Kamis, 14 Desember 2017

Kamis, 14 Desember 2017

ndang uruken arek-arek cek ndang mole!”
Bayangkan ketika kalian ngajar, tiba-tiba denger teriakan itu dari luar? Aku aja sampe mastiin berkali-kali apakah memang seperti itu kalimat yang dikatakan oleh ibu itu. Dan ternyata, memang itulah yang dikatakan. Tiba-tiba saja hatiku miris. Bagaimana mungkin si ibu tega mengatakan hal yang seperti itu?
Jujur kuakui, aku memang bukan orang situ. Aku hanya pendatang yang mengemban amanah untuk mengajar anak-anak mengaji. TPQ kita juga belum berbadan hukum karena kita masih mbabat alas. Apalagi aku juga berada di semester tua yang masih kalang kabut dengan kuliah. Tapi, mengatakan hal seperti itu apa tidak kejam?
Yaah, tapi mau gimana lagi. Kita juga tidak hidup sendirian. Ada yang suka, ada juga yang benci. Seandainya aku jadi ibu itu, bukankah merasa senang jika mushollanya dijadikan tempat ngaji?
Pernahkah kalian menjumpai tempat yang berisi anak-anak dalam keadaaan sepi? Kecuali tempat yang anak-anaknya tidur semua. Bukankah anak-anak memang identik dengan keramaian? Malah itu yang seringkali membuat kita merindukan mereka. Iya kan?
Nah, komentar jahat itu keluar karena anak-anak ramai. Bahkan tiap kali ngajar, pasti  diawasi terus. Kalau keliatan ramai sedikit langsung diparani dan anak-anak dimarahi. Bahkan kemaren anak-anak sampai nggerumbul semuanya di belakang saya. Ada yang langsung sembunyi juga. Gak cukup puas, pas kita pulang kadang ya dihadang. Astaghfirullah…
Ibu itu memang sangat perhatian sama kita.
Kalau boleh berpikiran jahat, mungkin si ibu tua itu tengah kesepian. Bayangkan saja dari pagi njaga toko depan musholla sendirian. Dari yang kutau, anak-anak beliau juga sudah dewasa dan berumah tangga semua. Makanya itu beliau mencari hiburan dengan berurusan sama anak-anak.
Aku jadi berpikir. Mungkin inilah yang membuat anak-anak yang sudah dewasa terkadang ragu untuk melakukan sesuatu. Karena dari kecil, ada orang dewasa yang seringkali membatasi kreatifitas mereka. Bukankah seharusnya kita membiarkan anak-anak yang memasuki usia ‘golden age’ untuk menjelajahi dunia mereka?
Kalau aku sih, oke oke aja mereka ramai asalkan masih dalam ranah wajar. Wong mereka lho gak sampai mecahin kaca musholla. Kalau mereka coret-coret tembok, mecahin kaca musholla, ngahancurin lantai musholla, baru tuh aku bakal marah besar. Selama mereka masih bermain dan ramai savety, biarin aja. Biarkan mereka survive. Dan lagi, kalau sampai bermain fisik dan berkata kotor, jangan ditanya deh. Langsung bertindak deh. Kalau dibilangin gak mempan, disamperin, tak pegang kedua tangan mereka, dan tak dudukin disampingku sampai ngaji selesai. Hahaha
Hukuman terberat untuk anak-anak itu bukan pukulan atau cubitan atau ocehan. Tapi ketika mereka tidak bisa melakukan apa yang mereka suka atau mereka inginkan. Itu adalah hukuman yang paling menyiksa. Jadi, kalau misalnya nih anak-anak kalian atau murid kalian gak nurut sama kalian, sita aja barang yang mereka suka. Misalnya mereka suka main tablet, trus disuruh sholat atau ngaji gak mau. Sita aja tabletnya tiga hari atau seminggu. Sepertinya hukuman itu lebih efektif deh, Hahaha
Lhoh. Ini tulisan kok jadi parenting ya. Padahal niatnya tadi curhat. Hahaha
Yaaah, intinya empati aja deh. Gak perlu nyalahin ibu itu juga. Mungkin niatnya baik, tapi kita yang masih belum tau. Terkadang saya juga kuwalahan ngadepin anak-anak, tapi anak-anak yang ramai itu bukan nakal. Mereka hanya berjiwa bebas. Dan kita gak bakal tau kan anak yang ‘berjiwa bebas’ itu bakal terbang setinggi apa?

So, sabaaar, ikhlaaas. Insyaallah akan ada hasilnya kok. Karena anak-anak lebih mengenal bahasa kasih sayang daripada bahasa yang lainnya. ^_^


Nur Jannah, S
141217

0 komentar:

Selasa, 12 Desember 2017

Teruntuk Adik-Adik Tingkatku

Teruntuk adik-adik tingkatku yang manis.

