satu halaman yang kuhafalin gak masuk-masuk sampe rasanya frustasi! Yah, ketika itu aku memang dalam masa kepatah-hatianku yang teramat sangat dengan seseorang. Saat itu aku sadar, kalau Al-Quran memang tak mau duain. Dia adalah paling pencemburu.
            “iya mbak,” jawab Rini yang membuatku sedikit lega.
            Akhirnya aku berdiri dan menekuk pinggangku hingga mengeluarkan bunyi kretek. Ku rapikan mukenahku sekenanya, lalu berjalan ke arah gerbang. Mulutku masih menggumamkan ayat-ayat yang nanti mau kusetorkan agar tidak lupa. Ketika aku keluar dari gerbang, tiba-tiba saja aku hampir bertabrakan dengan bayangan seorang laki-laki bersarung yang mencuci kaki di kolam kecil depan asrama.
            “Astaghfirullah!” sentakku yang langsung mundur ke belakang. Keterkejutanku semakin bertambah ketika aku tau siapa laki-laki itu. Dia adalah yang membuat mas Al-ku cemburu, Fatih. Sontak, terdengar kata ‘Ciyeeeee’ yang diucapkan serentak seperti paduan suara oleh teman-temannya, sedangkan aku langsung masuk kembali ke dalam asrama. Syok!
            Jantungku berdetak keras sekali sampai aku bisa mendengarnya. Suhu tubuhku tiba-tiba memanas. Napasku tidak teratur. Rasanya masih belum percaya dengan kejadian barusan. Kok bisa?!?! 
            Setelah napasku kembali normal, aku melangkahkan kaki ke luar asrama. Fatih dan rombongannya, -entah siapa saja- sudah berjalan ke arah timur asramaku. Aku bertanya-tanya hendak kemana kiranya mereka? Namun pikiran itu buru-buru kuhapus. Aku langsung menggumamkan ayat-ayat yang tadi kuhafalkan. Setelah waktu yang lama untuk berbaikan dengan’nya’, aku tidak mau membuatnya cemburu lagi.
            Selidik punya selidik. Jantungku masih berdetak keras. Entah karena hafalanku yang tiba-tiba tidak lancar, atau karena Fatih yang barusan lewat. Saat itu yang kutau, terjadi ‘peperangan’ di batinku. Dan aku tidak tau, lebih tepatnya belum tau bagaimana cara untuk mendamaikan mereka. Mengkondisikan hatiku sendiri.

Memimpikanmu


Hasil gambar untuk gambar muslim dan muslimah mengaji kartun
Ruangan itu tidak terlalu besar. Dengan seperangkat kursi dan meja yang terbuat dari ukiran kayu, membuatnya terlihat lebih natural. Beberapa foto terpampang di dinding ruangan, menyembunyikan setiap kisah di balik sebuah jepretan. Aku mengulang hafalan yang selama ini sudah kusetorkan pada seorang lelaki yang berada di depanku. Aku tak bisa memastikan siapa dia, yang aku tau, saat-saat terbaikku adalah ketika bersamanya.
Tuk tuk tuk.
Aku mendengar ketukan jarinya pada kursi yang menandakan ada yang salah dengan bacaanku. Secara reflek, akupun mengulang bacaanku kembali. Satu ayat, dua ayat, tiga ayat, aku mendengar suara ketukan itu lagi. Dan seperti sebelumnya, aku mengulang bacaanku kembali. Namun tiap kali aku mengulang bacaanku, ketukan itu tak berhenti-berhenti. Akhirnya aku mengangkat kepalaku dan ingin menyatakan aku menyerah. Biar dia kasih tau saja yang mana bacaanku yang salah. Selayaknya orang yang berkendara dan tiba-tiba terjebak macet di tengah jalan, pastilah sangat menguras emosi. Begitupun saat bacaanku tiba-tiba berhenti di tengah jalan, rasanya ngalahin orang yang tengah putus cinta. Ah, aku baru ingat. Sejatinya, bacaanku, Al-Quranku adalah pacar yang paling pencemburu.
Aku menghela nafas panjang dan ingin menatapnya saat tiba-tiba ada sebuah tangan menyentuh bahuku. Ku kira tangan itu adalah tangan besar yang memikul tanggung jawab keluargaku, namun tangan yang kurasakan dibahuku adalah tangan halus dan kecil. Seperti tangan perempuan. Perlahan aku melihat bayangnya yang mulai kabur digantikan bias-bias cahaya yang masuk ke dalam retinaku dengan paksa. Seakan terpaksa menerima bias itu masuk dalam mataku, aku memicingkan mataku saat menangkap sebuah bayangan di depanku. Langit-langit yang sangat ku kenal, dan seorang perempuan.
“Nafa, setoran yuk.” Ujarnya.
Aku mengerjap-ngerjapkan mataku seakan mengumpulkan nyawa. Meskipun sebenarnya aku sedikit menyesal karena membuka mata. Jika saja lebih lama, aku mungkin bisa mengetahui wajahnya.
“sekarang?” tanyaku lemah. Bagaimanapun juga kuliah dari pagi hingga sore non-stop, membuat mataku berat dan tubuhku lemah. Aku baru ingat, ternyata  tadi aku hanya berniat menaruh tubuhku di atas kasur sebelum berangkat menyetorkan hafalanku. Ternyata niatan itu berubah menjadi candu mataku untuk terpejam.
“iya. Aku tunggu ya.” Ucapnya.
Aku menghela napas panjang, dan menarik tubuhku dari rekatan kasur dengan berat.
Aku belum menambah banyak hafalanku.