Alhamdulillah, hari ini kalian sopan sekali ya. Sampai saya terkejut dan serasa pengen ngambilin kitab akhlak.
Kalian sangat peduli sekali sekali sama nilai, sampai dibelain rombongan ke asisten buat ngambil laporan. Saya kira tadi kalian mau ngajak aksi bela Palestina.
Saya terharu, kalian sampe nunjukin jari telunjuk kalian yang ternyata masih bisa lurus dan berbicara dengan nada tinggi. Semoga saja jari kalian tetap lurus ya. Sepertinya kalian mesti ikut paduan suara deh. Jika suara tinggi kalian tidak dimanfaatkan, kan sia-sia. Iya nggak?

Adik-adik tingkatku yang lugu.

Kita tau, kalian diam-diam membicarakan asisten di belakang. Iya kan?
Mau kukasih tau rahasia?
Ngurus proposal, revisi, laporan PKL dan hal lain di luar kampus aja udah melelahkan, buat apa kita nambah beban dengan ngurusi praktikum kalian?
Tapi sebagai kakak tingkat, kita juga mikir. Kasihan juga kalian praktikum tanpa ada yang ngedampingi. Apa perlu tahun depan kita usulkan praktikum tanpa asisten aja?

Jadi asisten itu gak mudah dek. Gak senganggur yang kalian kira. Kami mesti preparasi bahan-bahan kalian dan melakukan semua percobaan sebelum kalian praktikum. Jika ada yang tidak berhasil, kita harus mengulang dan menganalisa kira-kira apa yang membuat percobaan tidak berhasil. Setelah itu kita juga mesti nyari penyelesaiannya. Udah segitu aja? Enggak.
Waktu praktikum yang bisa kita gunakan untuk mengerjakan hal-hal lainnya, kita ikhlaskan untuk kalian yang terkadang praktikum seperti maen-maen. Jika ada kesalahan praktikum, siapa yang disalahin? Asisten. Jika praktikan rame, siapa yang disalahin? Asisten.
Selesai praktikum, kalian bisa santai. Tapi tidak dengan asisen. Kita mesti ngoreksi pre-tes dan laporan kalian yang ngerjainnya ngasal pokoknya ngumpulin.
Tulisan kalian yang bagus seringkali membuat kita ber-istighfar. Apalagi bakat mengarang kalian yang sepertinya bisa aja nyandingi Habiburrahman. Sebenarnya bisa saja kita memberikan nilai sekenanya agar laporan kalian segera dinilai. Tapi bukankah terlalu kejam jika tidak melihatnya satu-persatu? Jadilah kita berusaha menahan diri untuk tidak membanting laporan kalian yang isinya ngawur. Kita mengusahakan untuk memberikan apresisai nilai buat usaha kalian. Tapi jika nilai kasih sayang kita memang tidak sebanding dengan kengawuran kalian, mau gimana lagi?
Pas tau nilainya jelek, yang disalahin juga asisten. Bilangnya ngerjainnya sampai berdarah-darahlah, udah nyari dimana-mana gak ketemulah. Kalau emang gak ada, tulis aja gak ada. Gak usah ngarang trus ngambil daftar pustakanya orang dek. Daripada ngambil nama pengarang buku yang di dalamnya tidak ada tulisan yang kalian jadikan rujukan, mending rujukannya nama kalian aja sendiri deh. Misal, (Jannah, 2017). Kan lebih keren. Iya nggak?

Yang disalahin siapa? Asisten lagi.
Subhanallah. Kalian memang semangat sekali memperhatikan kami dek.

Teruntuk adek-adek tingkatku yang lucu.
Tahun depan, jangan daftar asisten ya dek. Meskipun dipaksa jangan deh. Kami khawatir nanti adik-adik kalian juga memperlakukan kalian seperti kami. Malah lebih parah.

Salam.

Asisten terjahat kalian.

2 komentar:

Sabtu, 09 Desember 2017

Hujan dan Lampu

Hasil gambar untuk hujan malam
Tiba-tiba terbangun tengah malem, trus denger hujan deres gitu mungkin kita mikirnya sama.
“ah, hujan ya.”
Trus tarik selimut lagi dan memejamkan mata. Tapi beda ceritanya kalau hujan deres dibarengin sama mati lampu! Jantung langsung dag dig dug gak karuan. Mau mejamin mata niat tidur, eh malah matanya aja yang terpejam tapi tubuhnya sadar sepenuhnya. Mau bangunin mbak-mbak, kok ya tega banget nyari teman sengsara. Hahaha
Tapi Alhamdulillah, beruntung sekali. Setelah hampir satu jam setengah bolak-balik badan, utek-utek hp akhirnya lampu nyala. Rasanya ingin melonjak girang! Sepertinya Tuhan menjawab rintihanku. Thanks God. Gak ada yang paling TOP MARKOTOP selain Engkau deh. ^_^ Jangan-jangan, ini siasat agar aku menyapa Engkau lebih awal ya?
Ke-PD-an banget. Hehehe
Dosa aja 7kali lipat gunung Everest, mau berharap lebih dekat. :’D