Kamis, 12 April 2018

Anakku Berbeda


Kuceritakan pada kalian tentang sebuah kisah. Kisah yang tidak mungkin kudapatkan jika aku hanya berdiam diri tanpa mencoba mengecap sedikit tentang arti perjuangan, tanggung jawab dan pengorbanan.

Sore tadi, di TPQ.
            “anak saya berbeda dengan anak yang lain,” ucap seorang ibu ketika anak-anak sudah pulang, pun orang tua lain yang juga ikut mengantarkan. Langit sudah gelap, Qiroah dari speaker masjid mulai terdengar. Yah, hari ini anak-anak pulang lebih sore karena aku hanya sendirian, entah kemana temanku yang biasanya menemaniku untuk sekedar mengajarkan Alif, Ba’, Ta’, Tsa di kota orang ini.
            Aku mengusap keringatku yang bercucuran seakan habis berlari. Pagi buta aku berangkat ke kampus berharap bisa nge-lab hari ini, tapi ternyata Allah masih belum merestui. Padahal aku sudah merencanakan jadwal nge-lab dari minggu kemarin. Tapi mau bagaimana lagi? waktu dan napas yang kupunya bukan milikku. Setelah itu, ada kondangan anak pemilik kos. Menukar kado dengan makan siang atau sarapan? Ah, makan siang dan sarapan tidak ada bedanya bagiku. Seusai itu, langsung meluncur ke TPQ. Kukira temanku datang, tapi ternyata tidak. Disitu aku berharap kalau yang masuk sedikit. Lagi-lagi, aku tak berhak merencanakan apapun. Hanya sekitar 4 anak yang tidak masuk dari 18 anak. Namun percayalah, secapek-capeknya kalian, ketika sudah melihat senyum dan canda tawa anak-anak pasti semua capek hilang. Tapi, keringatku tetap bercucuran. Kita berbicara tentang ‘anak-anak kecil’, bukan anak SMA yang langsung menurut jika disuruh diam.
            “anak saya disabilitas,” lanjut ibu tiga anak itu.
Aku terdiam, mendengarkan. Aku jadi ingat ketika pertama kali ibu itu menghampiriku untuk menjelaskan kondisi anaknya. Laki-laki. Secara fisik, mungkin ia memang siswa kelas 4 SD, namun tingkah laku dan (maaf) mentalnya masih seperti anak TK. Mungkin masih lebih baik yang TK. Ia mempunyai dua adik laki-laki, satunya TK B dan paud. Biasanya mereka berangkat bersama meskipun kakaknya selalu telat karena harus oyok-oyokan dulu sama ibunya kalau disuruh berangkat mengaji.
“mohon maaf ustadzah sebelumnya kalau anak saya sering buat masalah. Di sekolah, ia juga sering dimarahin gurunya karena jahil. Dia juga menjadi korban bully-an anak-anak yang lain sampai terkadang gak mau kalau disuruh sekolah.”
Hatiku terenyuh. Raut wajah ibu itu menunjukkan ketegaran yang luar biasa.
“biasanya, suka nggoda adiknya. Dijahili terus…”
Aku ingat ketika si kakak selalu mengambil kopyah si adek, dan melemparkannya ke sana kemari bersama teman-temannya hingga menangis. Kadang juga menyembunyikan tas adiknya, atau melemparkannya ke atas lemari. Pernah dia mengeluarkan semua isi tasku, kemudian memasukkannya kembali. Atau memainkan sapu musholla, untuk dijadikan akrobat. Tadi, dia memainkan pintu lemari musholla hingga kacanya lepas dari engsel. Untung tidak sampai jatuh lalu pecah dan mengenai yang lain. Aku langsung berlari, meninggalkan adiknya yang masih mengaji di depanku. Ibunya juga bangkit, membantuku mengangkat kaca itu dan mencoba untuk mengembalikannya. Syukurlah, kaca itu bisa dikembalikan ke tempat semula. Sedangkan anak itu langsung pergi seakan apa yang ia lakukan tidak salah.
“tadi dia marah-marah ustadzah, soalnya adiknya dapat juara sedangkan dia tidak. Dia merasa diungguli oleh adiknya.”
Yah, adik-adiknya memang berbeda. Bahkan bisa kubilang kalau mereka termasuk anak-anak yang cepat menangkap pelajaran.
“jadi tadi adik-adiknya dulu yang saya berangkatkan ngaji, soalnya kakaknya masih rewel,” cerita ibu itu sambil tertawa. Aku ikut tersenyum, seraya mengagumi beliau. Diantara orang tua yang lain, ibu ini yang paling sering menemuiku menanyakan perkembangan anaknya (meskipun ada yang terkadang bertanya lewat WA). Dari bagaimana ibunya bercerita, aku bisa melihat usaha beliau untuk mendidik anaknya agar tidak berbeda. Sebenarnya itu yang kusayangkan. Kenapa disekolahkan di sekolah biasa? Bukan SLB (Sekolah Luar Biasa)? Bukankah nantinya dia akan mendapatkan cara pengajaran yang lebih baik? Namun nurani seorang ibu, mungkin ingin anaknya ‘normal’.
            “dulu selalu pindah-pindah ngaji. Dua minggu, tiga minggu, gak ada yang sanggup sama anak saya. Bukannya diajarin, malah dibiarin. Trus ada ngaji di sana, gurunya jahat. Jadi anak saya gak mau ngaji. Ya mau gimana? Anak saya memang berbeda. Kebetulan ada yang dekat, di sini.”