Dari sini aku belajar beberapa hal.
Saat diberi ‘hujan deras’ ketika siang hari, kebanyakan kita menggerutu karena tidak bisa melakukan aktivitas yang direncanakan. Seringkali bukan ada kata-kata, ‘kejebak hujan’? Seakan hujan adalah hal buruk yang tidak kita inginkan. Dan ketika malam hari, kita bersyukur karena hujan dapat membuat menarik selimut lebih dalam dan tidur lebih nyenyak.
Pernah kah kalian berpikir arti hujan dari sudut pandang orang lain yang tidak seberuntung kalian?
Bagi mereka, bisa jadi hujan di siang hari adalah anugerah. Mereka bisa mandi secara gratis tanpa harus membayar tagihan air. Mereka bisa minum air bersih tanpa harus membeli air minum atau madahi air ke botol dari sungai yang sudah bekas apa saja.
            Untuk mati lampu, sebenarnya banyak hal yang diisyaratkan jika saja kita mau sedikit memikirkannya. Hanya saja, sebagian besar dari kita termasuk saya lebih memilih menggerutu dan menyalahkan kenapa lampu harus mati daripada termenung dalam kegelapan. Right?
Tapi jujur, saya memang takut gelap. Bahkan tidurpun, lampu wajib nyala. :D

Balik lagi.
Nah, dari kegelapan itu aku mendapatkan sesuatu. Ketika mata kita terpejam, bukankah kita mendengar lebih banyak? Mungkin jika kita mematikan lampu-lampu kemerlap dunia, hati kita akan mendengar lebih banyak. Tidak berlomba-lomba memasang tiang lampu paling tinggi agar kemilau mereka lebih terlihat dibandingkan yang lain. Sedangkan mereka yang bahkan lampu saja tidak punya dan nunut cahaya dari mereka yang memiliki lampu, semakin tenggelam dalam kegelapan karena sang pemilik lampu semakin meninggikan tiangnya.
Saat ini, siapa yang tidak ingin terlihat lebih terang? Siapa yang tidak ingin terlihat menonjol? Siapa yang tidak ingin menjadi pusat perhatian?
Hasil gambar untuk gambar tiang lampu jalan malam
Karena terlalu buta dengan bagaimana pandangan orang lain terhadap kita, kita jadi lupa kalau kita juga harus memperhatikan orang lain. Bukan, bukan mereka yang memiliki tiang lebih tinggi. Tapi mereka yang meringkuk kedinginan tanpa seberkas cahaya. Jadikan mereka yang memiliki tiang lebih tinggi dengan banyak lampu sebagai motivasi. Namun, buatmu….
Rendahkan tiangmu, dan menyalalah lebih terang. ^-^

Sekian.

Nur Jannah, S
081217

0 komentar:

Jumat, 08 Desember 2017

Melepasmu

Hasil gambar untuk gambar burung merpati terbang
“akui saja, kamu terluka kan?” tanya –reka- kak Alfan yang langsung membuatku terdiam dan menghindari tatapannya yang seakan menuduhku. Ia menatapku seperti seorang pembohong.
“aku baik-baik saja kak. Ini keputusanku. Bukan, ini keputusan kami.”
Kami? Sejak kapan aku dan dia menjadi kami? Sejak pertama kali ia menitipkan salam padaku dari seorang teman, ataukah sejak hati saling berpaut tanpa menegaskan ‘kau milikku dan aku milikmu’? Aku penasaran, sejak kapankah dua orang yang saling merasa bisa menjadi kami? Jika kata kami hanya untuk mereka yang telah mengatakan ‘Aku cinta padamu, aku menyukaimu dan aku menyayangimu’, berarti aku dan dia tidak pantas menyandang kata kami. Karena aku ataupun dia tak pernah mengatakannya. Tapi kenapa dengan cerobohnya aku menggunakan kata itu?
“aku tau kamu tidak baik-baik saja. Mulutmu menghianati hatimu, dan akalmu memaksa hatimu untuk mengikuti yang kau katakan. Jika terus-terusan seperti ini, tubuhmu yang bakal menunjukkan yang sebenarnya. Kalau kamu, terluka.” Kak alfan menekankan kata ‘terluka’.
Aku tertunduk. Kak alfan benar. Sejak tadi pagi, tiba-tiba lambungku kambuh. Sakit sekali hingga aku melipat tubuhku seraya merintih. Dokter yang menyarakanku untuk tidak terlalu kelelahan dan kepikiranpun jadi teringat. Apa ini protes tubuhku?
Ku hela nafas dalam.
“terkadang, aku juga bingung kak kenapa rasa ini bisa bertahan. Selalu muncul pertanyaan kenapa dan bagaimana? Aku tidak pernah meminta agar perasaan ini tetap ada. Apa mungkin Tuhan yang menjaganya untukku? Ataukah dia yang meminta Tuhan agar perasaan ini tetap ada? Kata mereka, bertemu adalah salah satu jalan agar cinta dapat terjalin. Tapi kita bahkan tidak pernah bertemu. Bagaimana mungkin rasa itu tetap ada?”
“kalian bertemu. Dalam doa. Kamu masih mendoakannya kan?” Sela kak Alfan.
Doa? Mungkin saja. Kebiasaan doaku sejak dulu, membuatku sulit menghilangkan namanya meskipun dengan sadar. Jadi kubiarkan saja doa itu mengalir. Toh, tidak ada ruginya mendoakan orang. Iya kan? Tapi, apakah dia juga mendoakanku?
Kak alfan mebenarkan posisi duduknya.
“aku ingin tau. Apa sebenarnya yang membuatmu menyukainya. Jujur.”
“eh?” pertanyaan kak Alfan membuatku terkejut. Aku memutar otakku, mencari-cari aspek-aspek pada dirinya yang membuatku melabuhkan rasa. Tapi semakin mencari, aku malah tidak menemukannya. Apa yang membuatku menyukainya?
Kak alfan masih menunggu jawabanku.
“saat kamu menyukai seseorang, kamu harus punya alasan kenapa kamu menyukainya.”
Benarkah? Jika kita menyukai seseorang karena alasan, jika alasan itu hilang, bukankah hilang juga rasa itu?
“alasanku menyukainya karena tidak ada alasan. Jika aku menyukainya karena kelebihannya, jika kelebihannya tidak ada rasa suka itu akan menghilang. Dan jika aku menemukan keburukannya, rasa itu akan beralih menjadi kebencian. Selama ini, aku menemukan beberapa kelebihannya yang membuat rasaku semakin bertambah. Aku juga menemukan kekurangannya yang membuatku tidak suka. Tapi aku tidak membencinya. Tak terhitung berapa kali aku merasa tersakiti dan bahagia bergantian. Bukankah seharusnya aku lelah dengan itu? Tapi entahlah. Rasa itu tetap ada, tanpa alasan. Aku hanya percaya padanya. Hati ini, mempercayainya. Dekat dengannya dapat menambah kedekatanku dengan-Nya juga.” Pikiranku memutar kisah yang pernah ia torehkan di atas kertasku. Mengingatnya saja membuatku tersenyum sendiri jika itu kisah indah. Jika kisah yang memalukan, ingin rasanya kuputar waktu dan menggantinya dengan kisah yang lebih ‘wajar’. Dan jika teringat kisah yang membuatnya terluka, kutundukkan wajahku menyesal. Sepertinya semua lukanya adalah salahku. Aku yang telah menghilangkan senyum di wajahnya dan mengusik ketenangannya bersama Tuhan.
Kak alfan menarik satu ujung bibirnya.
“rugi sekali! Ia telah kehilangan orang yang tulus menyayanginya.”
Kuangkat wajahku. Tulus? Bagaimanakah sebenarnya perasaan yang tulus itu? Jika memang seperti yang kak Alfan duga dari setiap ceritaku, berarti…..
“tidak kak. Bukan dia saja yang kehilangan orang yang tulus menyayanginya. Tapi aku juga kehilangan orang yang tulus menyayangiku.”
“jika kalian saling kehilangan, kenapa saling melepas?”
“karena kami tau, bukan begini jalan yang diridhoi Tuhan.”
Kak alfan tersenyum.

***

Siapa tau jalan yang ditentukan oleh Tuhan?
Perkara melepaskan adalah hal yang paling sulit. Apalagi jika yang dilepaskan telah saling melekat dalam hati. Yang melepas masih tersisa tentangnya, dan yang dilepas juga tidak utuh karena masih ada bagian dari dirinya yang tertinggal di hati seberang. Jika seperti itu, basuh dengan kasih Tuhan. Ikhlaskan dirinya pergi dengan keutuhan. Jangan egois dengan mengambil sebagian dari dirinya. Biarkan ia terbang tinggi layaknya merpati yang tak pernah lupa jalan pulang. Jika memang kamulah tempat kembalinya, kalian akan bertemu kembali. Kita akan bertemu kembali.
Jika ternyata bukan aku tempat kembalimu, semoga kau menemukan tempat kembali yang jauh lebih baik. Doakan saja agar rasa tentangmu segera menghilang. Aku tak ingin menghianati ‘imamku’ kelak. Pernah menyayangimu sedalam ini, membuatku merasa bersalah padanya.
Bukan hanya aku saja yang tersakiti. Iya kan? Tapi kamu juga tersakiti. Karena itulah seharusnya sejak dulu kita melakukan hal ini. Mengikhlaskan. Mari saling percaya, jika skenario Tuhan lebih indah. Entah untuk kita atau masing-masing dari kita.