            Aku tersenyum.
            “di rumah, dia gak pernah mau belajar, jadi adik-adiknya juga gak mau belajar. Kalau disuruh, bilangnya gini ‘ibuk bukan bu guru. Ibuk gak boleh ngajarin aku!’ gitu,” ujar ibu itu yang membuat mataku berkaca-kaca. Bayangkan saja, ketika kita sudah mengusahakan sebaik dan sebanyak mungkin untuk seorang anak, tapi malah tidak dianggap? Baiklah, dia memang punya disabilitas. Tapi tetap saja hati seorang ibu akan tersakiti bukan?
            “jadi ngajinya saya serahkan ke sini ya ustadzah. Bisa gak bisanya anak saya, saya pasrah. Dia mau ngaji saja, saya sudah bersyukur.”
            “insyaallah bu, tapi ngapunten kalau naik jilidnya lama ya bu…”
            “lhoh, gak papa. Saya juga menyadari kondisi anak saya. Dia memang berbeda sama adik-adiknya. Sama anak-anak yang lain.”
            Entah kenapa, tiap kali mendengar kata ‘berbeda’ dari bibir ibu itu aku merasa terenyuh. Berbeda? Memangnya berbeda itu apa sih? Bukankah kita sama-sama manusia? Kata ‘berbeda’ hanya diciptakan manusia untuk mengakui kalau dirinya lebih baik dari orang yang mereka anggap ‘berbeda’ itu. Untuk bisa lebih sempurna. Namun bukankah hanya Allah yang patut membedakan manusia-manusianya? Yang pernah kudengar, yang membedakan diantara makhluk-makhluk-Nya adalah dari keimanan. Memang iman kita lebih baik dari mereka? Memang dosa kita lebih sedikit dari mereka? Tidak ada yang tau bukan? Seharusnya kata ‘berbeda’ dihapus saja dari kamus manusia.
            Ditengah percakapan, anak itu datang dan langsung bersandar di bahuku. Ia memain-mainkan jariku seakan menghitungnya, lalu mendorong-dorong tubuhku dengan bahunya. Bermain.
            “Fulan, gak boleh gitu nak sama ustadzah!” ibu itu memperingatkan.
            “gak mau!” jawabnya.
            “hayo, gak nurut sama ibu?!”
            Anak itu tertunduk.
            “mboten nopoo bu….,” jawabku, karena dia memang biasa seperti ini. Lebih mending, daripada lari-lari di musholla hingga pernah juga sampai tirai musholla lepas.
            “gitu emang kalau sudah akrab, jahil.” Ibu itu menjelaskan, aku tersenyum.
            “Fulan, kalau ngaji harus jaga adiknya. Iya kalau ibuk nganter Fulan 3 (anak yang ketiga), kalau enggak?”
            “iyyaaa.” Anak itu menjawab sambil memainkan ujung kerudungku.
            “Fulan, inget tadi yang dibilang kak Anna apa? Kalau bertengkar terus sama adiknya, nanti di akhirat jadi apa?” tanyaku.
            “jadi monyet,” jawabnya.
            “mau, jadi monyet?”
            Dia menggeleng, “gak mauuu.”
            “ya udah, berarti harus akur sama adik-adiknya. Kalau ibu gak ada, Fulan yang jaga adik ya. Janji?” aku mengangkat jari kelingkingku.
            “gak mau!” dia menggelengkan kepalanya keras.
            “lhoh, kok gak mau?”
            “fulan, kalau ngaji harus nurut sama ustadzah!” ibunya berbicara. Anak itu tampak ragu, kemudian mengikatkan jari kelingkingnya di kelingkingku sebelum kemudian berlari keluar. Kutatap punggungnya dengan mata yang menerawang. Kadang geregetan, kadang juga kasihan.
            “pokoknya saya bersyukur banget ada tempat ngaji di sini ustadzah. Terimakasih banyak, anak saya pinter dari sini,” ungkap ibu itu yang langsung menusuk hatiku. Ketika itulah aku merasakan kalau tanggung jawab itu lebih berat daripada rindu. Seharusnya Dilan tau. Terbesit bayangan kalau aku tak bisa selamanya ada di Malang. Aku harus pulang, yang berarti aku harus meninggalkan mereka. Meninggalkan tanggung jawab, dan menyisihkan harapan anak-anak dan orang tua mereka. Mungkin ini terdengar alay atau sok-sokan, tapi memang begitulah adanya. Aku bercerita pada kalian karena ingin memberitahu, kalau ada sosok paling tegar yang selalu mendorong kalian dari belakang, meskipun kalian tidak tau dan jarang menyadarinya. Ibu.
            Selain itu, aku ingin menyampaikan kalau perbedaan yang didasari fisik dan material hanyalah ciptaan manusia. Hanya karena anggota tubuh kita lengkap, otak kita berfungsi secara normal, lantas merasa menjadi manusia paling sempurna? Dan memandang sebelah mata mereka yang tidak sama?
            Adzah maghrib terdengar. Ibu itu berpamitan pulang. Aku juga harus pulang.