Jaga diri, dan tetap menjadi yang terbaik dan lebih baik lagi. ^_^

0 komentar:

Rabu, 06 Desember 2017

Krisis Identitas

Hasil gambar untuk krisis identitas
Aku heran. Apakah seseorang dinilai berdasarkan dimana ia tinggal?
Jika ia tinggal di pesantren, panggil mereka ‘anak pondok’. Kalau tinggal di kos/kontrakan, panggilnya ‘anak kos’. Kalau di rumah, jadi ‘anak rumah’. Kalian ngerasa gak sih kalau sebenernya kalimat-kalimat itu dapat memberikan sekat?
Wong sapi yang tinggal di ladang atau di kandang aja, mereka gak dapet sebutan ‘sapi ladang’ ato ‘sapi kandang’. Iya nggak?

Seperti yang kualami saat ini. Dua bulan yang lalu, aku masih mendapat gelar ‘anak pondok’. Gegara pindah ke kos (jangan tanya kenapa aku pindah, karena that’s my choice. Dan aku yakin ini yang terbaik), jadilah labelku sekarang ‘anak kos’. Sebenarnya aku tidak terlalu memikirkan, toh hanya sebutan. Tapi, aku jadi bingung ketika ada yang bilang,
Mbak Anna iki arek kos, tapi koyok arek pondok. Aku sing arek pondok, malah koyok arek kos.
Lhah, kan saya jadi krisis identitas. (hahaha)

Memang benar. Kebanyakan dari kita sering kali menilai seseorang hanya dengan mata telanjang. Kalau anak pondok, pikirannya yang bagus-bagus. Kalau anak kos, pikirannya yang gak bagus amat. Kalau anak jalanan, pikirannya yang jelek-jelek deh. Apalagi kalau denger ‘anak punk’ atau ‘anak tril-trilan’, pikiran tambah jelek kuadrat deh!
Iya nggak?
Dari ini aku belajar.
Boleh jadi seseorang tinggal di tempat yang berbeda-beda. Tapi satu yang tidak bisa berubah, “karakter”.
Misalnya seseorang tinggal di kos atau kontrakan, tapi kalau dia memiliki ‘karakter santri’, siapa yang tau?
Atau seorang guru yang mengajar di sekolah, tapi juga giat dalam membuka usaha. Bukankah beliau memiliki karakter pengusaha?
Atau seorang pengamen yang paginya mengamen di lampu merah sedangkan kalau malam membantu anak kampungnya belajar membaca, bukankah ia punya karakter pendidik?

Emang fungsinya istana sama gubuk apa sih? Sama aja buat berlindung dari hujan dan panas kan?
Jadi, berhentilah menilai seseorang dari tempat dimana ia tinggal. Tapi nilailah dari cerminan kehidupan yang ia lakukan.
Wong sapi aja gak dibedakan berdasarkan mereka tinggal dimana kok. Masa manusia yang punya akal masih mbeda-mbedain orang?

Sekian.

Salam.
Nur Jannah, S

061217

0 komentar:

Selasa, 05 Desember 2017

Pasir dan Langit




ISTIRAHAT
PERPUSTAKAAN

Begitulah tulisan di atas sobekan kertas yang tadi pagi diberikan Saidah. Dari siapa lagi kalau bukan Haidar? Seorang sahabat ‘gila’ yang semakin lama semakin menularkan ‘kegilaannya’ padaku.
Ku saut dua buku yang tak pernah absen di tanganku. Satu buku Diary, dan satu buku yang berisi tulisan-tulisan, baik cerpen ataupun novel yang masih OTW. Maklum, di pesantren akses dengan computer atau barang-barang elektronik lainnya terbatas. Jadi hanya pena dan kertas yang menjadi wadahku meluapkan segala emosi.
“Naf, mau kemana??” seorang teman mencolek bahuku. Aku langsung berjingkat. Jujur, sebisa mungkin aku tidak melakukan kontak fisik kecuali dengan teman sejenis dan keluargaku.
“Kebiasaan! Gak usah pegang-pegang kenapa sih!” Hardikku.
Zainal, teman seperjuangan organisasiku, memasang wajah meminta maaf. Aku luluh.
“ada apa?” tanyaku dengan alis yang hampir bertemu, masih kesal.
“temenin minta tanda tangan kesiswaan ya buat proposal acara Diklat Jurnalistik?”
Aku langsung menghela nafas.
“sendirian emang gak bisa?”
Zainal memamerkan deretan giginya layalnya iklan pasta gigi. “gak berani.”
Aku mendengus dalam hati. Jujur, zainal memang memiliki rasa tanggung jawab yang gak diragukan lagi. Tidak salah jika kakak senior memilihnya sebagai ketua KIR laki-laki. Tapi satu kelemahan zainal, ia kurang piawai ngomong dengan lawan bicaranya, apalagi di depan umum. Mungkin inilah niatan kakak senior mendampingkanku yang bisa dibilang ‘banyak kata’ dengan zainal yang ‘tanpa kata’ untuk mengatur masa depan organisasi. Tapi sepertinya akhir-akhir ini zainal sudah mulai terbiasa ‘berbicara’. Mungkin karena setiap kali kumpul hari jumat, aku selalu memaksanya bicara di depan junior-junior kita. Awalnya ia menolak, tapi sepertinya kegalakanku lebih menyeramkan dibanding melawan kekalutannya menatap mata anak-anak.
“gak mau. Berangkat aja sama Ilyas.” Ilyas sekretaris KIR.
“ilyas gak bisa. Sama kamu ya? Ayolaah.” Zainal memelas.
“gak mau, berangkat aja sendiri! Aku juga ada perlu.” Tolakku. Aku hanya ingin zainal bergantung pada dirinya sendiri dan melawan ‘phobia’nya bertemu dengan orang. Selain itu, bukankah aku memang ada perlu? Yah. Haidar mungkin telah menungguku di perpus.
***
Tidak ada satu kepalapun yang kujumpai ketika sampai di pintu perpus. Mungkin Haidar masih ke asramanya sebentar. Entah untuk mengangkat nasi yang sudah masak, atau memidahkan jemuran yang sudah kering.
Tujuan pertamaku ketika memasuki perpus adalah tumpukan Koran di atas meja. Apalagi hari ini hari minggu, selalu ada rubrik special tiap hari minggu seperti cerpen, opini dan zodiac terkadang. Namun yang menarik perhatianku hanyalah kolom cerpen. Sambil melihat kolom itu, aku selalu berharap, nanti namaku yang akan ada di sana.
“Fakhirah, apa kabar?” sapa bu Susi, penjaga perpus yang sepertinya sudah hafal denganku.
“Alhamdulillah baik bu. Baru dari ngajar?”
“iya. Dari SMK kelas otomotif, isinya cowok semua. Ramenya masyaallah deh.” cerita bu Susi. Aku tergelak. Padahal hatiku terkagum dengan sosok pejuang ilmu. Kelak, aku ingin menjadi seperti mereka.
Kualihkan pandangan pada bukuku saat bu Susi juga terpaku di depan komputer perpus.
Jam 09.55 WIB
Waktu istirahat tinggal lima menit lagi, dan Haidar belum datang. Padahal aku sudah menulis sekitar 5 halaman.
Kemana sih nih anak! Ngajak ketemu di perpus, tapi dianya gak dateng-dateng! Awas aja kalo sampe ketemu! Jadi bubur, jadi deh!
Gerutuku dalam hati. Daripada telat masuk kelas, lebih baik aku balik saja. Biarkan Haidar mendapati perpustakaan yang kosong kalau dia benar datang. Kuangkat tubuhku beranjak dari tempat duduk yang sudah seperti bangku keduaku setelah bangku kelas.
Bu susi melemparkan senyum. Kubalas dengan senyum yang sedikit terpaksa. Jujur, aku merasa kesal. Bukan karena tidak bisa bertemu dengan Haidar, tapi karena ia yang tidak menepati janji. Keningku langsung berkerut ketika sepatuku yang tadi berada di depan pintu lenyap entah kemana. Hanya ada sepasang sepatu milik bu Susi, dan sepasang sepatu lain milik Liana, teman sekelas Haidar yang barusan masuk perpus.