120418

Sabtu, 31 Maret 2018

Sabtu, 31 Maret 2018 (06.03 pm)


Untuk kesekian kalinya aku belajar. Jika terlalu banyak berpikir, maka hanya akan berujung pada penyesalan.

Terkadang, aku tidak ingin menjadi dewasa. Memikirkan masalah-masalah yang sering kali menguras tenaga. Sebenarnya bukan ‘masalahnya’ yang menjadi masalah, namun cara berpikirnya yang menjadi masalah.

Adakala ketika aku kehilangan arah. Tak tau alasan kenapa aku harus hidup. Jika seperti itu, apapun yang kulakukan serasa kosong. Mungkin aku memang berada jauh dari-Nya, seperti para pendosa yang berlumuran hina. Ah, entahlah.

Hal yang sering kulakukan saat aku merasa hidupku tak berguna adalah dengan berjalan, seperti yang kulakukan sore tadi. Aku berjalan sendirian, dengan langkah lemah sambil berbicara sendiri. Terkadang bicara dalam hati, tak jarang pula berbicara dengan suara. Aku yakin banyak orang yang mengiraku gila, berdasarkan tatapan menelisik mereka. Hahaha. Aku hanya tertawa. Di saat seperti ini, terkadang aku berharap memiliki seseorang. Menceritakan keluh kesah tanpa khawatir mendapat penolakan. Ada orang tua memang, tapi jika orang tua mendengar anaknya yang berada di perantauan masalah bukankah malah menambah kekhawatiran?
Baiklah. Aku punya Allah. Namun terkadang kamu butuh timbal balik langsung untuk setiap keluhan. 

Menjadi dewasa, terlalu banyak pertimbangan yang membuatku sulit untuk melangkah.
Bagaimana jika….
Bagaimana kalau….
Apa mungkin….
Jika nanti….
Ah, kalimat-kalimat itu ingin sekali kuhapus dari kamus kehidupanku.
Mungkin kalian juga pernah merasa, seakan menginginkan sesuatu, tapi tak tau apa yang sebenarnya kalian inginkan. Membutuhkan sesuatu, tapi tak benar-benar tau apa yang kalian butuhkan. Mengharapkan sesuatu, tapi tak yakin apakah harapan-harapan itu sebuah kebenaran. Bingung. Yah, bingung.

Lagi-lagi aku berpikir, andai saja ada seseorang yang menjadi ‘kompasku’ ketika aku kehilangan arah seperti itu.
Aku tak tau apa yang seharusnya kulakukan, karena itu aku hanya diam.