Kuedarkan pandanganku menyapu sekeliling, namun nihil. Sepatuku seakan dimakan angin. Tiba-tiba saja aku terpikir kejahilan seseorang. Namun, bukankah kurang baik jika menuduh tanpa bukti?
Akhirnya ku tegaskan dugaanku dengan meminta pernyataan bu Susi yang sedari tadi berada di depan meja. Pasti beliau bisa melihat siapa saja yang melewati depan atau pintu perpus.
“Kenapa Nafa?” tanya bu Susi seraya menahan senyum. Peka sekali. Beliau seakan tau kalau aku tengah mengalami ‘pencurian’.
“sepatu saya gak ada bu. Bu susi tau?”
Aneh memang menanyakan sepatu pada gurunya sendiri. Namun, bukankah bertanya lebih baik daripada tersesat?
“coba cari lagi.” Bu Susi semakin menahan senyum. Entah kenapa perasaanku berkata, kalau Bu Susi tau sesuatu.
“Haidar ya bu?”
“ya nggak tau.” Bu Susi langsung tertawa.
Apa bu Susi menertawakan ‘kesengsaraanku’? Sungguh tega sekali. Tapi aku yakin, ini pasti ulah Haidar. Akhirnya kutanyakan pada Liana, apakah melihat Haidar? Amarahku semakin memuncak ketika mendengar kalau ternyata Haidar berada di kelasnya. Tidak salah lagi, tersangka pencuri sepatuku adalah Haidar. Siapa lagi?
Kupinjam sepatu Liana untuk ‘melabrak’ Haidar. Dia akan kutangkap!
***
“balikin nggak!” teriakku di depan kelas Haidar. Ada beberapa mata yang tampak memperhatikan kami. Siapa peduli? Aku malah berarap Haidar di massa. Biar saja. Bukankah ‘pencuri’ memang harus di adili? Tidak sekali ini saja dia ‘mencuri’ barang-barangku. Tak tehitung berapa kali ia tiba-tiba mengambil diary dan buku-bukuku, secara terang-terangan di depanku.
“gak ada di aku.”
Permainan kata. Aku sudah hafal.
“iya memang gak ada di kamu, tapi kamu yang naruh di tempat lain kan?”
“bukan di aku.”
“iyya, aku tau! Cepet kasih tau dimana kamu nyembunyiin sepatuku!”
Setelah ini kelasku waktunya pak Imron, guru paling ditakuti se sekolah. Dan aku tak mau disambut ‘semburan’ pak Imron karena telat masuk kelas.
“duuuh, Nafa sama Haidar tiap hari makin lengket aja.” Celetuk sebuah suara yang aku gak tau siapa, dan disambut dengan ‘ciyeee’ dari mulut-mulut yang lain. Jika saja aku tidak dalam keadaan terdesak, aku pasti akan melakukan pembelaan. Tapi aku tidak punya waktu untuk itu. Bel istirahat usai telah berbunyi beberapa saat lalu, sedangkan Haidar masih ‘kukeuh’ dengan kejahilannya meskipun teman-teman yang lain menyuruhnya memberikan yang kuminta. Akhirnya, jurus terakhirku keluar.
Memelas.
“kumohoon. Ini sepatu Liana, aku harus segera mengembalikannya. Sekarang aku waktunya pak Imron.” Kutundukkan wajahku lesu. Cara ini berhasil.
Haidar berjalan menuju tong sampah biru depan kelasnya dan memasukkan tangan ke sana. Saat Haidar mengeluarkan sesuatu dari sana, aku langsung menaikkan suaraku satu oktaf.
“Sepatuku, kamu taruh di tempat sampah!!!”
Haidar tertawa bangga karena berhasil menjahiliku untuk kesekian kalinya.
“siapa suruh nulis sampek gak liat kalau aku dateng ke perpus tadi. Ini pembalasan dendam.”
Dasar pendendam!
Ingin rasanya kukatakan itu padanya. Tapi kejahilan akan terus berlanjut jika aku tidak mengaku kalah.
“maaf, kamu tidak menegurku. Sekarang, sepatuku?” ku tengadahkan tanganku di depannya.
“balikin dulu sepatu Liana, tak bawain sepatu ke perpus.”
“serius?”
Aku ragu.
“janji, beneran gak bohong.” Kekunci mata Haidar. Ia serius.
“baiklah. Jika kamu bohong, kakimu yang bakal jadi korban.” Bagaimanapun aku juga merasa bersalah karena tidak menyadari kedatangannya tadi. Aku memang sering lupa waktu dan tempat kalau udah megang pena dan kertas.
Aku berjalan menuju perpus dengan Haidar yang berada beberapa langkah di belakangku.
“sudah ketemu yang ngambil naf?” Sambut bu Susi sambil tersenyum. Entah kenapa aku curiga bu Susi juga berperan dalam kejahilan Haidar.
“sudah bu.”
Ku ucapkan terimakasih pada Liana lalu menghampiri Haidar yang menunggu di depan pintu. Haidar tersenyum mencurigakan.
Benar saja. Kejahilannya masih belum sampai ekornya.
“mana sepatuku? Katanya mau kamu bawain ke sini!” Aku naik pitam untuk kesekian kalinya dalam kurun waktu kurang dari satu jam.
“aku bilang akan membawakanmu sepatu, bukan sepatumu.”
Tuhan, sabarkanlah hati ini.
Haidar melirik sepatunya dan melihatku padaku.
“jangan bilang…..”
“iya. Pake sepatuku.”
“yang bener aja! Sepatu kamu gedhenya dua kali kakiku!”
“kalau gitu ya gak usah pake sepatu. Orang aku berniat baik kok.”
Berniat baik apaan!!
“baiklah. Aku pake sepatumu.” Ucapku menyerah. Entah kenapa, Haidar selalu bisa memaksaku untuk menuruti kemauannya. Dan itu membuatku kesal.
Haidar melepas sepatunya dan mengeluarkan kakinya yang tidak berkaos kaki dan menginjak tanah.
“lhoh, kamu…”
“pake sepatuku, ato sepatumu gak bakal balik.”
Aku memegang kepalaku yang pening dengan tingkah Haidar. Bagaimana mungkin aku bisa bersahabat dengan orang se’gila’ ini??
Kakiku langsung tenggelam di sepatu Haidar. Saking besarnya, hingga jalanpun aku harus menyeretnya. Jangan bertanya apakah ada yang memperhatikan kami? Banyak!! Ada yang melihat aneh, ada yang tertawa dan adapula yang main ‘ciyee ciyee’. Oke fix! Hari ini, Haidar sudah mempermainkan emosiku. Namun langkahku langsung terhenti ketika melihat seseorang yang berada di antara teman sekelas Haidar, yang tengah bercengkrama di depan kelas mereka.
Fatih. Seseorang yang dengannya aku dan dia pernah menjadi ‘kita’ dan merangkai kisah bersama. Sudah sekitar dua tahun yang lalu, namun tak bisa kupungkiri kalau namanya masih memenuhi diaryku.
Tak sengaja, mata kami bertemu. Satu detik, dua detik, aku langsung mengalihkan pandanganku. Begitupun dengannya. Hatiku kalut. Antara rindu, perih dan kebimbangan yang tak berujung. Kisah kami Tarik ulur. Entah aku yang menarik, dia yang mengulur, atau dia yang menarik, aku yang mengulur. Begitupun seterusnya hingga hati ini lelah. Namun untuk menghilangkan sebuah rasa, aku tak kuasa.
Gambar terkait
Menyadari gerikku dan Fatih, Haidar mempersempit jaraknya denganku dan berbisik,
“kamu tau Naf? Kalian itu seperti langit dan pasir. Saling menatap tapi tidak bisa saling bertemu.”
Haidar benar. Aku dan Fatih hanya berkomunikasi dengan tatapan yang tak lebih dari tiga detik. Bagaimana mungkin aku bisa mengartikan tatapan yang sesingkat itu kecuali dengan dugaan-dugaan egois kalau tatapannya masih sama seperti pertama kali ia menatapku? Aku ingin tahu, namun pantaskah aku bertanya? Aku hanya ingin tau, apakah aku sudah tersapu bersih dalam ingatannya ataukah ada puing-puing kasih yang ia sembunyikan?
“Ya ampun, nafa sama Haidar! Kalian ini bikin iri aja tau gak!”
Komentar seseorang saat melihatku dan Haidar. Yah, aku yang menggunakan sepatu Haidar sedangkan Haidar bertelanjang kaki pasti berhasil memancing kata ‘so sweet’ keluar dari pikiran orang lain. Jujur kuakui, Haidar adalah ‘sahabat gila’ yang sangat baik dan paling mengerti. Tak jarang ia melakukan hal-hal sederhana yang membuatku geregetan dan terharu sekaligus.
Tidak ada yang namanya ‘persahabatan’ antara laki-laki dan perempuan.
Begitulah kata orang.
Aku memang bersama Haidar, tapi mereka tidak pernah tau jika hatiku menatap orang lain. Namun Haidar tau itu.
Yah. Layaknya pasir dan langit. Mungkin pasir memang berada di samping laut, tapi ia tengah menatap langit. Mereka tidak akan pernah bisa bertemu kecuali salah satu dari mereka bergerak. Entah pasir yang menunggu diterbangkan angin ke langit, ataukah langit yang turun dan menghampiri pasir. Jika tidak, mereka hanya akan terus menatap tanpa tau rasa dan rindu masing-masing. Selama yang mereka bisa.

Nur Jannah, S

051217

0 komentar:

Menyindirmu, Bulan

Hasil gambar untuk gambar bulan malam
Bulan…
Kau tau saat ini aku tengah menatapmu sinis?
Kau pamerkan terangmu hingga memakan temaram, itu baik.
Namun, sadarkah jika kau telah menyisihkan bintang-bintang disampingmu agar hanya dirimu saja yang tampak?
Banyak sekali mulut yang menyanjung terangmu, dan kau berbangga?
Padahal cahyamu hanya biasan dari mentari di belahan seberang dan bintang-bintang yang kau jarakkan.
Kau angkuh sekali bulan.
Mungkin telah banyak mata yang terlena dan mengagumimu, tapi tidak termasuk aku.
Dirimu tak ubahnya hanya sebongkah materi yang dapat menyerap cahaya.
Layaknya manusia yang hanya sebongkah tanah, namun dengan kepala penuh kelicikan.

Seharusnya kau segera bangun dan tersadar.
Sebelum tatapanku semakin tajam.

Nur Jannah, S
Subuh, 051217

0 komentar: